Kamis, 02 Februari 2017

LEBIH BAIK TIDAK SAMA SEKALI



2 Februari 2017
Di waktu kecil ku sangat suka menatap langit, ku berimajinasi tentang suatu bentuk dengan awan, ku pandangi awan putih yang sedikit demi sedikit bergerak, kadang mirip kelinci tapi kalau sudah bergerak bisa berubah seperti ayam dan sebagainya, di bergerak bukan karena dia ingin meninggalkan tempatnya namun angin yang mengajaknya berpindah menyusuri bumi, menjadi perantara rezeki dari yang Maha kaya. Awan tak pernah lelah ataupun marah kepada angin yang selalu mendorongnya karena dia tau dia saat dinanti oleh seluruh makhluk di bumi, dan dia yang mengoreskan senyum di pipi para petani.
Kini aku pun telah dewasa, ku bosan berimajinasi dengan awan aku lebih suka membayangkan kematian saat melihat langit yang tertutup awan, mungkinkah aku berada di tempat terindah bernama surga lalu menengadah ke atas melihat wajah sang pencipta. Ini adalah salah satu kenikmatan yang disediakan Allah ta’ala bagi orang mukmin di dalam surga adalah mereka dapat memandang wajah Allah yang mulia. Allah Ta’ala berfirman,

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ وَلا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلا ذِلَّةٌ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Yunus: 26)

Kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, “Bagi mereka yang baik dalam beribadah kepada Allah adalah husna, yaitu mendapat balasan surga, juga mendapat ziyadah yaitu melihat wajah Allah yang mulia dan mendengar Allah Ta’ala berbicara, mendapatkan ridho-Nya serta meraih kegembiraan dengan berada di dekat Allah.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 339)

Dalam ayat lain Allah Ta’ala juga berfirman,
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
Muka mereka (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnya mereka melihat.” (QS. Al-Qiyamah: 22-23)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya terhadap ayat di atas menjelaskan, “Orang mukmin akan melihat Rabbnya secara nyata dengan mata kepala mereka, hal ini sebagaimana terdapat dalam hadist riwayat Bukharirahimahullah, ‘Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian dengan mata kalian sendiri.’ (HR. Bukhari no. 485).

Dan telah jelas bahwa orang mukmin akan melihat Rabbnya kelak di akhirat dalam hadist shohih yangmutawatir yang tidak mungkin lagi tertolak dari Abu Sa’id radhiallahu’anhu dan Abu Hurairahradhiallahu’anhu, seseorang bertanya, ‘Yaa Rasulullah, apakah kami akan melihat Rabb kami di hari kiamat kelak? Rasulullah menjawab, ‘Apakah membahayakan kalian ketika kalian melihat matahari dan bulan…….? Ia menjawab,’Tidak’. ‘Demikianlah kalian akan melihat Rabb kalian.”
Dari Jarir bin Abdillah al-Bajali radhiallahu’anhu, beliau berkata, “Kami sedang duduk bersama Rasulullah shalallahu’alaihi wa salam saat beliau melihat bulan di malam badar, beliau shalallhu’alaihi wa salam bersabda,
إِنكم سترون ربكم كما ترون هذا القمر لا تضامون في رؤْيتهِ ، فإِن استطعتم أن لا تغلبوا على صلاة قبل طلوع الشمسِ وقبل غروبها فافعلوا
Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian seperti kalian melihat bulan ini, tidak membahayakan kalian saat melihatnya. Jika kalian mampu untuk tidak meninggalkan sholat sebelum terbit dan terbenamnya matahari maka lakukanlah” (HR. Bukhari no. 554 dan Muslim no. 632).

Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa salam membaca ayat,
وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا
Dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya.” (QS. Thaha: 130)

Dari seorang sahabat yang mulia, Shuhaib bin Sinan radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika penghuni surga telah masuk surga, Allah ta’ala berfirman: “Apakah kalian mau tambahan nikmat (dari kenikmatan surga yang telah kalian peroleh)? Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Dan Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka? Kemudian Allah singkap hijab (penutup wajahNya yang mulia), dan mereka mengatakan,

فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنْ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزٌّ
Tidak ada satupun kenikmatan yang lebih kami cintai dari memandang wajah Allah Ta’ala.” (HR. Muslim no. 181).

Rasulullah mengajarkan doa memohon kenikmatan memandang wajah Allah
اللهم بعلمك الغيب وقدرتك على الخلق أحيني ما علمت الحياة خيرا لي وتوفني إذا علمت الوفاة خيرا لي اللهم وأسألك خشيتك يعني في الغيب والشهادة وأسألك كلمة الحكم في الرضى والغضب وأسألك القصد في الفقر والغنى وأسألك نعيما لا يبيد وأسألك قرة عين لا تنقطع وأسألك الرضى بعد القضاء وأسألك برد العيش بعد الموت وأسألك لذة النظر إلى وجهك والشوق إلى لقائك في غير ضراء مضرة ولا فتنة مضلة اللهم زينا بزينة الإيمان واجعلنا هداة مهتدين
Ya Allah, dengan pengetahuan-Mu terhadap yang ghaib dan kekuasaan-Mu atas semua makhluk, hidupkanah aku selama Engkau tahu kehidupan itu lebih baik bagi ku, dan matikanlah aku jika Engkau tahu kematian itu lebih baik bagiku. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon rasa takut kepadaMu di saat sendiri maupun dalam keadaan terang-terangan, aku memohon perkataan yang benar dalam keadaan baik maupun marah, aku memohon kesederhanaan, baik dalam keadaan fakir maupun kaya, aku memohon kenikmatan yang tak akan habis, dan aku memohon penyejuk hati yang tak pernah berakhir. Aku memohon keridhoan atas ketetapanMu, aku memohon ketentraman setelah kematian, dan aku memohon kenikmatan memandang wajah-Mu, dan kerinduan bertemu dengan-Mu, bukan dalam kesusahan yang mebinasakan dan cobaan yang menyesatkan. Ya Allah, hiasilah kami dengan hiasan iman dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang memberi dan diberi petunjuk.” (HR. An-Nasai, Ahmad dan lainnya).

Rasanya aku tak pantas berada di sana, namun aku takut jika harus di neraka. Detik, menit, jam serta hari yang ku lewati di dunia ini tak kekal abadi, semua sementara, aku akan diminta pertangungjawaban atas semua yang ku lakukan di dunia, tak akan ada detik yang terlewat kecuali Allah menghisabnya. Oleh sebab itu aku berusaha menjadikan hidup yang sekali ini menjadi berarti.

 Ku mulai teringat saatku mendapat tugas dari organisasi untuk mewawancarai sesosok wanita sederhana namun luar biasa, ketua jurusan jabatannya, lulusan Magister dari autralia, kuliah sambil bekerja, sempat kerja di malasyia namun tak lupa dengan keluarga, dan yang utama selalu terlihat sederhana. Aku tak ingin fokus dengan kepribadiannya karena terlalu banyak sesuatu yang luar biasa dari dalam dirinya namun aku lebih focus pada pesannya untuk kita semua “Lakukan dengan hati atau tidak sama sekali” kalimat ini cukup menohok, dapat menjadi alasan atas segala kesuksesannya. Beliau tak pernah berpikir akan menjadi seorang  ketua jurusan di intitusi pendidikan negeri, yang beliau lakukan hanya melakukan dengan baik segala yang ditugaskan padanya.

Atas izin Allah melalui perantara beliau aku mulai paham arti sebuah pekerjaan atas dasar cinta, jika kita mencintai sesuatu maka apapun yang kita lakukan tidak akan melahirkan keluh kesah, rasa lelah sudah tak terasa, meski hasil tak sesuai harapan namun tak ada kekecewaan karena yang terpenting adalah sebuah kepuasaan saat bisa melakukan usaha dengan seluruh kemampuan.

Bukan berarti kita lakukan semuanya sesuka hati kita, sesuai dengan mood. Jangan, jangan jadi manusia moody, yang mood baik baru bisa melakukan segalanya dengan baik, kalau moodnya gak baik baik kapan berbuatnya kalau begitu. Biarlah kita yang mengatur mood bukan mood yang mengatur kita. Rasa suka bisa timbul dari biasa, rasa cinta tumbuh karena tau adanya kebaikan. Jika ingin menumbuhkan suka pada kebaikan maka biasakan lakukan hal baik, maka yang buruk akan terasa aneh dan tak menyenangkan.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.”
(HR. Muslim)
[Muslim: 47-Kitab Al Qodar, An Nawawi –rahimahullah- membawakan hadits ini dalam Bab “Iman dan Tunduk pada Takdir”]
Sumber : https://rumaysho.com/691-tetap-semangat-dalam-hal-yang-bermanfaat197.html

Aku selalu dibuat kagum dengan segala aturan dalam agam islam ini, tak ada hal kecil yang terlewatkan untuk dibahas apalagi hal besar, semua solusi dari masalah hidup ada di al-qur’an, hanya kita sering lupa dengan pedoman kita ini.
Bagaimana tau sesuatu itu bermanfaat atau tidak? Jika Sesuatu tersebut dapat mendekatkan kita dengan sang pencipta itu berarti bermanfaat maka lakukan itu dengan rutin dan maksimal atas dasar taqwa, ini lah cinta yang sesungguhnya. Bukan soal moody, saat kita paham ada pahala di suatu kegiatan maka tidak akan kita sia siakan kesempatan untuk mendapatnya. Meski lelah menerpa, namun hati tenang karena lelah akan hilang esok hari namun pahalanya aka nada sepanjang hari. Sedangkan jika sesuatu itu menjauhkan dari sang pencita meski tampak baik di mata manusia maka tinggalkanlah juga atas dasar taqwa karna terdapat pahala juga di dalamnya. Selamat berusaha namun jangan pernah kecewa atas hasil yang ada. Dalam usaha yang ikhlas ada pahala namun pada hasil yang dimata manusia sempurna belum tentu dapat mendekatkan dengan Sang Pencipta.

Rabu, 01 Februari 2017

MEMOHON TANPA MENGELUH

1 Februari 2017

Hujan membuat orang tak ingin berpergian, hujan pula membuat orang malas melakukan kegiatan, padahal hujan adalah suatu keberkahan. Aku adalah salah satu manusia yang dulu sering sekali mengeluh saat hujan turun bahkan aku mencela hujan yang selalu diam saat kebanyakan orang membenci kehadirannya. Saat semua rencana telah dibuat dan persiapan pun telah matang, hujan mehancurkan segalanya itu keluh kesahku dulu saat hujan turun dan menghambat kelancaran kegitan yang telah direncanakan
Kini sedikit demi sedikit Allah ingin memahamkan kepadaku bahwa semua yang ku lakukan itu salah. Allah lebih tau apa yang terbaik untuk kita disbanding diri kita sendiri. Secara logika saja ya, jika motormu dengan merk ***** rusak, akan kah kau membawanya ke bengkel dengan merk lain? Tentu tidak kan, karena kamu tau bahwa yang menciptakan motor tersebut lebih tau masalah dan solusi yang ada pada motor tersebut, begitu pula Allah yang menciptakan kita dan seluruh ala mini, Dia lebih tau masalah dan solusi alam ini.

Allah Ta’ala pun telah berfirman,
و عسى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وهُوَ خَيْرٌ لكَمْ وَعَسى أَنْ تُحِبُّوْا شَيْئا وهو شرٌّ لكم واللهُ يعلمُ وأَنْتُمْ لا تَعْلمُوْنَ
Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216)

 Selain itu alasanku untuk tidak membenci hujan karena waktu hujan adalah waktu mutajab untuk berdo’a, jadi semakin sering hujan atau semakin lama hujan berarti semakin banyak kesempatan do’a untuk dikabulkan. Mulai saat ini aku mulai menyukai hujan dan mengurangi hujatan tentang hujan, dan yang tak kalah penting hujan bukan alasan untuk bermalas malasan, kita tidur karena kita mengantuk bukan karena hujan, kurangi tidurmu karena setelah meninggal kau akan tidur dalam waktu yang lama untuk menunggu kiamat. Namun tetap saja aku adalah manusia biasa yang terkadang masih sulit menerima takdir yang Allah berikan

Pagi itu langit tampak gelap, sinar matahari bersembunyi dibalik awan hitam yang telihat lelah membawa air dan ingin segera menurunkannya. Hal tersebut tak mempengaruhi rutinitas rumah ini, ya rumah yang dulu sempat ku tebengi, rumah yang menjadi tempat berteduh saat aku harus angkat kaki dari asrama, rumah yang selalu menemani saat ku sendiri menunggu acara impian yang sering disebut wisuda, anggota keluarga di rumah ini sibuk dengan aktivitasnya masing masing, seorang ibu menyiapkan beberapa gelas seduhan teh dan tak kopi, serta sarapan untukku dan anaknya yang masih sekolah dasar, hanya kami berdua yang sarapan di rumah ini. Kamar mandi 1 untuk bergantian tapi tak ada yang berebutan karena mereka tau siapa yang harus didahulukan, yaitu si anak yang harus segera berangkat sekolah. Lalu ibunya yang berkerja sebagai guru TK, barulah ayahnya yang akan menjajakan barang dagangan ke pasar. Sedangkan aku nanti nanti saja karena aku mengigil jika mandi terlalu pagi di sini, hawa di sini cukup dingin
Sebelum berangkat mabakku yang berperan sebagai istri dan seorang ibu di rumah ini, memintaku untuk pulang ke jogja menunggu beliau pulang dari kerja, mungkin sekitar ba’da dzuhur.  Aku pun di rumah sendiri lagi, aku tak sedih dengan kondisi ini karena aku terlalu betah untuk tetap di rumah. Seperti biasa benang dan hakpen jadi teman setia dalam kesendirian, merajut sambil menatap jendela yang mulai tampak rintik air hujan turun dengan berlahan, semakin lama semakin kencang disertai angin yang membuat hujan semakin lebat terasa. Aku harap ini tak akan lama dan akan berhenti saat waktuku untuk pulang ke jogja, bukan aku menolak keberkahan hujan tapi aku takut berkendara saat hujan, namun jika ku tak pulang ke jogja adikku sudah menungguku di sana. Aku hanya berharap yang terbaik saja.
Hingga seluruh keluarga pulang hujan tak kunjung berhenti meski tadi sempat berkurang namun kini semakin kencang.

Ku jadi ingat satu hal, ku buka sebuah buku do’a dan witir (Hisnul Muslim), ku telursuri daftar isi, satu demi satu judul do’a ku baca hingga ku temukan sebuah Do’a agar hujan berhenti. Sempat heran dengan do’a ini, bukan kah hujan itu berkah kenapa ada do’a agar hujan berhenti, ini berarti menolak rezeki, tapi tekatku semakin bulat saat pandanganku tertuju pada jendela yang mengarahkan penglihatanku ke hujan yang semakin lebat di luar rumah. Ku baca dengan penuh harapan, karena aku tak pandai berbahasa arab saat membaca do’a ya aku hanya berharap hujan berhenti dan aku bisa perjalanan ke jogja. Do’a selesai ku baca, ku penasaran dengan terjemahan do’a dalam bahasa Indonesia
"Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turunkanlah hujan di dataran tinggi dan lokasi gersang serta do perut lembah dan tempat tempat tumbuhnya pepohonan"
Air mata tak terbendung, mata mulai berkaca kaca. Alangkah indah do’a yang kekasih Allah, nabi Muhammad, yang Rasul kita minta bukan hujan berhenti begitu saja, tapi memohon agar hujan itu bermanfaat, tidak membahayakan serta memohon agar hujan itu diberikan untuk yang membutuhkan. Aku tidak pernah terpikir memohon hujan berhenti dengan kata kata super duper indah dan halus seperti ini. Tanpa tuntunan rasulullah mungkin aku akan mengatakan “Ya Allah semoga hujannya berhenti, aku mau pergi ya Allah”. Bukan berarti do’a itu dibatasi ya, namun jika bisa kita gunakan do’a yang rasulullah ajarkan dengan penyusunan kosa kata yang halus kemungkinan besar do’a kita akan lebih cepat terkabulakan. Apakah sama respon orangtua yang dimintain mainan anaknya secara paksa dengan yang secara lembut? Tentu orangtua akan lebih mudah memberikan sesuatu kepada anak yang secara lembut memintanya. Tetapi ingat Allah tidak bisa dibandingkan dengan ciptaannya, seperti computer yang tak akan pernah sebanding dengan manusia yang membuatnya
Manusia mana yang suka dimintai pertolongan setiap saat? Pasti tidak ada kalaupun ada itu di zaman Rasulullah. Berbeda dengan Allah yang saat mencintai hamba-Nya yang memohon kepada Nya, ini bukti bahwa kita mahkluk lemah, kita butuh Allah, bukan Allah yang butuh pujian dan do’a kita. Kita tidak berdo’a tidak akan mengurangi kemuliaan Allah. Pesan dari sahabat "Aku tidak takut doaku ditolak, tapi yang aku lebih takutkan aku tidak diberi hidayah untuk terus berdoa." [Umar bin Khattab]



Wallahu 'alam

Sabtu, 12 November 2016

MOTIVASI DARI AIR

Air adalah senyawa yang penting bagi semua bentuk kehidupan yang diketahui sampai saat ini di Bumi, tetapi tidak di planet lain. Air menutupi hampir 71% permukaan Bumi. Terdapat 1,4 triliun kilometer kubik (330 juta mil³) tersedia di Bumi. Air sebagian besar terdapat di laut (air asin) dan pada lapisan-lapisan es (di kutub dan puncak-puncak gunung), akan tetapi juga dapat hadir sebagai awan, hujan, sungai, muka air tawar, danau, uap air, dan lautan es. Air dalam objek-objek tersebut bergerak mengikuti suatu siklus air, yaitu: melalui penguapan, hujan, dan aliran air di atas permukaan tanah (runoff, meliputi mata air, sungai, muara) menuju laut. Air bersih penting bagi kehidupan manusia (Wikipedia)

Sebelum para ilmuan dapat menjelaskan siklus air tersebut, Allah sudah terlebih dahulu menjelaskannya dalam [Q.S  An-Nur : 43]
 
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُزْجِي سَحَابًا ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهُ ثُمَّ يَجْعَلُهُ رُكَامًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ جِبَالٍ فِيهَا مِنْ بَرَدٍ فَيُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَصْرِفُهُ عَنْ مَنْ يَشَاءُ ۖ يَكَادُ سَنَا بَرْقِهِ يَذْهَبُ بِالْأَبْصَارِ


Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian) nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan

Jenis Jenis Air dalam Fiqih
a. Thohur (Suci mensucikan)
    contoh : Air laut, sumur, mata air, sungai, salju, danau, hujan
b. Thohir (Suci, tidak mensucikan)
    Kehilangan sifat murninya (tidak berbau, tidak berasa dan  tidak berwarna)
    contoh : Air kelapa, air sirup, air teh, air kopi
c. Najis (Tidak boleh dipakai bersuci)
    contoh : air kencing, air terkena najis

Keajaiban Air

Rabu, 09 November 2016

ADAB-ADAB GURU dan PARA PENUNTUT ILMU

Pembahasan ini dikutip dari apa yang ditulis oleh Syaikh Ali bin Muhammad yang terkenal dengan sebutan Adh-Dhabba' Al-Mishri, dalam kitab beliau yang berjudul "Fathul Karim Al-Mannan Fii Adabi Hamalatil Qur'an", uraian secara singkat sebagai berikut :

Seorang guru tunanetra mengajari membaca muridnya yang juga tunanetra


Diantara adab-adab seorang mu'alim (guru/pengajar) adalah
  1. Hendaknya dia adalah seorang muslim yang telah baligh, berakal, tsiqah, terpercaya, sangat dhibat (kuat hapalannya), terhindar dari segala tuduhan, dan fasiq dari perbuatan yang akan menjatuhkan harga diri
  2. Ia mengikhlaskan niatnya hanya untuk mencari ridho Allah semata, bukan untuk mencari dunia, pujian manusia, kedudukan, atau pangkat dari ilmu yang dimilikinya
  3. Tidak boleh tamak terhadap apa yang diperbolehkan dari ilmu yang disampaikannya, baik berupa harta atau penghormatan meskipun hanya sedikit
  4. Tidak diperbolehkan mengambil upah dari ilmu yang diajarkannya, kecuali ilmu qira'ah/tajwid. (catatan para ulama berselisih pendapat tentang hukum menerima upah dari mengajarkan agama. namun, pendapat jumhur memperbolehkan menerima upah yang diberikan jika bukan atas keinginan sang mu'allim dan tidak mesyaratkan upah atas pekerjaannya itu)
  5. Hendaknya ia menghiasi dirinya dengan akhlak  yang mulia dan terpuji, yaitu zuhud terhadap dunia dan mengambil sedikit bagian darinya, tidak terlalu ambil peduli dengan dunia dan ahlinya. Ia juga senantiasa memiliki sikap lemah lembut dan bermanis muka, menzalimi sifat wara' dan khusyu', tenang dan beribawa, tawadhu' dan rendah hati serta membersihkan dirinya dari penyakit riya', hasad, dengki, ghibah, mencela selainnya meskipun yang dicela lebih hina darinya. ia juga menghindari sikap ujub dan sombong, demikian pula banyak bergurau
  6. Hendaknya ia menghiasi pandangannya dengan tidak menoleh kecuali karena suatu kebutuhan, demikian juga tangannya tidak digunakan karena suatu kebutuhan juga
  7. Hendaknya ia komitmen dengan kewajianan syar'i berikut sunnah-suhnnahnya, yaitu mencukur kumis, memanjangkan jenggotnya, memotong kukunya dan amalan-amalan lainnya (menjaga sunnah-sunnah fitrah)
  8. Hendaknya bersikap tenang dan selalu mentadabburi ayat-ayat Al-Qur'an, mengosongkan hatinya dari segala sesuatu yang akan menyibukan dirinya, kecuali jika hal itu diperlukan. seperti menunjukan kepada murid yang sedang membaca sesuatu dengan memukul tangannya ke tanah, atau memberi isyarat dengan kepalanya terhadap apa-apa yang terlewatkan oleh muridnya. Hendaknya ia juga bersabar atas muridnya, sehingga sang murid mengingat apa yang terlupa darinya, atau ia mengingatkan apa yang dilupakan oleh sang murid
  9. Hendaknya mengenakan pakaian yang paling baik yaitu yang berwarna putih dan bersih, ia harus menghindari berbagai corak pakaian terlarang yang mengandung unsur tasyabuh dan tidak layak dipakai oleh seorang guru
  10. Hendaknya selalu muraqabah terhadap Allah baik dalam keadaaan tersembunyi maupun terang-terangan dan ia harus menyerahkan segalanya kepada Allah
  11. Jika ia telah sampai pada majelisnya, hendaknya menunaikan shalat dua raka'at, lebih dianjurkan lagi jika majelisnya itu berada di dalam masjid
  12. Hendaknya ia memperluas majelisnya agar para hadirin yang mendengarkan upacaranya dapat leluasa, ia harus selalu ceria dan bermuka manis, menanyakan tentang keadaan murid-muridnya dan juga mereka yang tidak hadir dalam majelis tersebut
  13. Hendaknya ia selalu menekankan dan menganjurkan agar murid-muridnya rajin dan selalu bersungguh-sungguh dalam thalabul 'ilmi, mengingatkan akan keutamaan menyibukan diri dalam membaca Al-Qur'a dan ilmu-ilmu syari'at. semua itu dengan tujuan agar para murid memiliki semangat dan kesungguhan dalam menuntut ilmu
  14. Seorang mu'allim juga harus menekankan kepada muridnya untuk bersikap zuhud kepada oranglain bersikap zuhud kepada dunia dan memalingkan mereka untuk tidak tunduk kepada dunia serta menjauhkan mereka dari segala kemewahan
  15. Seorang mu'allim juga harus bersabar terhadap sikap yang kurang baik bagi murid-muridnya
  16. Seorang mu'allim harus menekankan keikhlasan murid-muridnya dalam segala amal perbuatan, serta selalu muraqaba kepada Allah, segala amal perbuatan, bersikap jujur dan benar dalam segala tinfakan, serta selalu muraqabah kepada Allah atas setiap pekerjan

Diantara adab seorang murid (penuntut ilmu) adalah
  • Semua sikap terpuji yang harus dimiliki oleh guru seharusnya juga dimiliki oleh seorang murid
  • Hendaknya ia benar-benar memanfaatkan waktunya untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya
  • Hendaknya ia memilih guru yang benar-benar ahli dalam bidangnya, mumpuni ilmu agamanya dan diakui keilmuannya
  • Hendaknya ia membersihkan diri dan jiwanya dari segala kotoran hati agar dengan mudah ia menerima Al-Qur'an, menghapalnya dan mengembangkannya
  • Hendaknya ia bersungguh-sungguh dalam belajar, rakus terhadap ilmu dan memanfaatkan seluruh waktunya untuk hal itu
  • Hendaknya ia tidak merasa cukup dengan ilmu yang sedikit yang ia peroleh, namun jangan juga membebani dirinya untuk mempelajari sebuah ilmu yang justru akan membosankannya atau menghilangkan ilmu lainnya yang telah dikuasainya
  • Hendaknya ia menjaga hapalannya, dan jangan merasa sombong dengan keberhasilan ilmu yang diraihnya, juga jangan merasa dengki dengan keberhasilan yang dicapai oleh murid lainnya
  • Seorang murid hendaknya memandang wajah gurunya dengan pandangan penuh hormat, ia juga harus meyakini akan kemahiran dan keilmuan yang dimiliki oleh gurunya, karena hal itu akan mengantarkan dirinya untuk dapat mengambil manfaat dari apa yang disampaikan dan memudahkan baginya untuk mencerna ilmu yang didapatnya
  • Seorang murid harus selalu hormat dan beradab serta mengagungkan dan bersikap tawadhu' dihadapan gurunya, meskipun orang yang mengajarkannya lebih muda usianya atau lebih rendah nasab keturunannya
  • Ia tidak boleh merasa kenyang (pandai) karena sepanjang waktu menemaninya, namun ia harus tetap mengikutinya dan bermusyawarah dalam setiap urusannya, menerima ucapannya dan pada saat duduk dihadapannya, maka duduklah layaknya duduk seorang murid bukan duduknya seorang guru
  • Jangan masuk rumah guru untuk menemuinya kecuali dengan meminta izin sebelumnya, engkau menunjuknya dengan jari tangannya dan hendaknya tetap mendahulukan ridhanya meski tidak sesuai dengan inginan hati murid
  • Jangan menyebarkan rahasianya, jika murid menemukan kekurangan pada gurunya, maka jadilah seolah-olah murid lah yang belum paham akan perkataannya dan jangan sekali-kali murid membanding-bandingkan dirinya dengan guru-guru lainnya. Jangan pula mengatakan bahwa si fulan telah menyelisihi ucapan guru tersebut. Murid juga harus menolak orang mengghibahnya jika mampu
  • Jangan sekali kali duduk di tengah-tengah lingkaran majelis, kecuali karena darurat. jangan pula duduk diantara dua orang kecuali jika orang tersebut mengizinkan
  • Jika mau duduk, hendaknya ia memperluas majelisnya dan beradab terhadap kawannya serta orang-orang yang hadir dalam majelis gurunya
  • Janganlah seorang murid mengangkat suara terlalu melengking, dan jangan sampai orang yang mendengar ucapannya menertawakannya, jangan terlalu banyak bicara kecuali karena kebutuhan
  • Janganlah ia menengok ke kanan dan kekiri tapa suatu keperluan namun hendaknya ia menghadapkan wajahnya kepada sang guru dan memperlihatkan semua icapannya dengan penuh seksama
  • Janganlah seorang murid memaksa gurnya untuk mendengarkan bacaannya atau menjawab pertanyaannya pada saat sang guru sedang malas untuk ditemui, atau dalam kondisi sibuk. demikian pula ketika mereka dalam keadaan lapar dan haus, gelisah dan sedih dan keadaan yang serupa yang semua itu akan menyusahkan gurunya.

Dari Abdullah bin Amru bin Ash ia berkata, "Rasulullah bersabda :
"Bukan termasuk golongan kami, orang yang tidak menyayangi orangmuda (anak kecil) diantara kami dan tidak menghargai kemuliaan orang tua (termasuk ulama) diantara kami"
Dari Abu Musa Al-Asy'ari, ia berkata, "Rasulullah bersabda :
"Diantara wujud mengagungkan Allah adalah menghormati orangtua muslim yang telah beruban, memuliakan penghapal Al-Qur'an (ulama) yang tidak keterlaluan maupun tidak meremehkan dalam mengamalkan Al-Qur'an dan menghormati penguasa muslim yang adil"

Adab guru dan murid ini harus dipelihara, agar ilmu yang dipelajari dan diajarkan berkah dan mendatangkan ridho Allah. Seorang guru (apalagi murid) hendaknya tidak pernah merasa puas dalam menuntut ilmu. Sebagaimana Rasulullah senantiasa berdo'a kepada Allah
"Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan" ( QS. Thaha [20] : 114)

Ketekunan mencari ilmu dan menjaga adab-adabnya telah dicontohkan oleh nabi Musa yang rela belajar kepada Khidir, yang tingkat kenabiannya dan keilmuannya sebenarnya di bawah nabi Musa dan nabi Musa toh tidak malu belajar kepada khidir
Musa berkata kepada khidir :"bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar diantaea ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadaku?" (QS. AL-KAHFI [18] : 66)
Nabi Musa juga menegaskan kesiapannya untuk sabar dan taat terhadap peraturan guru barunya tersebut :
Musa berkata : "Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak menentangmu dalam sesuatu urusan pun" (QS. Al-Kahfi [18] : 69)

Sumber : Abu Ammar dan Abu Fatiah Al-Adnani. 2015. "Mirzanul Muslim 1" Sukoharjo : Cordova Mediatama 

Sabtu, 29 Oktober 2016

FAKTA UNIK tentang UTS

Kini aku kuliah D4 kebidanan alih jenjang, aku harus mulai menyesuaikan diri karena dulu aku kuliah D3 bukan di tempat kuliahku sekarang ini. Lingkungan baru, dosen baru dan teman baru semoga menjadi semangat yang baru untukku. Dan ini bukan kali pertamaku mengikuti UTS (Ujian Tengah Semester) dulu waktu aku SD sampai SMA namanya mid semester, baru ketika kuliah di jawa aku tau istilah UTS ini. UTS kali ini memberi banyak pelajaran untukku dan berikut beberapa fakta unik tentang UTS kali ini menurutku "sebut saja aku Majidah"

1. SKS menjadi sistem belajar favorit mahasiswa

Yang pernah mendapat gelar mahasiswa pasti sudah tak asing lagi dengan istilah SKS (Sistem Kebut Semalam). Sistem ini hanya aku temui di bangku kuliah, dulu waktu di bangku sekolah aku sering banget dikasih Pekerjaan Rumah dan latihan soal tiap hari, secara tidak langsung ketika mengerjakannya aku sudah belajar, dan waktu sekolah materinya tak sebanyak kuliah sehingga waktu sekolah saat ujian kita belajar tidak sampai semalam suntuk, cukup menghafal yang intinya saja atau bahkan aku pernah gak belajar waktu sekolah. Namun beda cerita kalau aku  sudah bergelar MAHA siswa, dengan materi yang tidak nanggung nanggung banyaknya, kuliah full jamnya, tugas dikerjakan tinggal copy paste saja, organisasi banyak kegiatannya membuat tak ada waktu mengulang materi kuliahnya, sehingga SKS menjadi pilihannya. Sistem ini menurutku sangat menyiksa dan memaksa tubuh karena selama 5 hari mata selalu terjaga untuk membaca materi yang belum tentu dimengerti dalam semalam, namun paling tidak sempat dibaca semua, itu sudah cukup membuat tenang dan bahagia. Setelah UTS timbul lelah, lemas, lunglai sehingga aku ingin mencoba meninggalakn sistem ini.

Di semester 1 dan 2 aku sempat sekamar dengan teman yang menjadi mahasiswa terbaik di jurusan saat wisuda D3. Aku amati caranya belajarnya, membacanya bukan sekedar membaca tapi memahami, belajarnya bukan hanya dari dosen saja, tapi dari berbagai sumber dan  dia memang suka bidang kesehatan makanya dia semangat. Aku pun tidak begitu bisa mengikutinya karena aku dari kecil lebih suka bermain rumus menghitung dan sempat menolak kuliah di kebidanan. Al hasil belajar tanpa rasa suka dan bahagia tidak menghasilkan hal yang luar biasa. Aku pun pernah belajar seminggu sebelum UTS namun hasilnya apa? ketika ujian aku males belajar dengan alibi "kan kemarin sudah belajar" aku belajar dengan apa adanya dan hasil ujian pun apadanya. Selain itu semakin banyak membaca dan menhafal tanpa memahami membuat materi satu dengan yang lain sering tertukar. Semenjak itu aku pilih sistem SKS kembali. Dalam hati ingin mengubah kebiasaan diri karena aku tak ingin ujian hanya untuk mencari nilai yang tinggi, aku ingin memahami materi agar menjadi manusia yang bermanfaat bagi masyarakat dan negeri, namun hingga wisuda D3 aku tetap setia dengan SKS, namun aku ada yang perlu disyukuri adalah aku mulai mencintai profesi ini.

Sedangkan saat aku kuliah D4 kebidanan ini, aku mulai memperbaiki diri kembali, merubah cara belajarku, ini bukan hanya tentang SKS tapi tentang menghargai guru / dosen / ustadz saat menuntut ilmu (Adab murid kepada guru dipostingan selanjutnya saja ya). Pada intinya ketika kuliah fokus saja kuliah, pesan dari salah satu temanku dan katanya pesan itu dia dapat dari dosennya, dai berkata "Hargai siapapun orang yang berbicara di depanmu, karena apa yang ada pada diri orang tersebut belum tentu ada pada oranglain, setiap orang punya cara sendiri untuk menyampaikan sesuatu". Bagaimana kita berharap memahami pelajaran kuliah jika kita medengarkan dosen saja sambil bermain HP, sambil tidur,  ngobrol dengan sebelahnya, ini seperti berharap kenyang tapi malas menguyah makanan, kan impossible. Selain itu sepulang kuliah sempatkan waktu untuk mempelajari materi yang tadi disampaikan dosen, sedangkan pagi hari sebelum berangkat baca materi yang dulu untuk mata pelajaran hari tersebut. Hal itu yang sering dinasehatkan oleh para orangtua pada anaknya. Aku sangat yakin jika kita bisa melaksanakan hal tersebut kita pasti menguasai materi kuliahm, tapi menjalankan seperti itu butuh paksaan dan kebiasaan, ini sangat sulit jika belum menjadi aktivitas rutin. Oleh sebab itu dibiasakan, lakukan hal tersebut selama 40 hari maka itu akan jadi kebiasaan, jika 1 hari kita lalai atau tidak melakukannya maka hitungannya kembali ke hari pertama. Jika malas menerpa ingat hakikat kita hidup di dunia hanya sementara? Akan-kah selamanya kita jadi orang yang biasa biasa saja atau bahkan orang yang luar biasa buruknya, Jatah umur kita berapa sih? tidak ada yang tau kan. Andai hari ini, jam ini dan detik ini merupakan kesempatan terakhir untuk kita berusaha maka apa yang akan kita lakukan? pasti melakukan yang terbaik. Maka saat malas menerpa ingat selalu bahwa ini mungkin kesempatan terakhir kita untuk berusaha.

Aku pun masih seperti manusia pada umumnya, sering lalai dan masih berusaha mencintai kebaikan karena memang secara naluri manusia lebih suka mendekati hal buruk. Dan sedihnya UTS kali ini aku masih setia dengan SKS, karena ada kegitan di luar kuliah yang cukup bermanfaat sehingga sedikit mengurangi waktu luangku, sebenarnya masih ada waktu luang yang lain yang bisa digunakan untuk belajar hanya saja rasa malas dan lelah sering menghampiriku. Meski sama sama SKS sekarang dengan yang duku ada bedanya, kalau dulu aku begadang sampai malam lalu bangun mepet subuh namun kali ini aku tidur mepet waktu isya (setelah isya langsung tidur) lalu bangun lebih awal. Alhamdulillah cara ini lebih efektif karena pikiran kita setelah bangun tidur itu seperti telah di instal ulang, serta belum terkotori oleh pikiran buruk. Hal ini sesuai dengan sunnah Rasulullah yaitu

"Rasulullah Shalalluhualaiwasalam membenci tidur sebelum Isya dan bercakap cakap setelahnya" (HR. Bukhari dan Muslim, dari Abu Barzah)

Sebuah riset terbaru juga telah menunjukan bahwa kurangnya waktu beristirahat pada malam hari dapat memicu resiko penyakit jantung dan stroke. Penelitian para ahli dari Warwick Medical School yang dipublikasikan dalam European Heart Journal menyatakan bahwa tidur kurang dari enam jam setiap malam dapat meningkatkan risiko kematian akibat stoke hingga 15 % dan risiko kematian akibat serangan jantung melonjak hingga 50 %. Francesco Cappuccio, seorang profesor bidang epidemiologi dan pengobatan kardiovaskuler, beserta rekannya Dr. Michelle Miller, pakar ilmu kedokteran, membuat kesimpulan tersebut setelah memantau sekitar 470.000 orang di delapan negara selama kurun waktu 7- 25 tahun. Tren tidur larut malam dan dini hari adalah bom waktu bagi kesehatan kita. Penelitian lain menyebutkan bahwa waktu optimum untuk beristirahat pada malam hari adalah 7-8 jam. sedangkan, tidur lebih dari sembilan jam merupakan pertanda gangguan kesehatan.

Mari katakan putus pada SKS, sudah terbukti sistem ini membunuh kita secara berlahan dan tidak efektif untuk metode belajar, jika memang niat kita kuliah untuk menambah ilmu bukan sekedar lulus dan wisuda.

2. Penyesalan Post UTS yang tidak ada habisnya

Sudah begadang semalaman belajar, capek, ngantuk terus tiba tiba waktu mengerjakan soal pikiran bleng, zonk (soal yang keluar tidak sesuai perkiraan), lalu apa perasaanmu? kecewa, marah, jengkel itu pasti

Ada juga yang tak sempat belajar dengan maksimal dan ketika mengerjakan soal UTS bukan ngebleng lagi tapi bengong gak ngerti apa yang diinginkan dosen melalui soal itu. Berasa perintahnya bukan "pilihlah jawaban yang paling tepat" tetapi "pilihlah jawaban yang paling salah". Penyesalan pun hadir juga pada kondisi ini

Segala kondisi dan perasaan tersebut muncul ketika setelah keluar dari ruang ujian lalu saling bertanya
"eh soal no 3 apa jawabannya?"
"jawabannya B kan ada di handout"
"kan, bener feelingku, tadi aku mau jawab itu tapi ragu, jadi aku ganti D"
"kalau no 7 apa?" .........dan seretusnya ........... Sampai stress mikirinnya, padahal masih ada ujian yang selanjutnya namun pikiran kita masih saja tidak mau move on dari jawaban yang salah di ujian sebelumnya. Bukan berarti kita tidak boleh membahas soal, namun kita tidak boleh menyesal berlebihan, karena penyesalan yang berkelanjutan tidak akan pernah merubah jawaban kita yang sudah dikumpulkan oleh pengawas justru akan menganggu pelajaran selanjutnya.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلا تَعْجِزَنَّ , وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلا تَقُلْ : لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَ كَذَا , وَلَكِنْ قُلْ : قَدَرُ اللهِ وَ مَا شَاءَ فَعَلَ , فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

Bersungguh-sungguhlah dalam hal-hal yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusan), serta janganlah sekali-kali kamu bersikap lemah. Jika kamu tertimpa sesuatu (kegagalan), maka janganlah kamu mengatakan, ‘seandainya aku berbuat demikian, pastilah tidak akan begini atau begitu’. Tetapi katakanlah, ‘ini telah ditakdirkan oleh Allah dan Allah berbuat sesuai dengan apa yang dikehendaki’. Karena sesungguhnya perkataan seandainya akan membuka (pintu) perbuatan setan”. (HR. Muslim no. 2664)

Yang sudah ya sudah, mari kini kita perbaiki diri untuk fokus menjadi pribadi yang lebih baik, jika memang menyesal dengan segala pekerjaan kita maka untuk pekerjaan selanjutnya berusahalah dengan maksimal.

3. Mencontek sudah dianggap biasa

Mulai dari SD hingga SMA aku juga termasuk pelaku mencotek, hal ini sulit dihindarkan. Dilema bukan main ketika tau orang yang mencotek mendapatkan nilai bagus sedangkan aku yang jujur, belajar dan berusaha dengan maksimal justru dapat nilai jelek, itu mungkin alasan beribu ribu orang mencontek termasuk aku. Ketika kuliah kebiasaan itu sulit dihilangkan masih ada rasa ingin mencontek namun alhamdulillah aku dikelilingi orang yang baik, dan aku selalu mendapat posisi terdepan ketika ujian, tidak ada kesempatan mencontek lagi hiingga akhirnya sampai lulus D3 aku sudah mulai terbiasa dengan tidak mencontek.

Keburukan yang dianggap biasa akan menjadi kerusakan, lalu dimanakah letak keburukan mencontek? Mencontek menurutku adalah suatu pencurian pemikiran oranglain, jika orang yang dicontekin tersebut ridho diambil pemikirannya gimana? dua duanya berdosa karena melakukan sesuatu yang dilarang karena mencontek adalah suatu kebohongan.

Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas حفظه الله

عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْد رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ  الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا ، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلَى النَّارِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا


Dari ‘Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga. Dan apabila seorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai pendusta (pembohong).’" Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (I/384); al-Bukhâri (no. 6094) dan dalam kitab al-Adabul Mufrad (no. 386); Muslim (no. 2607 (105)); Abu Dawud (no. 4989); At-Tirmidzi (no. 1971); Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf (VIII/424-425, no. 25991); Ibnu Hibban (no. 272-273-at-Ta’lîqâtul Hisân); Al-Baihaqi (X/196); Al-Baghawi (no. 3574); At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan shahih.”

Sudah jelas kan dalam agama kita dilarang berbohong, makanya jangan mencontek jika ingin masuk surga. Selain itu mencontek yang bersifat membohongi kemampuan diri sendiri akan berdampak buruk di masyarakat, bagaimana mungkin ilmu kita bisa diamalkan jika hasil kemampuan kita yang diukur dari nilai saja merupakan kebohongan. Bisa jadi di masyarakat kita menjadi manusia yang tidak bermanfaat. Terlebih lagi kita seorang tenaga kesehtan jika nilai kita hanya hasil contekan bagaimana kita menangani pasien, mana mungkin kita mencontek saat di depan pasien, ini bahaya lho. Lagi pula aku belum pernah ditanya pasien berapa IPKmu waktu kuliah, bu bidan? Yang terpenting adalah kepahaman kita dalam materi dan aplikasinya bukan hanya sekedar nilai dan aku yakin jika kita pahami, nilai baik otomatis akan menyertai kita.

4. Masalah tak jadi penghambat

Hari pertama UTS mendapat pesan di group WA kelas bahwa seorang teman yang sudah bergelar ibu rumah tangga, suaminya kecelakaan sehingga tidak bisa mengikuti UTS untuk hari. SubhannaAllah ada saja masalah yang hadir di saat seperti ini, jika aku ada di posisi beliau aku tak tau apa yang akan aku rasa kecuali rasa khawatir pada suamiku. kita hanya bisa mendo'akan kebaikan bagi suami ibu tersebut. Hari pertama beliau ndak bisa ikut UTS, setelah bisa hadir di UTS ibu itu bercerita bahwa beliau sempat belajar di RS sambil menunggu suaminya tetap saja tidak bisa konsentrasi, tidak ada materi yang diingatnya. Namun karena beliau sudah memiliki pengalaman insyaAllah soal UTS bisa dikerjakan meski terbatas.

Oh ya aku kuliah di D4 ini sekelas dengan ibu ibu luar biasa, sebagian mereka kuliah sambil bekerja dan belum lagi masih memiliki tangungjawab sebagai ibu rumah tangga. Sungguh rasa kagum tak bisa tersembunyikan ketika melihat mereka belajar dengan semangat pemuda, membuat catatan kecil untuk mengulang materi karena mereka paham bahwa daya ingat mereka sudah tak sebaik saat masa muda dulu. Aku pun malu harusnya aku bisa berusaha lebih baik dari mereka. Terimakasih semangatnya para ibu.

5. Refreshing Post UTS

Ini cerita paling menbahagiakan, kita sekelas kenal belum genap 3 bulan, berasal dari sosial, ekonomi, dan budaya yang berbeda beda bahkan umur pun banyak yang terpaut jauh berbeda. Ada yang fresh graduate dan ada pula yang memiliki pengalaman kerja melebih umur yang fresh graduate, namun kita tampak seperti keluarga yang sudah lama kenal.

Rencana main memang sudah dibuat sejak kita belum mulai kuliah. Alhamdulillah terealisasi setelah UTS. Tak semua bisa ikut tetapi sebagian besar sudah cukup membuat bahagia. Mungkin kita hanya sekedar berfoto foto di hutan pinus lalu dilanjut makan besar di rumah bu nunuk (salah satu teman sekelas kita yang rumahnya dekat hutan pinus) namun hal ini sudah membuat begitu bahgia, canda tawa menyatukan segala keberbedaan. Kelas ini bisa ku sebut keluarga baruku. semoga kita bisa menjalani 1,5 tahun ini bersama dengan baik. amiin

Ini sebagian foto acara kita-kita





Jumat, 21 Oktober 2016

PETUNJUK RASULULLAH ﷺ SAAT MINUM

1. Menbaca Bismilah Sebelum dan Alhamdulillah Sesudah
Membaca bismilah sebelum makan dan minum serta menyebut alhamdulillah seusai makan memiliki pengaruh yang amat menajubkan yaitu memberi manfaat, menolak mudharat dan menambah kenikmatan. Imam Ahmad menegaskan, "kalau makanan memenuhi empat kriteria, maka ia adalah makanan yang sempurna : Bila dibacakan bismillah sebelum disantap, dibacakan alhamdulillah setelah disantap, dimakan oleh banyak orang dan merupakan makanan yang halal"
Diriwayatkan dengan shahih Rasulullah ﷺ bersabda :
"Apabila seorang dari kamu makan, maka sebutlah nama Allah. Bila lupa menyebut nama Allah pada awalnya, maka ucapkanlah : bismillah awwalahu wa akhirahu" (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
 
2. Duduk Saat Minum
Diantara cara minum Rasulullah ﷺ adalah dilakukan dengan duduk. Diriwayatkan dengan shahih bahwa beliau pernah melarang minum sambil berdiri. Diriwayatkan juga dengan shahih bahwa Rasulullah ﷺ pernah memerintahkan orang yang minum sambil berdiri untuk memuntahkan minumannya. Namun juga diriwayatkan dengan shahih bahwa beliau sendiri pernah minum sambil berdiri. Sebagian kalangan menandaskan bahwa riwayat kedua ini me-mansukh-kan riwayat pertama. Segolongan ulama menyatakan bahwa anatara kedua riwayat tidak ada kontra indikasi, karena beliau minum sambil berdiri dalam keadaan mendesak. Beliau mendatangkan air Zamzam, saat orang-orang sedang berusaha mengambil air sumur itu, maka beliau pun ikut mengambilnya. sebagian mereka memberikan air itu kepada beliau, lalu beliau meminumnya dalam keadaan berdiri. sehingga beliau melakukan ini memang saat betul-betul dibutuhkan.
Minum sambil berdiri dapat menimbulkan banyak bahaya, diantaranya : air tidak bisa mengalir secara optimal, tidak bisa bertahan dalam lambung dengan tenang untuk kemudian disirkulasikan oleh liver ke seluruh organ tubuh. Air turun secara langsung ke lambung, dikhawatirkan akan terjadi konfrontasi dengan suhu panas dalam perut dan mengganggu proses pembakaran, terlalu cepat ke bagian bawah tubuh tidak secara betahap.

3. Larangan Minum dengan Sekaligus
Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Jami'-nya dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda : "janganlah kalian minum sekaligus seperti seekor unta, akan tetapi minumlah dua atau tiga kali teguk. Sebutlah nama Allah bila kalian minum. Pujilah Allah selesai kalian minum"
Dalam Shahih Muslim diriwayatkan dari hadist Anas bin Malik, ia menceritakan "Rasulullah ﷺ biasa bernafas saat meminum air sambil berkata :
"Cara itu lebih memuaskan, lebih enak dan lebih sehat"
Arti bahwa Rasulullah ﷺ bernafas saat minum, yakni bahwa beliau menjauhkan sejenak cangkir airnya dari mulutnya, lalu bernafas di luar, baru kemudian meneruskan minumnya, sebagaimana disyariatkan secara tegas dalam hadist lain :
"Apabila salah seorang di antara kalian minum. janganlah bernafas dalam air, tetapi hendaknya jauhkan dulu cangkir minumannya dari mulutnya."
Arti lebih memuaskan, yakni lebih mengeyangkan, lebih memenuhi selera dan menyembuhkan dari sakit dahaga. Air tersebut turun ke lambung beberapa kali. Siraman kedua dapat menutupi kekurangan siraman pertama untuk menenangkan rasa dahaga. Siraman ketiga lebih menyempurnakan lagi siraman kedua. Cara ini lebih selamat untuk menghadapi suhu panas lambung. Rasa haus yang digempur secara frontal tidak akan hilang sama sekali, lain halnya jika digempur dengan perlahan dan bertahap.
Lebih aman karena kemungkinan akibat penggempuran rasa haus secara spontan, yang dikhawatirkan dapat memadamkan proses pembakaran alami karena kuatnya rasa dingin air tersebut, atau setidaknya melemahkan proses tersebut sehingga mengakibatkan rusaknya proses metabolisme pada lambung dan liver dan juga menyebabkan timbulnya berbagai macam penyakit terutama sekali bagi penduduk negeri-negeri panas karena suhu panas alami dalam tubuh pada musim panas amat lemah.
Akibat lain dari kebiasaan meminum sekaligus adalah terjadinya penyumbatan saluran keongkongan akibat terlalu banyaknya air yang masuk sehingga sulit bernafas, namun jika seorang bernafas terlebih dahulu lalu baru meneruskan minumnya, ia akan selamat dari kemungkinan itu. Bahwa saat meneguk minuman pertama kali, uap yang berasal dari jantung dan liver naik ke atas karena masuknya air dingin ke dalam tubuh sehingga uap panas itu secara alami keluar. Kalau seseorang meneguk minumannya secara sekaligus, maka turunnya air dingin itu akan secara bersamaan terjadinya dengan naiknya uap ke atas sehingga saling tolak menolak dan dorong mendorong. itulah yang akhirnya mengakibatkan orang tersedak.
Abdullah bi Al-Mubarak, Al-Baihaqi dan ulama lainnya meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:
"Kalau salah seorang kalian minum, hendaknya ia meneguknya seperti orang menghisap, bukan seperti orang menuang air. Penyakit liver itu diantaranya karena cara minum seperti itu"

4. Larangan Bernafas dalam Gelas
Bernafas di air minum, resikonya adalah menimbulkan bau busuk pada air minum yang tidak disukai oranglain, terutama sekali orang yang bau mulutnya mengalami perubahan buruk. Pokoknya secara umum napas orang yang minum akan tercampur ke dalam air tersebut
oleh sebab itu Rasulullah ﷺ  menggabungkan anatara larangan meniup air dan larangan terhadap bernafas dalam air dalam hadist At-Tirmidzi dan dinyatakan shahih oleh beliau, dari Ibnu Abbas  bahwa beliau menceritakan bahwa rasulullah ﷺ  melarang meniup air dan bernafas dalam air minum.

5. MenutupTempat Minum
Diriwayatkan oleh muslim dalam Shahih-nya dari hadits Jabir bin abdullah, ia menceritakan : aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda :
"Tutuplah bejana dan tutuplah tempat minum, karena dalam satu tahun itu akan ada satu malam dimana wabah penyakit turun. Setiap kali wabah itu mendekati bejana yang tidak bertutup atau tempat minum yang tidak bertutup, pasti akan menaruhkan bibit penyakitnya di tempat tersebut"
Laits bin Saad-salah satu perawi hadist, menyatakan, "Orang - orang ajam di kalangan kami sangat takut terhadap malam itu dalam satu tahun, yakni di bulan Kanun Al-Awwal."
Diriwayatkan dengan shahih bahwa Rasulullah memerintahkan agar bejana itu diberi tutup meski hanya dengan sebatang kayu ranting. Dilintangkannya kayu ranting itu memiliki hikmah tersendiri, yakni untuk membiasakan seseorang untuk tidak lupa menutup bejananya, meski sesekali harus dengan ranting kayu. bisa jadi juga ada seekor lalat yang akan terjatuh, namun akhirnya ia hinggap di ranting tersebut dan tidak jadi jatuh karena ranting itu berfungsi sebagai jembatan baginya.
Diriwayatkan juga dengan shahih dari Rasulullah bahwa beliau pernah memerintahkan menutup bejana dengan membaca bismillah. Karena membaca bismilah saat menutup bejana dapat mengusir setan.

6. Minum Madu dengan Dicampur Air Dingin
Ini termasuk kiat menjaga kesehatan tubuh, yang tidak bisa dicapai oleh pengetahuan para pakar medis. Madu yang diminum dan bercampur air liur, bisa menghilangkan dahak, mencuci lambung dan menghialngkan kotoran yang lengket pada lambung serta mengeyahkan berbagai kotorannya, menghangatkan tubuh agar stabil, menghilangkan bebagai sumbatan pada tubuh serta memperbaiki kondisi liver, ginjal dan kandung kencing. madu lebih baik bagi lambung dibandingkan segala bentuk manis-manisan lainnya. hanya saja madu memang bebahaya bagi orang yang terkena penyakit kuning karena tajam. untuk menetralisirnya bisa dicampur dengan cuka buah, karena dengan cara ini madu kembali menjadi berkhasiat dan berguna sekali.
Minuman yang dikomposisikan antara yang manis dengan yang dingin, khasiatnya amat baik bagi tubuh, bahkan termasuk salah satu kiat terbaik menjaga kesehtan, menjaga stamina, energi tubuh, liver dan jantung. Air merupakan materi kehidupan hewan, tumbuhan tidak terkecuali manusia, tidak diragukan lagi bahwa segala sesuatu yang lebih mendekati suatu materi tubuh akan lebih mudah menjadi makanan baginya. Allah berfirman :
"Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup .." (Al-Anbiya' : 30)
 Air dingin dapat meredam panas dan menjaga kelembaban alami tubuh disamping juga mengganti unsur-unsur tubuh yang hilang, melembutkan makanan dan memberi unsur makanan dapat menembus pembuluh darah. Sedangkan air dingin yang dicampur dengan unsur pemanis seperti madu, kismis, kurma atau gula bisa merubah menjadi berkhasiat untuk tubuh, menjaga kesehatannya. oleh sebab itu minuman yang paling disukai oleh Rasulullah adalah yang dingin dan manis. Air yang tawar hanya mampu memberi reaksi yang berkebalikan dari itu.

7. Air yang sudah didiamkan semalaman
Air yang sudah didiamkan semalaman lebih berkhasiat daripada yang diminum saat didapatkan secara langsung. Saat memasuki kebun Abul Haitsam bin Taihan, beliau bertanya "Ada sisa air yang terdinginkan semalaman dalam ghirbah kulit tidak?" seseorang mengambilkan air itu dan beliau meneguknya, Hadist ini diriwayatkan pula oleh Al-Bukhari dengan lafazh, "Sekiranya kalian memiliki air yang sudah didinginkan semalam dalam ghirbah kulit, kalau tidak, kami akan tenggak langsung dari mulut ghirbah"
Air yang sudah didinginkan semalaman tak ubahnya seperti adonan yang sudah diberi ragi, sementara air yang langsung diminum saat didapatkan tak ubahnya seperti jamur. Disamping itu, berbagai unsur tanah dan bumi memang terpisah dari air bila sudah diendapkan satu malam. Air yang diendapkan dalam ghirbah kulit dan sejenisnya memiliki khasiat yang halus, karena ghirbah kulit memiliki pori pori yang menyebabkan air bisa mersap ke dalamnya sehingga air tersebut lebih enak daripada air dalam keramik dan juga lebih dingin.

Sumber :
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. 2004. Metode Pengobatan Nabi ﷺ. Jakarta : Griya Ilmu
Abu Ammar dan Abu Fatiah Al-Adnani. 2015. Mirzanul Muslim Vol 1. Sukoharjo : Cordova Mediatama

Senin, 17 Oktober 2016

ADAB RASULULLAH ﷺ SAAT MAKAN


1. Cara duduk Rasulullah ﷺ saat makan
Diriwayatkan dengan shahih bahwa Rasulullah ﷺ bersabda :
"Aku tidak akan makan sambil bersandar."
Beliau juga pernah bersabda :
" Sesungguhnya aku duduk sebagaimana layaknya seorang hamba duduk. Aku juga makan sebagaimana seorang hamba makan"
Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya :
"Rasulullah pernah melarang seseorang makan sambil menelungkup"
Arti bersandar dalam hadist di atas di tafsirkan (sebagia ulama) dengan bersila. Ada juga yang menafsirkan, "bersandar pada sesuatu". Ada juga yang menafsirkan bahwa artinya adalah bersandar ke samping. salah satu dari tiga pengertian itu, bersandar ke samping itulah yang berbahaya saat makan, karena bisa menghalangi proses masuknya makanan secara alam dalam kondisi yang wajar sehingga akan sulit mencapai lambung bahkan bisa berakibat menekan lambung sehingga lambung tidak siap menerima makanan. Demikian juga karena posisi tubuh miring dan tidak tegak, makanan tidak akan mudah mencapai lambung.
Adapun dua penafsiran lainnya, termasuk cara duduk orang-orang yang sombong, berkebalikan dengan duduknya seorang hamba. oleh sebab itu. Rasulullah ﷺ bersabda, "aku makan sebagiamana seorang hamba makan." Beliau makan sambil duduk iq'a. diriwayatkan juga bahwa beliau juga pernah susuk dengan tawaruk, di atas kedua lututnya, saat beliau makan, telapak kaki kirinya diletakkan di pungung telapak kaki kanannya. Beliau melakukan itu karena ketawdhuan beliau terhadap Rabbnya, demi menjaga adab di hadapan-Nya, demi menghormati makanan dan orang yang makan bersama beliau. cara duduk beliau itu adalah cara duduk yang paling bermanfaat dan yang terbaik saat makan, karena seluruh organ tubuh berada pada posisinya yang alami sebagaimana diciptakan oleh ALLAH, selain kandungan cara duduk ini terhadap adab-adab yang mulia. Makanan akan terkonsumsi dalam kondisi terbaik seandainya seseorang menyantapnya dalam posisi yang sealami mungkin. Itu hanya bisa terjadi kalau seseorang duduk degan tegak lurus. cara duduk yang terburuk saat makan adalah dengan bersandar ke arah samping karena usus kecil dan berbagai organ metabolisme menyempit dalam kondisi demikian, sementara lambung sendiri tidak berada pada posisinya yang alami, karena posisinya justru tertekan ke lantai, sementara di belakangnya pungung dengan dibatasi beberapa organ tubuh metabolisme dan organ pernapasan.
Kalau yang dimaksudkan dengan bersandar di sini adalah bersandar di atas bantal atau kasur yang berada di bawah pinggul saat orang duduk, makan artinya adalah Rasulullah ﷺsaat makan tidak sambil menduduki bantal dan sejenisnya seperti yang dilakukan oleh orang-orang sombong dan mereka yang gemar makan. Akan tetapi beliau lakukan adalah makan dengan susuk seperti yang dilakukan oleh seorang hamba.

2. Makan dengan tiga jari
Beliau bisa makan dengan menggunakan tiga jarinya. Itu cara terbaik dalam makan. makan dengan menggunakan dua jari atau satu jari amatlah tidak nyaman bagi orang yang makan, tidak menyenangkan dan kan mencapai waktu lama untuk bisa membuat kenyang. sementara organ-organ pencernaan juga tidak merasa nyaman saat menyambut suap demi suap makanan yang terpaksa ditelan juga dengan sulit seperti seorang apabila menerika haknya sebiji sebiji dan sejenisnya, tentu ia juga tidak merasa nyaman. sementara menyantap makanan dengan lima jari apalahi ditambah dengan telapak tangan akan menyebabkan makanan menyerbu lambung dan organ-organ pencernaan. bisa jadi seluruh organ tersebut akan kepayahan dan menyebabkan kematian, atau setidaknya menyesakkan lambung dan organ pencernaan lainnya. sehingga lambung sendiri tidak mampu menahannya, tidak merasa nyaman. cara makan terbaik adalah cara makan Rasulullah ﷺatau siapa saja yang mengikuti beliau, makan dengan tiga jari.

3. Tidak menggabungkan makanan tertentu
Setiap orang yang memperhatikan memakanan dan segala sesuatu yang dimakan Raulullah ﷺsetiap hari pasti akan mendapatkan bahwa beliau tidak pernah menggabungkan antara susu dengan ikan, antara susu dengan susu asam (yoghurt) atau antara dua jenis makanan yang sama-sama panas, sama-sama dingin, sama-sama lengket, sam-sama berserat kasar, sam-sama berunsur pencahar, sama-sama kental atau sama-sama cait. Beliau juga tidak pernah mencampurkab dua jenis makanan yang tidak mungkin dicampur, atau antara dua jenis makanan yang berunsur saling berlawanan, antara yang berserat kasar dengan yang berunsur pencahar, anatara yang sulit dicerna dengan yang mudah dicerna, antara makanan panggang dengan makanan yang dimasak, antara yang segar dengan yang sudah didendeng atau dikeringkan, anatara susu dengan telur, atau antara daging dengan susu. beliau juga tidak mau meyantap makanan saat masih panas, atau makanan kemarin yang dihangatkan lagi keesokan harinya, atau makanan yang berbau amis dan terlalu asin, seperti makanan yang diawetkan, acara dan ikana atau daging asin. karena semua jenis makanan tersebut memang berbahaya dan dapat menganggu kesehatan dan kondisi tubuh yang prima.
Beliau terkadang menyempurnakan gizi sebagian makanan dengan makanan lain, selama beliau bisa melakukannya. beliau menyempurnakan makanan yang panas dengan yang berunsur dingin, yang kering dengan yang berunsur lembab. Contohnya saat beliau menyantap timun dengan kurma atau menyantap kurma dengan minyak samin. Beliau juga biasa meminum juice kurma untuk menetralisir makan makanan yang tajam

4. Sunnah makan malam
Beliau juga memerintahkan agar kita bersantap malam meskipun hanya dengan segenggam kurma. Beliau menyatakan, "Meninggalkan makan malam bisa memepercepat penuaan" At-Tirmidzi menyebutkannya dalam Jami'-nya, juga oleh ibnu majah dalam Sunan-nya
Disebutkan juga oleh Abu Nu'aim : Rasulullah ﷺ melarang tidur sesudah makan. beliau menyatakan bahwa itu ternsuk penyebab kerasnya hati. oleh sebab itu di anata saran kalangan medis adalah bila seseorang ingin menjaga kesehatannya, setelah ia bersantap malam hendaknya ia berjalan beberapa langkah bila perlu hingga seratus langkah, baru tidur sesudanya. jangan langsung tidur, karena itu berbahaya sekali. Bahkan kalangan dokter muslim menganjurkan setelah makan malam sebaiknya shalat terlebih dahulu agar makanan betul-betul mencapai bagian bawah lambung sehingga mudah dicerna dan diproses secara baik.
Beliau juga tidak minum saat makan sehingga proses metabolisme menjadi rusak, terutama sekali apabila airnya dingin atasu panas, amatilah merusak sekali. Seperti dinyatakan oleh seorang penyair
"Janganlah sekali saja menyantap makanan panas dan dingin
atau saat masuk kamar mandi kalian meminum air
kalau kalian melanggarnya, jangan salahkan ke siapa-siapa jika penyakit menyerang perutmu sendiri...."
Minum air saat lelah atau habis oalhraga juga tidak baik, demikian juga sesuai berhubungan, badan. selasai makan atau sebelum makan langsung, atau sesusudah makan buah-buahan, meskipun pada sebaian makanan hampir tidak menjadi masalah. demikkian juga sesudah keluardari kamar mandi atau saat bangun tidur. semua hal tersebut dapat menganggu kesehatan. kebiasaan sama sekali tidak bisa dijadikan alasan, karena itu kebiasaan buruk yang biasa diunduh.

Sumber : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. 2004. Metode Pengobatan Nabi ﷺ. Jakarta : Griya Ilmu