Selasa, 07 Februari 2017

ISLAM

Bukan sekedar agama
Tapi islam membahas segalanya
Mulai dari hal hal yang berhubungan dengan agama
Hingga hal hal di luar agama
Seperti politik dan ekonomi negara

Islam berarti menyerahkan diri
Sepenuhnya pada Sang Ilahi
Bukan berarti tak peduli dunia ini
Dunia adalah jembatan ke surga

Islam menjawab segala masalah
Tidak ada hal yang tak dibahas dalam islam
Sudah dijelaskan benar dan salah
Tinggal kita mau atau tidak mengikuti syariatnya

Islam bukan teroris, islam ajarkan hidup harmonis
Bahkan islam ajarkan balas keburukan dengan kebaikan
Tidak merusak alam dan membunuh makhluk Tuhan

Sejak muncul, islam memang terasingkan
Karena tak semua orang terima kebenaran
Andai kita mau belajar islam lebih dalam
Tidak ada yang kita dapat kecuali kebahagiaan

Jangan sedih jika seluruh dunia memusuhi islam
Karena Allah akan menolong orang yang menolong agama-Nya
Bukan berarti Allah tak mampu menolong agama islam
Tapi Allah ingin memberi tantangan agar dapat pertolongan
Jangankan menolong agama islam
Menciptakan langit dan bumi saja mudah bagi Allah

Pelajari agama islam ini
Kau akan tenang menghadapi caci maki
Tak ada masalah yang membuat sakit hati
Selalu berpikir positif atas kejadian di bumi ini

Tak ada ajaran islam kecuali ajaran itu menguntungkan, membahagiakan, menentramkan dan menyelamatkan

Senin, 06 Februari 2017

TANPA IKHLAS SEMUA TAK BERARTI

Mushola kampus adalah saksi bisu pertemuan kita. Di mushola ini sebuah lingkaran kecil yang dibentuk oleh 5 mahasiswi kebidanan ini sedang berusaha mempelajari ilmu agama, dibimbing oleh seorang kakak tingkat yang menyempatkan waktu meski kesibukan praktek selalu menerpa, meski dia menjadi pembimbing (murrabiah) tetap judulnya belajar bersama katanya karena dia tak ingin dianggap paling tau.

Tidak terpatok oleh waktu, kita kumpul sebisanya saja, menyela diantara waktu kuliah dan praktikum. Harusnya kita merasa malu hanya memberikan waktu sisa untuk menuntut ilmu agama padahal Allah yang memberi waktu begitu banyak, 1 hari 24 jam tapi berapa jam yang kita berikan untuk Sang Pencipta? Lalu dengan berani kita katakan hidup ini harus seimbang antara dunia dan akhirat. Penyesalan memang selalu ada namun tak lupa rasa syukur menemani kita karena Allah memilih kita diantara banyaknya manusia untuk menuntut ilmu-Nya. Inilah nikmat yang tidak didapat di tempat lain, kita temukan ketentraman saat berada di taman taman surga (majelis ilmu).

Sore itu sama seperti sore sebelumnya, suasana terasa sunyi karena penghuni kampus sudah pergi, kegiatan belajar mengajar sudah sepi. Kali ini murabbiah ingin membahas tentang materi ikhlas. Sebuah pertanyaan tentang pengertian ikhlas menjadi pembuka materinya. Aku yang belum banyak tau tentang agama hanya termenung bingung saat pertanyaan itu terlontarkan. Namun yang membuatku sedikit lega jawaban dimulai dari arah kanan, sedang aku duduk dipaling kiri jadi Alhamdulillah aku terakhir, ada kesempatan untukku berpikir.

Teman yang duduk paling kanan menjawab "ikhlas itu memberi sesuatu tanpa berharap imbalan"
Giliran teman sampingnya "menerima segala yang Allah takdirkan, kayak kehilangan sesuatu harus ikhlas"
Lalu sampingnya "ehm sama juga mb, tidak berharap mendapat balasan dari oranglain"
Nah giliranku, aku tak tau apa yang ada di otakku, 4 pasang mata menatap ke arahku, ku jawab dengan sedikit ragu "melakukan segalanya karena Allah" sambil senyum senyum jawaban terlontar dari mulutku begitu saja
"Ya bener, ikhlas itu melakukan sesuatu karena Allah, jadi berharap imbalan boleh tapi dari Allah kayak berharap dapat pahala dan masuk surga. Itu termasuk ikhlas, jika semua hal kita lakukan ikhlas bisa jadi ibadah. Ibadah itu bukan hanya shalat, puasa, haji saja lho. Kita bersihin kamar karena Allah suka keindahan dan agar oranglain tidak berpikir muslimah yang jibabnya besar itu jorok itu juga ibadah" Penjelasan berlanjut dengan materi tapi aku lupa apa yang menjadi pembahasan murabbiahku saat itu. Kita fokus pada makna ikhlas saja ya.

Sebelum kejadian ini aku selalu memaknai ikhlas itu merelakan sesuatu. Sering kali ku katakan jika ada yang kehilangan sesuatu atau ditinggalkan orang tersayang ku katakan padanya "sudah ikhlaskan saja" padahal bukan itu makna ikhlas sesungguhnya, kalau itu namanya ridho.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang yang pertama kali diadili pada Hari Kiamat ialah seorang laki-laki yang mati syahid. Ia dihadapkan, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkannya pada berbagai nikmat yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepadanya, dan ia pun mengakuinya. Lantas Allah Subhanahu wa Ta’ala bertanya, ‘Apa yang telah engkau perbuat dengan berbagai nikmat itu?’ Ia menjawab, ‘Saya telah berperang karena-Mu sehingga saya mati syahid.’ Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Kamu bohongg. Kamu berperang agar namamu disebut-sebut sebagai orang yang pemberani. Dan ternyata kamu telah disebut-sebut demikian.’ Kemudian orang tersebut diperintahkan agar diseret pada wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.”

“Selanjutnya adalah orang yang mempelajari ilmu, mengajarkannya, dan membaca Alquran. Ia dihadapkan, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkannya pada berbagai nikmat yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepadanya, dan ia pun mengakuinya. Lantas Allah Subhanahu wa Ta’ala bertanya, ‘Apa yang telah engkau perbuat berbagai nikmat itu?’ Ia menjawab, ‘Saya telah mempelajari ilmu, mengajarkannya, dan membaca Alquran karena-Mu.’ Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Kamu bohongg. Akan tetapi kamu belajar agar kamu disebut-sebut sebagai orang alim dan kamu membaca Alquran agar kamu disebut-sebut sebagai seorang qari’, dan kenyataannya kamu telah disebut-sebut demikian.’ Kemudian orang tersebut diperintahkan agar diseret pada wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.”
“Kemudian seorang yang diberi keleluasan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dikaruniai beragam harta benda, lantas ia dihadapkan, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada dirinya. Ia pun mengakuinya. Lantas Allah Subhanahu wa Ta’ala bertanya, ‘Apa yang telah engkau perbuat dengan berbagai nikmat itu?’ Ia menjawab, ‘Saya tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan yang Engkau buka melainkan pasti saya berinfak padanya karena-Mu.’ Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Kamu bohong. Akan tetapi kamu melakukan hal tersebut agar kamu disebut-sebut sebagai orang yang dermawan. Dan kenyataan kamu telah disebut-sebut demikian.’ Kemudian orang tersebut diperintahkan agar diseret pada wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.”
Begitu pentingnya ikhlas hingga tanpanya amal ibadah kita bisa membawa kita ke neraka. Karena syarat diterima ibadah adalah ikhlas dan i'tiba kepada Rasulullah, tanpa kedua itu ibadah kita seperti debu yang tertuip angin, hilang tak berbekas. Mari inteopeksi diri, jangan biarkan lelah terasa tapi pahala tak ada.



Minggu, 05 Februari 2017

PERTANYAAN TENTANG TUHAN

Kesejukan udara pagi selalu mencegahku untuk tetap duduk diam menikmati teh hangat karena aku memang tak suka minum teh selain ketika bertamu, dan sinar matahari pagi selalu memaksaku untuk tidak nyenyak di kasur, serta alasan utama agar aku tak berpesta dengan kemalasan adalah keberkahan yang Allah turunkan dipagi hari. Hari ini ponakanku libur, aku yang menginap di rumah saudaraku ini selalu suka mengajak ponakanku ke kulon deso di pagi hari, tempat yang menyajikan pemandangan indah berupa hamparan kebun sayuran dengan background gunung bak imajinasi anak TK yang tertuang dalam kertas gambarnya namun ini adalah lukisan Tuhan yang tidak akan ada bandingannya. Dan harus diingat ini baru dunia yang tak ada nikmat yang lebih baik dari nikmat surga.
Kami berjalan berdua saja, banyak yang kami perbincangkan, wajar saja karena ponakanku masih duduk dibangku kelas 3 SD, dia masih kritis, banyak hal yang ingin dia ketahui dan dia pertanyakan, apa dan kenapa adalah kata tanya yang jadi andalannya. Hingga suatu ketika kami sedang jalan pulang, ponakanku yang sedang asyik memainkan daun daun atau buah buah kecil yang ada ditangannya tiba tiba melontarkan sebuah pertanyaan tanpa menatapku.
"Tante, kenapa ya Allah ciptain macan sama singa, kan mereka hampir sama kenapa Allah gak ciptain singa saja atau macan saja" dengan polos dia bertanya dengan pertanyaan yang tak pernah terpikirkan olehku sehingga membuatku termenung untuk beberapa detik, bukan karena suaraku habis atau tenggorokanku gatal tapi aku diam karena bingung menjawab pertanyaan yang aku tak paham, tapi aku paham anak kecil tidak suka dengan jawaban tidak tau, menurut mereka orang dewasa harus tau segalanya, qodaruAllah terlintas jawaban di otakku
"Tante manusia, irza manusia, kenapa Allah ciptain tante sama irza, kenapa Allahgak ciptain tante saja?" Dengan intonasi lembut bal guru TK ku jawab pertanyaan dengan pertanyaan
"Ih tante ini" sambil memukulku pelan dengan tangan mungilnya, dari dalam lubuk hati terdalam ku tak merasa sakit karena pukulannya tapi aku merasa terpukul dengan pertanyaannya, maaf dek, bukan tante tak mau menjelasakan tapi tante memang bingung bagaimana menjelaskan padamu bahwa Allah itu maha tau, bahkan butuh penelitian bertahun tahun hanya untuk membuktikan apa yang telah Allah tetapkan. Kita hanya diminta beribadah kepada-Nya, akal yang diberikanNya memang untuk berpikir namun bukan untuk mempertanyakan segala kuasa Nya. Aku yakin irza (nama ponakanku) anak pintar InsyaAllah paham dengan jawaban yang cukup tak memuaskan, bisa jadi mungkin irza akan lupa pertanyaan dan jawaban ini tapi tante akan jadikan ini sebagai pelajaran.


Di lain hari masih dengan irza, kini ku berdiskusi dengannya di kamarnya yang sudah menjadi kamarku semenjak aku terdeportasi dari asrama kampus. Ku lupa saat itu siang atau malam, yang jelas bukan pagi hari. Kala itu irza asyik memainkan Hpku, aku mengajaknya untuk shalat, namun dia menjawab dengan segala kepolosannya
"Nanti saja tante, kan gak papa" dia berbicara padaku namun tangan dan pandangan matanya terfokus pada hpku
"Eh, ayo harus shalat diawal waktu"
Jurus pamungkasnya pun keluar
"Kenapa tante?" Mulai menggeletakan hp lalu memalingkan pandangan ke arahku
Izinkanku mencari jawaban beberapa detik ya dek, dalam hatiku, alhamdulillah Allah yang memberik kemampuanku untuk menjawab
"Siapa yang menjamin kita hidup nanti, gak ada yang tau 5 menit lagi ada apa dek, kalau misalnya tiba tiba gempa terus kita mati gimana? Malaikat tanya kenapa kamu tadi belum shalat? Terus irza jawab apa?"
Dengan tatapan tajam ku berusaha menakut nakutinya
"Ih tante ini, bikin takut aja"
"Beneran, kalau misalnya inu tante belum shalat keluar rumah tiba tiba kecelakan siapa yang nyangka, bisa aja kan, tante harua jawab apa kalau malaikat tanya" masih dengan tatapan tajamku namun kali ini intonasi lebih rendah agar dia tak cuma takut tapi paham
"Ya ya te, jawab apa ya kalau ditanya malaikat" sedikit salah fokus tapi setidaknya dia mendengarkan dan memperhatikanku
"Masa mau jawab karena lagi males, lagi asyik main, hayo masuk neraka, ayo shalat 5 menit lagi kalau ada gempa gimana hayo"
Dengan canda ku ingin mengajaknya serius
"Ya deh ya, yuk shalat te" dia pun menyerah dengan segala kengeyelannya.
Bukan aku yang mengajarinya tapi dia, anak kecil yang baru kelas 3 SD ini yang banyak membuatku belajar banyak hal

Pertanyaan tentang Tuhan kali ini yang lebih rumit menjelaskan, andai ada makul cara menjawab pertanyaan anak kecil InsyaAllah aku tertarik mengikutinya. Kali ini perbincangan kita di dapur saat sedang asyik makan, kita berhadapan duduk manis di satu meja. Aku yang memulai pertanyaan
"Dek, di depan itu bibit apa?"
"Yang mana te?"
"Itu lho yang item deket pintu"
"Kecil kecil itu ya te?"
"Ya, bibit apa itu"
"Oh itu terong te"
"Oh" kataku sambil menggukkan kepala untuk menunjukan aku paham dengan yang dia maksud
"Te, kan terong tumbuh dari biji, kalau dulu banget dari mana terong sebelum ada manusia?"
Lagi lagi aku dihadapkan dengan pertanyaan cukup menantang dan membingungkan, bahasa apa yang harus ku gunakan agar kau paham, lamunanku sebelum dapat pertolongan dari Allah untuk menjawab
"Kan Allah ciptakan segalanya dulu bumi dan langit baru menciptakan manusia jadi tanaman terong itu Allah yang ciptakan"
"Terus dinausaurus te?"
"Dinausaurus itu di sejarah kalau islam gak ngajarin"
"Nabi Adam ya te manusia pertama ya"
"Iya" alhamdulillah ku bisa menjawab sampai ini, namun belum puas ku melepaskan nafas lega ada petanyaan selanjutnya
"Kalau semua ini yang ciptain Allah terus yang menciptakan Allah siapa?"
Ini pertanyaanku waktu kecil dek, kenapa kembali ke aku pertanyaannya. Aku dibuatmu bingung dengan bahasa apa ku menjelaskan jika pembahasan Al-Qur'an aku takut salah dalam menyampaikannya, tapi jika dgn bahasamu gimana caranya. Memohon pemahan pada Allah itu satu satu jalannya.
"Allah maha pencipta jadi gak ada yang ciptakan Allah karena Allah menciptakan segalanya, lihat manusia bikin robot bisa gerak tapi gak bisa tumbuh bertahun tahun segitu saja tapi Allah ciptakan manusia hidup dulu irza kecil sekarang bisa sebesar ini"
"Ehm, bisa te, dulu buat robot kecil terus sekarang di rubah buat yang besar"
"Itukan diperbaiki kalau kita kan tumbuh sendiri, beda dek"
"Oh ya ya, berarti Allah gak ada yang menciptakan ya te"
"Iya dek, cepet makannya, tante mau habis ni" sedikit mengalihkan pembicaraan, ku takut ku semakin sulit menjelaskan dan pemikiranmu semakin salah. Alhamdulillah Allah yang memudahkan dalam ku menjawab segala pertanyaannya.

Tips : jangan sering katakan tidak tau pada anak, ikuti pekembangan anak dan zamannya jangan sampai kita terlihat lebih bodoh darinya, biarkan anak bereksplorasi dengan segala kalimat tanyanya, yang utama selalu mohon kebaikan pada yang Maha Baik, pencipta segalanya, Allah

Sabtu, 04 Februari 2017

KARYAWAN TUHAN

Dulu, aku pikir hidupku sudah cukup tenang dengan seperti ini
Tidur, makan, belajar, ibadah yang fardu dan alakadarnya
Tanpa aku tau untuk apa aku hidup di dunia

Aku tau ada surga dan neraka yang menanti
Namun katanya yang masuk neraka itu cuma orang jahat
Orang jahat yang mencuri, berbohong, membunuh, melanggar aturan negara
Jadi menurutku dgn hidup biasa" seperti mereka tidak akan memasukkan aku ke neraka

Namun Allah punya rencana lain
Bisa jadi ini karena do'a orangtua
Allah mempertemukan aku dengan kehidupan yang aneh
Dan anehnya aku lebih suka kehidupanku yg aneh ini, meski ku tau ada kehidupan oranglain yang lebih aneh dan lebih baik

Kehidupan aneh itu
Kehidupan yang mulai mengutamakan apa yang Allah mau dan Rasulullah contohkan daripada aturan buatan masyarakat

Kehidupan aneh itu
Ketika aku tak boleh bersalaman dgn lawan jenis
Ketika aku kenakan jilbab dan kerudung lebar demi menutupi kecantikan
Ketika aku bicara agama di selain tempat beribadah
Ketika aku harus melanggar adat demi syariat
Ketika orang berebutan ingin mengeluarkan uangnya untuk orang lain

Tapi aku sadar
Aku tak seaneh Rasulullah dan sahabat dahulu
Yang mempertaruhkan nyawa demi islam
Karena aneh menurut manusia belum tentu buruk di sisi Allah

Jangan pernah bicara tanpa ilmu, karena aku bodoh sepertimu, kita saudara dan kita harus belajar bersama
Jangan mengakimi seseorang tanpa tau mana yg benar dan salah, kerena keadilan hanya milik Allah bukan milik pak hakim

Kita selalu bicara tentang "apa kata orang jika aku begini dan begitu" tanpa pernah berpikir "apa azab Allah jika aku begini dan begitu"

Kita terlalu takut melanggar peraturan manusia tapi kita tak pernah takut melanggar peraturan Pencipta Manusia

Untuk siapa kita hidup?
Untuk siapa kita hidup?
Untuk siapa kita hidup?
Sekali lagi untuk siapa kita hidup?

BOHONG jika untuk Allah, Allah gak butuh kebaikanmu, kita baik atau tidak, Allah tetap Maha Mulia.

Kita hidup untuk kita sendiri tapi kita hidup karena Dia, oleh sebab itu taati peraturanNya

Jika diberi uang 1 juta saja sama orang sudah seneng banget sampe apapun yg dia minta mau dituruti. Dia butuh bantuan langsung datang
Allah kasih kita anggota tubuh sejak lahir yg mungkin salah satu bagian tubuh kita jual itu hampir tak ternilai harganya, tapi kita baru sadar sama yang memberi ketika nikmat itu diambil

Sudah sudah merasa menaati peraturan Allah?
Tapi kok lebih hafal mitos, peraturan adat istiadat, dan undang undang yg dibuat manusia dari al-Qur'an?

Bacaan shalat saja gak tau maksudnya, padahal itu sarana komunikasi hamba ke Pencipta, tapi kita sendiri gak tau apa yg kita bicarakan ke Pencipta
Terus masih ngaku hamba Allah?
Sepertinya kita lebih pantas dibilang hamba dunia deh
Harta selalu ditambah tapi dari kecil sampai mau masuk liang lahat hafalnya cuma al-Fatihah plus surat 3 Kul

Saudaraku seiman, marilah kita kembali ke pedoman hidup kita yaitu Al-Qur'an. Semua masalah kita ada solusisnys di Al-Qur'an kalau gak percaya buktikan sendiri

Jumat, 03 Februari 2017

RUMPUT DIANGGAP BUNGA

Saat duduk di bangku SMA aku bertanya pada seorang guru biologi, beliau sangat cerdas bukan karena beliau hafal ribuan nama ilmiah tapi penalarannya selalu diuar penalaran kita. Cara mengajarnya pun berbeda dari guru biasanya, beliau lebih suka membawa kita langsung praktek baru kita akan dapat teorinya sehingga sampai saat ini aku sudah lulus kuliah masih ingat apa yang beliau ajarkan. Ketika belajar bioteknologi kita diajarkan untuk membuat tempe, bakpau, tape. Selain itu beliau minta kita membawa hewan" kecil untuk secara langsung mengamati morfologi hewan tersebut. Yang lebih keren, beliau kadang tau kepribadian kita, beliau tak seperti guru tapi lebih seperti sahabat.
Aku bertanya padanya saat topik pembelajaran tentang tumbuhan, "bu, apa yang membedakan rumput dengan bunga (tanaman hias)"
Tanpa terlihat berpikir guru ini menjawab dengan bahasa yang sangat mudah dimengerti "kalau rumput tumbuh liar, kalau bunga dirawat, kamu tau gelombang cinta itu di daerah kalimatan banyak seperti rumput tapi dulu dijual mahal di sini karena terlihat langka"
Pandangku fokus padanya sambil mengangguk anggukan kepala, "ehm, jadi secara bentuk tidak ada bedanya ya bu?"
"Ya sama saja, hanya rumputkan terlihat liar dan mengganggu tanaman lain"
Ku kembali mengganggukan kepala seraya paham apa yg dijelaskan. Kami pun kembali sibuk mengamatu dedaunan yg sudah kita bawa.
Secara detail aku tak ingat bagaimana penyusunan kata saat itu yg jelas inti dari pembicaraan kita seperti itu. Aku mulai berpikir tentang ini, jika manusia ingin rumput yang liar menjadi bunga yang dipuja itu mudah, tinggal memberikan doktrin kepada semua orang bahwa rumput itu adalah bunga. Begitu pula pacaran, zina, kebohongan,dan segala dosa yang dianggap biasa bahkan ada yang mengganggapnya suatu kebanggaan layaknya bunga.
Pacaran adalah mendekati zina dan Allah jelas jelas melarangnya tapi kini setelah pikiran manusia di masukan pemikiran yang tidak benar, tidak pacaran atau jomblo dibuli, menikah tanpa pacaran jadi bahan pembicaraan. Pacaran adalah rumput yang mengganggu pertumbuhan pemuda.
Membicarakan oranglain atau ghibah adalah dosa besar. Tapi acara intertaiment atau gosip menjadi menu sehari hari di televisi. Tanpa di sadari rumput rumput dosa telah kita rawat layaknya bunga.
Satu satunya yang dapat membuatkan mencabut rumput yang menjadi hama hanyalah ilmu agama. Ilmu membuat kita bertaqwa dengan sebenar benarnya taqwa. Membuat kita bisa membedakan mana bunga dan mana rumput. Tanamlah apa yang bermanfaat bukan justru merawat yang merusak. 

Kamis, 02 Februari 2017

LEBIH BAIK TIDAK SAMA SEKALI



2 Februari 2017
Di waktu kecil ku sangat suka menatap langit, ku berimajinasi tentang suatu bentuk dengan awan, ku pandangi awan putih yang sedikit demi sedikit bergerak, kadang mirip kelinci tapi kalau sudah bergerak bisa berubah seperti ayam dan sebagainya, di bergerak bukan karena dia ingin meninggalkan tempatnya namun angin yang mengajaknya berpindah menyusuri bumi, menjadi perantara rezeki dari yang Maha kaya. Awan tak pernah lelah ataupun marah kepada angin yang selalu mendorongnya karena dia tau dia saat dinanti oleh seluruh makhluk di bumi, dan dia yang mengoreskan senyum di pipi para petani.
Kini aku pun telah dewasa, ku bosan berimajinasi dengan awan aku lebih suka membayangkan kematian saat melihat langit yang tertutup awan, mungkinkah aku berada di tempat terindah bernama surga lalu menengadah ke atas melihat wajah sang pencipta. Ini adalah salah satu kenikmatan yang disediakan Allah ta’ala bagi orang mukmin di dalam surga adalah mereka dapat memandang wajah Allah yang mulia. Allah Ta’ala berfirman,

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ وَلا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلا ذِلَّةٌ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Yunus: 26)

Kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, “Bagi mereka yang baik dalam beribadah kepada Allah adalah husna, yaitu mendapat balasan surga, juga mendapat ziyadah yaitu melihat wajah Allah yang mulia dan mendengar Allah Ta’ala berbicara, mendapatkan ridho-Nya serta meraih kegembiraan dengan berada di dekat Allah.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 339)

Dalam ayat lain Allah Ta’ala juga berfirman,
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
Muka mereka (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnya mereka melihat.” (QS. Al-Qiyamah: 22-23)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya terhadap ayat di atas menjelaskan, “Orang mukmin akan melihat Rabbnya secara nyata dengan mata kepala mereka, hal ini sebagaimana terdapat dalam hadist riwayat Bukharirahimahullah, ‘Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian dengan mata kalian sendiri.’ (HR. Bukhari no. 485).

Dan telah jelas bahwa orang mukmin akan melihat Rabbnya kelak di akhirat dalam hadist shohih yangmutawatir yang tidak mungkin lagi tertolak dari Abu Sa’id radhiallahu’anhu dan Abu Hurairahradhiallahu’anhu, seseorang bertanya, ‘Yaa Rasulullah, apakah kami akan melihat Rabb kami di hari kiamat kelak? Rasulullah menjawab, ‘Apakah membahayakan kalian ketika kalian melihat matahari dan bulan…….? Ia menjawab,’Tidak’. ‘Demikianlah kalian akan melihat Rabb kalian.”
Dari Jarir bin Abdillah al-Bajali radhiallahu’anhu, beliau berkata, “Kami sedang duduk bersama Rasulullah shalallahu’alaihi wa salam saat beliau melihat bulan di malam badar, beliau shalallhu’alaihi wa salam bersabda,
إِنكم سترون ربكم كما ترون هذا القمر لا تضامون في رؤْيتهِ ، فإِن استطعتم أن لا تغلبوا على صلاة قبل طلوع الشمسِ وقبل غروبها فافعلوا
Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian seperti kalian melihat bulan ini, tidak membahayakan kalian saat melihatnya. Jika kalian mampu untuk tidak meninggalkan sholat sebelum terbit dan terbenamnya matahari maka lakukanlah” (HR. Bukhari no. 554 dan Muslim no. 632).

Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa salam membaca ayat,
وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا
Dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya.” (QS. Thaha: 130)

Dari seorang sahabat yang mulia, Shuhaib bin Sinan radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika penghuni surga telah masuk surga, Allah ta’ala berfirman: “Apakah kalian mau tambahan nikmat (dari kenikmatan surga yang telah kalian peroleh)? Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Dan Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka? Kemudian Allah singkap hijab (penutup wajahNya yang mulia), dan mereka mengatakan,

فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنْ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزٌّ
Tidak ada satupun kenikmatan yang lebih kami cintai dari memandang wajah Allah Ta’ala.” (HR. Muslim no. 181).

Rasulullah mengajarkan doa memohon kenikmatan memandang wajah Allah
اللهم بعلمك الغيب وقدرتك على الخلق أحيني ما علمت الحياة خيرا لي وتوفني إذا علمت الوفاة خيرا لي اللهم وأسألك خشيتك يعني في الغيب والشهادة وأسألك كلمة الحكم في الرضى والغضب وأسألك القصد في الفقر والغنى وأسألك نعيما لا يبيد وأسألك قرة عين لا تنقطع وأسألك الرضى بعد القضاء وأسألك برد العيش بعد الموت وأسألك لذة النظر إلى وجهك والشوق إلى لقائك في غير ضراء مضرة ولا فتنة مضلة اللهم زينا بزينة الإيمان واجعلنا هداة مهتدين
Ya Allah, dengan pengetahuan-Mu terhadap yang ghaib dan kekuasaan-Mu atas semua makhluk, hidupkanah aku selama Engkau tahu kehidupan itu lebih baik bagi ku, dan matikanlah aku jika Engkau tahu kematian itu lebih baik bagiku. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon rasa takut kepadaMu di saat sendiri maupun dalam keadaan terang-terangan, aku memohon perkataan yang benar dalam keadaan baik maupun marah, aku memohon kesederhanaan, baik dalam keadaan fakir maupun kaya, aku memohon kenikmatan yang tak akan habis, dan aku memohon penyejuk hati yang tak pernah berakhir. Aku memohon keridhoan atas ketetapanMu, aku memohon ketentraman setelah kematian, dan aku memohon kenikmatan memandang wajah-Mu, dan kerinduan bertemu dengan-Mu, bukan dalam kesusahan yang mebinasakan dan cobaan yang menyesatkan. Ya Allah, hiasilah kami dengan hiasan iman dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang memberi dan diberi petunjuk.” (HR. An-Nasai, Ahmad dan lainnya).

Rasanya aku tak pantas berada di sana, namun aku takut jika harus di neraka. Detik, menit, jam serta hari yang ku lewati di dunia ini tak kekal abadi, semua sementara, aku akan diminta pertangungjawaban atas semua yang ku lakukan di dunia, tak akan ada detik yang terlewat kecuali Allah menghisabnya. Oleh sebab itu aku berusaha menjadikan hidup yang sekali ini menjadi berarti.

 Ku mulai teringat saatku mendapat tugas dari organisasi untuk mewawancarai sesosok wanita sederhana namun luar biasa, ketua jurusan jabatannya, lulusan Magister dari autralia, kuliah sambil bekerja, sempat kerja di malasyia namun tak lupa dengan keluarga, dan yang utama selalu terlihat sederhana. Aku tak ingin fokus dengan kepribadiannya karena terlalu banyak sesuatu yang luar biasa dari dalam dirinya namun aku lebih focus pada pesannya untuk kita semua “Lakukan dengan hati atau tidak sama sekali” kalimat ini cukup menohok, dapat menjadi alasan atas segala kesuksesannya. Beliau tak pernah berpikir akan menjadi seorang  ketua jurusan di intitusi pendidikan negeri, yang beliau lakukan hanya melakukan dengan baik segala yang ditugaskan padanya.

Atas izin Allah melalui perantara beliau aku mulai paham arti sebuah pekerjaan atas dasar cinta, jika kita mencintai sesuatu maka apapun yang kita lakukan tidak akan melahirkan keluh kesah, rasa lelah sudah tak terasa, meski hasil tak sesuai harapan namun tak ada kekecewaan karena yang terpenting adalah sebuah kepuasaan saat bisa melakukan usaha dengan seluruh kemampuan.

Bukan berarti kita lakukan semuanya sesuka hati kita, sesuai dengan mood. Jangan, jangan jadi manusia moody, yang mood baik baru bisa melakukan segalanya dengan baik, kalau moodnya gak baik baik kapan berbuatnya kalau begitu. Biarlah kita yang mengatur mood bukan mood yang mengatur kita. Rasa suka bisa timbul dari biasa, rasa cinta tumbuh karena tau adanya kebaikan. Jika ingin menumbuhkan suka pada kebaikan maka biasakan lakukan hal baik, maka yang buruk akan terasa aneh dan tak menyenangkan.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.”
(HR. Muslim)
[Muslim: 47-Kitab Al Qodar, An Nawawi –rahimahullah- membawakan hadits ini dalam Bab “Iman dan Tunduk pada Takdir”]
Sumber : https://rumaysho.com/691-tetap-semangat-dalam-hal-yang-bermanfaat197.html

Aku selalu dibuat kagum dengan segala aturan dalam agam islam ini, tak ada hal kecil yang terlewatkan untuk dibahas apalagi hal besar, semua solusi dari masalah hidup ada di al-qur’an, hanya kita sering lupa dengan pedoman kita ini.
Bagaimana tau sesuatu itu bermanfaat atau tidak? Jika Sesuatu tersebut dapat mendekatkan kita dengan sang pencipta itu berarti bermanfaat maka lakukan itu dengan rutin dan maksimal atas dasar taqwa, ini lah cinta yang sesungguhnya. Bukan soal moody, saat kita paham ada pahala di suatu kegiatan maka tidak akan kita sia siakan kesempatan untuk mendapatnya. Meski lelah menerpa, namun hati tenang karena lelah akan hilang esok hari namun pahalanya aka nada sepanjang hari. Sedangkan jika sesuatu itu menjauhkan dari sang pencita meski tampak baik di mata manusia maka tinggalkanlah juga atas dasar taqwa karna terdapat pahala juga di dalamnya. Selamat berusaha namun jangan pernah kecewa atas hasil yang ada. Dalam usaha yang ikhlas ada pahala namun pada hasil yang dimata manusia sempurna belum tentu dapat mendekatkan dengan Sang Pencipta.

Rabu, 01 Februari 2017

MEMOHON TANPA MENGELUH

1 Februari 2017

Hujan membuat orang tak ingin berpergian, hujan pula membuat orang malas melakukan kegiatan, padahal hujan adalah suatu keberkahan. Aku adalah salah satu manusia yang dulu sering sekali mengeluh saat hujan turun bahkan aku mencela hujan yang selalu diam saat kebanyakan orang membenci kehadirannya. Saat semua rencana telah dibuat dan persiapan pun telah matang, hujan mehancurkan segalanya itu keluh kesahku dulu saat hujan turun dan menghambat kelancaran kegitan yang telah direncanakan
Kini sedikit demi sedikit Allah ingin memahamkan kepadaku bahwa semua yang ku lakukan itu salah. Allah lebih tau apa yang terbaik untuk kita disbanding diri kita sendiri. Secara logika saja ya, jika motormu dengan merk ***** rusak, akan kah kau membawanya ke bengkel dengan merk lain? Tentu tidak kan, karena kamu tau bahwa yang menciptakan motor tersebut lebih tau masalah dan solusi yang ada pada motor tersebut, begitu pula Allah yang menciptakan kita dan seluruh ala mini, Dia lebih tau masalah dan solusi alam ini.

Allah Ta’ala pun telah berfirman,
و عسى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وهُوَ خَيْرٌ لكَمْ وَعَسى أَنْ تُحِبُّوْا شَيْئا وهو شرٌّ لكم واللهُ يعلمُ وأَنْتُمْ لا تَعْلمُوْنَ
Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216)

 Selain itu alasanku untuk tidak membenci hujan karena waktu hujan adalah waktu mutajab untuk berdo’a, jadi semakin sering hujan atau semakin lama hujan berarti semakin banyak kesempatan do’a untuk dikabulkan. Mulai saat ini aku mulai menyukai hujan dan mengurangi hujatan tentang hujan, dan yang tak kalah penting hujan bukan alasan untuk bermalas malasan, kita tidur karena kita mengantuk bukan karena hujan, kurangi tidurmu karena setelah meninggal kau akan tidur dalam waktu yang lama untuk menunggu kiamat. Namun tetap saja aku adalah manusia biasa yang terkadang masih sulit menerima takdir yang Allah berikan

Pagi itu langit tampak gelap, sinar matahari bersembunyi dibalik awan hitam yang telihat lelah membawa air dan ingin segera menurunkannya. Hal tersebut tak mempengaruhi rutinitas rumah ini, ya rumah yang dulu sempat ku tebengi, rumah yang menjadi tempat berteduh saat aku harus angkat kaki dari asrama, rumah yang selalu menemani saat ku sendiri menunggu acara impian yang sering disebut wisuda, anggota keluarga di rumah ini sibuk dengan aktivitasnya masing masing, seorang ibu menyiapkan beberapa gelas seduhan teh dan tak kopi, serta sarapan untukku dan anaknya yang masih sekolah dasar, hanya kami berdua yang sarapan di rumah ini. Kamar mandi 1 untuk bergantian tapi tak ada yang berebutan karena mereka tau siapa yang harus didahulukan, yaitu si anak yang harus segera berangkat sekolah. Lalu ibunya yang berkerja sebagai guru TK, barulah ayahnya yang akan menjajakan barang dagangan ke pasar. Sedangkan aku nanti nanti saja karena aku mengigil jika mandi terlalu pagi di sini, hawa di sini cukup dingin
Sebelum berangkat mabakku yang berperan sebagai istri dan seorang ibu di rumah ini, memintaku untuk pulang ke jogja menunggu beliau pulang dari kerja, mungkin sekitar ba’da dzuhur.  Aku pun di rumah sendiri lagi, aku tak sedih dengan kondisi ini karena aku terlalu betah untuk tetap di rumah. Seperti biasa benang dan hakpen jadi teman setia dalam kesendirian, merajut sambil menatap jendela yang mulai tampak rintik air hujan turun dengan berlahan, semakin lama semakin kencang disertai angin yang membuat hujan semakin lebat terasa. Aku harap ini tak akan lama dan akan berhenti saat waktuku untuk pulang ke jogja, bukan aku menolak keberkahan hujan tapi aku takut berkendara saat hujan, namun jika ku tak pulang ke jogja adikku sudah menungguku di sana. Aku hanya berharap yang terbaik saja.
Hingga seluruh keluarga pulang hujan tak kunjung berhenti meski tadi sempat berkurang namun kini semakin kencang.

Ku jadi ingat satu hal, ku buka sebuah buku do’a dan witir (Hisnul Muslim), ku telursuri daftar isi, satu demi satu judul do’a ku baca hingga ku temukan sebuah Do’a agar hujan berhenti. Sempat heran dengan do’a ini, bukan kah hujan itu berkah kenapa ada do’a agar hujan berhenti, ini berarti menolak rezeki, tapi tekatku semakin bulat saat pandanganku tertuju pada jendela yang mengarahkan penglihatanku ke hujan yang semakin lebat di luar rumah. Ku baca dengan penuh harapan, karena aku tak pandai berbahasa arab saat membaca do’a ya aku hanya berharap hujan berhenti dan aku bisa perjalanan ke jogja. Do’a selesai ku baca, ku penasaran dengan terjemahan do’a dalam bahasa Indonesia
"Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turunkanlah hujan di dataran tinggi dan lokasi gersang serta do perut lembah dan tempat tempat tumbuhnya pepohonan"
Air mata tak terbendung, mata mulai berkaca kaca. Alangkah indah do’a yang kekasih Allah, nabi Muhammad, yang Rasul kita minta bukan hujan berhenti begitu saja, tapi memohon agar hujan itu bermanfaat, tidak membahayakan serta memohon agar hujan itu diberikan untuk yang membutuhkan. Aku tidak pernah terpikir memohon hujan berhenti dengan kata kata super duper indah dan halus seperti ini. Tanpa tuntunan rasulullah mungkin aku akan mengatakan “Ya Allah semoga hujannya berhenti, aku mau pergi ya Allah”. Bukan berarti do’a itu dibatasi ya, namun jika bisa kita gunakan do’a yang rasulullah ajarkan dengan penyusunan kosa kata yang halus kemungkinan besar do’a kita akan lebih cepat terkabulakan. Apakah sama respon orangtua yang dimintain mainan anaknya secara paksa dengan yang secara lembut? Tentu orangtua akan lebih mudah memberikan sesuatu kepada anak yang secara lembut memintanya. Tetapi ingat Allah tidak bisa dibandingkan dengan ciptaannya, seperti computer yang tak akan pernah sebanding dengan manusia yang membuatnya
Manusia mana yang suka dimintai pertolongan setiap saat? Pasti tidak ada kalaupun ada itu di zaman Rasulullah. Berbeda dengan Allah yang saat mencintai hamba-Nya yang memohon kepada Nya, ini bukti bahwa kita mahkluk lemah, kita butuh Allah, bukan Allah yang butuh pujian dan do’a kita. Kita tidak berdo’a tidak akan mengurangi kemuliaan Allah. Pesan dari sahabat "Aku tidak takut doaku ditolak, tapi yang aku lebih takutkan aku tidak diberi hidayah untuk terus berdoa." [Umar bin Khattab]



Wallahu 'alam