Rabu, 22 Februari 2017

DIBALIK SEBUAH PILIHAN



Ujian Nasional belum juga dimulai, namun para murid sudah harus menentukan pilihan universitas dan jurusan yang ingin dituju setelah lulus SMA. Menurut mitos yang beredar memilih pekerjaan dan jodoh adalah pilihan yang tersulit dalam hidup ini, karna kedua hal ini akan dijalani sepanjang sisa hidup kita, jika salah dalam memilih maka sisa hidupmu tak akan bahagia bahkan jiwa akan memberontak untuk bisa keluar dari pilihan itu lalu move on kepilihan baru hingga didapat arti sebuah kenyamanan. Buah yang saat ini kita petik merupakan hasil dari benih yang kita pilih sebelum menanamnya, karna hasil tak akan pernah mengkhiyanati sebuah pilihan. Pilihan untuk diam saja, berjalan ke kanan atau ke kiri, atau berlari lalu berhenti, semua itu akan berakhir pada sebuah tujuan sesuai keinginan ataupun tidak.
Terdengar suara sepatu pantofel mendekati ruang kelas kami yang saat itu sedang ramai atau mungkin memang selalu tak pernah sepi dengan semua gumaman 20 anak manusia yang terlahir terisolir dari dunia luar. Ya karena letak kelas kami yang diapit oleh lobi dan ruang TU serta jauh dari jangkauan kelas lain membuat kita terisolir dan memilih makan, shalat, tidur nonton TV, main PS, mengerjakan PR (ups ini PR yang baru saja di kasih ya) di ruangan kelas ini saat istirahat.
Seorang ibu cantik nan berwibawa, Bu Aisyah namanya, salah satu guru bimbingan konseling di sekolah kami, menebarkan senyum menawan sebelum masuk kelas, lalu duduk tepat di kursi guru.
“Assalamua”alaikum, selamat pagi”
“Walaikumsalam warohmatulallhi wabarokatu”
“ini ada pengumuman tentang SNMPTN undangan, setelah dilihat dari nilai rapot alhamdulillah kelas ini, semua medapatkan kesempatan untuk mendaftar SNMPTN undangan kecuali Rizal, Deni, dan Gusta. Maaf ya nak, jangan berkecil hati, kalian bertiga bisa daftar diploma yang tanpa test. Silahkan dipikirkan mau daftar mana”
Satu diantara 20 murid di kelas, yaitu aku menganggat tangan dengan wajah penuh tanya
“Kalau daftar kebidanan bisa tidak bu?”
“Kalau bisa jangan bidan atau guru ya, itu sudah sendayak koplak (terlalu banyak), sekarang itu cari jurusan yang langka agar peluang kerjanya lebih besar. Soalnya banyak sarjana yang sekarang bergelar pengangguran. Nanti coba dipikirkan lagi ya nak, kalau bisa jangan bidan ya”
Ku hanya bisa membisu, mengangguk tanda ku tak mengerti namun agar telihat menghormati. Keyakinan dan impianku tiba tiba runtuh. Harapan orangtuaku terkikis. Butir butir angan menjadi seorang bidan rasanya sudah terbawa angin kebimbangan, perkataan Bu Aisyah tak bisa dipungkiri kebenarannya. Bidan di Indonesia sudah menjamur kecuali di wilayah pelosok yang masih kental dengan budaya, mitos dan bau bau mistis.
Sebelum ini, memang ku pernah diterpa kebimbangan yang sama seoerti ini. Ibuku adalah seorang bidan, ku sangat mengaguminya meski ku tak pernah tau apa saja yang dia lakukan sebagai seorang bidan, namun hampir semua orang di dusunku Way Kekah dan dusun sekitarnya begitu menghormatinya. Dia adalah tenaga kesehatan yang pertama kali membuka praktek dan meningkatkan derajat kesehatan di dusun way kekah ini. Ku tau tentang sulitnnya perjuangannya dulu hanya lewat cerita orang orang yang ikut menyaksikan ibuku disepelekan dan tak dipercaya sebagai seorang tenaga kesehatan karna postur tubuhnya dan wajah yang masih terlihat belia, dimarahi orang pribumi asli lampung yang berwatak keras karna anaknya demam setelah diimuniasi, dan cerita pilu lainnya. Namun ibu membisu tentang itu semua, di depanku tak pernah sepatah keluhan keluar dari bibir manisnya. Oleh sebab itu ku cita-citaku dari kecil ingin menjadi seperti ibuku yaitu menjadi seorang bidan. Meski sedari kecil aku begitu takut dengan hal-hal yang berbau rumah sakit. Ketika umurku masih 2 tahun, umur dimana aku tak bisa mengingat kejadian apapun yang ku alami saat itu, tapi aku hanya mendengar cerita dari orang lain tentang aku dan keluargaku yang liburan bersama staf-staf puskesmas ke suatu danau yang tampak begitu indah (di album kenangan bapakku), danau ranau namanya. Di sana kita bermalam di sebuah penginapan yang memiliki kamar bersih dengan kasur serta nuansa kamar berwarna putih, menurut cerita ibuku di sana aku menangis dan tak mau tidur di kamar dengan berdalih bahwa kamarnya seperti kamar rawat inap di rumah sakit. Akhirnya ibuku rela menemaniku dan mendekapku saatku terlelap tidur di luar kamar dengan beralaskan tikar dan ditemani puluhan nyamuk yang haus akan darah.
Belum lagi aku dari kecil begitu takut dengan luka yang berdarah meski luka tak terasa bergitu sakit jika ku melihat ada darah, ku akan menangis histeris saat kecil seperti seorang anak yang hilang ditengah taman hiburan yang begitu ramai orang berdesak desakan layaknya antri sembako. Hingga ku dewasa seperti saat ini aku cukup sedikit pusing jika melihat darah dari lukaku ataupun luka oranglain.
Semua itu lantas tak menyurutkanku untuk menjadi seorang bidan seperti ibuku. Hingga aku pun duduk dibangku SMA, aku bisa melihat dan merasakan sebagian keletihannya saat ibuku harus bangun malam untuk berjuang bersama seseorang ibu yang rela menolak tawaran masuk surga jika dia meninggal dalam kondisi berjihad (melahirkan), demi sebuah hidup yang merepotkan untuk mendidik dan merawat anaknya. Pekerjaan ibuku tak kenal waktu, karna bayi lahir pun tak mengenal waktu lelah atau tidak, waktu malam ataupun siang. Saat kita sekeluarga pergi bersama, handphone ibuku sering bergetar yang terkadang memaksa kami untuk pulang meski itu tanggal merah maupun hari raya. Badai kembimbangan semakin kencang ketika bidan bidan yang sislih berganti ikut membantu ibuku mengeluh sulitnya mencari pekerjaan, lelahnya menjadi bidan, bahkan tak sedikit dari mereka menyesal menjadi bidan. Kini harapan itu semakin runtuh diterpa argument dari bu Aisyah, perkataannya sangat mempengaruhi pola pikirku sebagai seorang murid yang selalu setuju hampir seluruh pendapat gurunya. Telingaku serasa tertutup oleh kebimbangan, aku tak bisa mendengar dan menyimak pertanyaan yang di ajukan teman lainnya serta jawaban dari guru Bimbingan konseling itu.
“Sudah tak ada pertanyaan lagi, ibu tutup. Wasssalamua”alaikum”
“wa’alaikumsalam warohmatullahi wabarokatu, terimaksih bu guru”
Kalimat terimasih selalu kami diucapkan secara kompak setelah seseorang atau sekelompok orang berdiri didepan kelas kami untuk mengajar atau hanya sekedar memberikan informasi. Ini sudah menjadi tradisi di kelas akselerasi, konon ini inisiatif dari kakak kelas yang sampai sekarang aku tidak tau angkatan berapa yang memiliki inisiatif itu.
Sepatu pantofel itu mulai melangkah keluar ruangan bersamaan dengan itu bibir 19 murid kelasku membuka dan mulai berbincang, entah apa yang mereka bicarakan, sedang aku tetap membisu, wajahku seperti berpikir tetang suatu hal sedang pikiranku kosong. Ingin cepat menginjakan kaki di rumah untuk mendapatkan pendapat ibu dan bapak. Tanpa ridhonya aku tak akan mendapat ridho Allah, dengan murkanya aku juga mendapat murka Allah. Coba ku hapus kebimbanganku dan mulai bercengkrama dengan teman lain yang sudah terlihat mantap dengan pilihannya masing masing.
Jam dinding yang menempel di dinding kelas bagian belakang menunjukan waktu pukul 16.45 WIB, itu berarti waktu dimana para siswa diminta untuk belajar di rumah. Seperti biasa aku dengan beberapa teman yang rumahnya berjarak lumayan jauh harus melaksanakan shalat azhar dulu sebelum berniat untuk pulang karna terkadang ketika adzan magrib dikumandangkan kita masih diperjalanan atau bahkan kita masih setia berdiri di perempatan jalan menunggu angkutan sesuai tujuan kita masing masing. Seselesainya shalat semua mengambil posisi masing masing sesuai tujuannya, seorang pulang dengan tujuan wates, dua orang pulang dengan tujuan unit 2, dan aku dengan tujuan yang tak sejauh mereka, menempuh perjalnan hingga 1 jam bahkan lebih, sedang aku cukup butuh waktu 15 menit jika lanacar untuk sampai kerumah namun mobil atau angkutan dengan tujuan itu begitu jarang lewat, atau mungkin diterlintas di depan mataku namun tak mau berhenti dengan alasan tak mau menaikan penumpang anak sekolah yang ongkosnya tak seberapa. Hingga adzan magrib berkumandang, ku tetap setia berdiri di pinggir jalan dengan wajah kusam penuh kebimbangan yang mengalahkan rasa lelah karna seharian di sekolah.
“Pak, ini aku belum dapat mobil, minta tolong di jemput” sebuah pesan singkat telah ku kirim ke bapak, meski beliau sibuk bekerja namun beliau lah yang selalu menjemputku ketika ku tak mendapatkan tumpangan untuk pulang sekolah dan mengantarku ke sekolah jika ku hampir telat datang ke sekolah.
“Ya, tunggu” jawaban yang begitu singkat ini menemaniku, langit bisu dan mulai terlihat gelap menghiasi hati yang sedang dilanda kebimbangan hingga seorang laki laki datang dengan pandangan yang begitu teduh saat kaca mobil sebelah kiri mulai diturunkan, tatapan itu yang tak pernah terlewatkan dalam setiap hariku, tatapan kesabaran namun penuh ketegasan dan harapan agar aku menjadi anak yang bermanfaat bagi agama, keluarga dan Negara. Laki laki itu adalah Ummar, beliau bapak terbaik di alam semesta ini dalam versiku. Aku tak tau berapa tahun sudah laki laki itu menghabiskan waktu bersama mobil biru ini, namun yang aku tau sampai sekarang mobil ini sering membuatku mual, pusing dan muntah, ya aku masih saja mabuk perjalanan jika menaiki mobil pribadi.
Di mobil itu bibirku mulai kaku, rasanya ini bukan saatnya untuk berdiskusi, tapi jika tak sekarang pasti sesampainya di rumah ku langsung mandi shalat makan sedikit belajar dan tidur, tak ada waktu untuk berbincang. Aku yang biasa mengajukan pertanyaan tak penting hanya untuk membuat suasana tak sepi kini diam tanpa kata, dan kau yang biasanya bertanya tentang kegiatanku di sekolah hanya untuk memberikan perhatian atau memastikan tidak ada masalah, kini hanya focus memandangi jalan dengan tangan tenang mengontrol setir, hingga mataku mulai bosan dan terpejam.
Mata mulai membuka setelah mobil berhenti tepat di depan garasi, dengan kesadaran yang belum kembali penuh ku turun dari mobil dan ku masuki pintu rumah yang selalu membuatku selalu rindu memasukinya.
“assalamu’alaikum” suara yang begitu lemas membuat orang tak ingin mendengarnya, selulurh tubuhku seperti berbicara bahwa aku lelah dan butuh istrirahat
“wa’alaikumsalam, mandi dulu nduk” ibuku menyambutku dengan senyum walau sebenarnya ku tau dia lebih lelah daripadaku, tapi tanggung jawab atas perannya sebagai ibu secara harfiah membuatnya untuk selalu kuat, semangat dan sabar di depan anak anaknya. Meski kesadaranku belum penuh dan padanganku samar samar namun aku melihat tampak jelas kasihsayangnya yang tak pernah dia katakan, tanpa namun semua perilakunya membuktikan, amarahnya, perhatiannya secara tidak langsung sudah menjelaskan bahwa dia sangat menyayangi anak anaknya.
“aku shalat dulu ja bu”
Saat makan malam adalah saat yang paling tepat untuk bercerita tentang keluh kesahku di sekolah, jika yang ku ceritakan suatu kebaikanku mereka hanya diam, bukan berarti mereka acuh tapi mereka mengajarkanku agar aku tak menyombongkan diri atas apa yang ku lakukan. Ketika ku bercerita tentang hal buruk yang terjadi padaku mereka justru menyalahkanku, bukan mereka tak mendukung apa yang ku lakukan tapi mereka mengajarkanku bahwa aku tak boleh menyalahkan orang lain atas hal buruk yang menimpaku. Ketika aku bercerita tentang keluh kesahku mereka justru memarahiku dengan nasihat yang terdengar begitu bijak. Bukan mereka tak peduli padaku tapi mereka tak ingin ku menjadi orang yang tak bersyukur. Terkadang tanpa mendekteku, mereka banyak mengajarkan banyak hal padaku.
“bu, kata guruku bidan dan guru itu sudah banyak, mending cari jurusan lain yang masih langka”
“sudah banyak tapi kan memang yang diperlukan banyak”
“kelasku semuanya dapat undangan  kecuali 3 orang, aku bingung mau daftar jurusan apa habis dibilangin guruku gitu tadi”
“kalau ada ya kebidanan aja, kan kamu tinggal nerusin ibu”
Aku diam sejenak membayangkan aku menjadi bidan seperti ibuku di tempat ini, ya di desaku tercinta, “ya sudah, insyaAllah besok aku tanya guru BK ada info pendaftaran kebidanan ndak”
Kini ku semakin yakin n mantap ingin mendaftarkan diri ke jurusan kebidanan, namun keesokakan harinya
Ku temu guru BK langsung keruangannya, bersama sahabat karibku yang ingin menanyakan info tentang kedokteran hewan
“assalamu’alaikum bu”
“Wa’alaikumsalam, ada apa ini?”
Tatapanku tertuju pada sahabatku, mengharusnya untuk mulai pembicaraan terlebih dahulu
“gini, bu aku mau daftar kedokteran hewan kira kira adanya dimana saja ya?”
“wah bagus itu masih jarang yang mau jadi dokter hewan, coba ja di IPB nak”
Temanku mengangguk angguk, tampak jelas dia begitu mantap dengan pilihannya
“terus pilihan keduanya aku mau agrotecnologi UNILA saja bu”
“Ya sudah ndak apa apa” pandangan guru itu pindah kepadaku, dia menatapku dengan penuh tanya, dan aku belum berani membalas tatapannya untuk beberapa detik. Ku memaksakan bibirku untuk berucap
“bu kalau jurursan kebidanan adanya dimana?”
“ndin ndin, bidan kan sudah sedayak koplak, menjamur dimana mana, coba cari yang lain dulu”
“tapi orangtuaku mengarahkan untuk jadi bidan, aku juga pengen pekerjaan yang bisa menolong oranglain jadi sekalian ibadah bu”
“orantuamu kerjanya apa? Semua pekerjaan jika dilakukan dengan ikhlas semuanya bernilai ibadah, bukan berarti yang dikesehatan dan yang dipendidikan saja yang mendapat pahala”
“bapak kesehatan masyarakat, ibu bidan” jawabanku agak sedikit gagu
“ehmmm pantesan, gini lho din berobat itu pakai sugesti, belum tentu pasien yang sembuh dengan ibumu juga bisa sembuh denganmu. Jadi meneruskan ibumu itu tidak semudah yang dibayangkan. Kalau bisa cari jurusan yang setelah lulus itu bisa langsung kerja, kan memang tujuan utamanya kan segera dapat kerja dan tak merepokan orangtua. Bidang kesehatan itu banyak gak hanya bidan lho, kamu bis jadi analis, apoteker, fisioterapi dan lain lain, kalau memang orangtua pengennya dibidang kesehatan. Coba dipikirkan lagi, tapi semuanya terserah kamu, kamu yang mau menjalani”
“ya bu, nanti saya bicarakan sama orangtua lagi, terimaksih bu” aku dengan temanku saling berpandangan yang mengisyaratkan “ sudah? Ayo balik kekelas” lalu terucap kata “ya sudah ya bu, terimasih, assalamu’alaikum”
“walaikumsalam”
Jika kata katanya tadi membuat temanku tampak yakin, tapi sekarang kata katanya meruntuhkan kemantapanku semalam, aku mulai teobang ambing. Aku pun meninggalkan ruangan itu dengan kebimbangan, kebimbangan yang kembali hadir setelah semalam sempat pergi. Kebimbangan yang selalu datang ketika mendengar argument dari ibu guru BK, bukan berarti beliau salah dan orangtuaku benar. Argument keduany begitu benar, hanya hatiku saja yang pantas dipersalahkan karna dia telah lupa bahwa keputusan terbaik adalah dari Allah dan aku sebagai hambaNya hanya bisa memohon petunjuknya.
Di rumah yang ku lakukan bukan membicarakan apa yang guruku katakana tadi ke orangtuaku, karna ku yakin pasti orangtua punya argument untuk kontra dengan argument guruku, dan aku hanya akan terombang ambing ketika di sekolah ingin cari jurusan lain dan ketika di rumah ingin tetap menggapai citacita sebagi bidan. Waktuku hanya habis menjadi burung merpati yang mengirimkan argument antar orangtua dan guruku. Rasanya ini mempertemukan mereka dalah satu ruangan agar merka langsung berbincang tanpa harus aku jadi pernataranya.
Aku cukup membuka laptop menghubungkan dengan koneksi internet, lalu mulai bertanya pada mbah google “jurusan kesehatan yang langka”. Puluhan pilihan muncul, dan mataku tertuju pada sebuah website intitusi pendidikan kesehatan negri di Jakarta. Dalam profilnya institusi tersebut mamiliki salah satu juran yang sangat begitu asing untuk dibaca, aku tak pernah dengar tentang pekerjaan atau jurusan ini. Setelah itu ku lihat profil jurusannya, lulus pendidikan kemungkinan bisa langsung jadi PNS karna tahun sebelumnya dibutuhkan 10 orang lulusan ini namun hanya 2 orang yang mendaftar otomatis keterima jadi PNS. Jurusan eletromedik ini bekerjanya jadi kayak montir tapi yang disevice bukan mobil melainkan alat alat kesehatan. Hati mulai tertarik karna jelas jurusan kesehatan ini tak berhubungan dengan cairan merah dalam tubuh manusia yaitu darah yang begitu ku takuti.
Ku tutup laptopku dengan semangat ku keluar kamar, ku mulai melihat kekiri kekanan, mecari sesosok wanita yang ku panggil ibu, ternyata beliau masih sibuk dengan pekerjaannya. Hanya kudapati bapakku yang duduk sedang bersantai didepan televise dengan pandangan mata tertuju pada Koran ang ada ditangannya. Ku mencoba mendekat dengan wajah yang berpura pura ingin menonton TV, 5 menit sudah ku berpura pura menonton TV, dank u muali perbincangan
“Pak, aku pengen daftar jurusan eletro medic ya, habis lulus bisa langsung jadi PNS lho pak, soalnya lebih banyak yang dibutuhkan pemerintah daripada jumlah lulusannya”
“itu kerjanya ngapain?” dengan wajah tetap focus pada Koran yang begitu terbuka lebar ditangannya
“kayak benerin alat alat kesehatan di rumah sakit gitu”
“itu kan pekerjaan laki laki” Koran ditangannya diletakan diatas meja, tatapan matanya mulai terfokus padaku “bapak dan ibu kan sudah mengarakan, bapak dan ibu Cuma mau yang terbaik untuk anak anaknya, tapi semua kembali lagi ke kamu”
Tanpa sepatah katapun ku ucap, ku menunduk untuk 30 detik saja setelah bapak selesai mengatakan itu, lalu aku langsung pergi dihadapannya. Bapak pun kembali mengambil korannya
Aku tak mengerti saat itu aku begitu kecewa, apakah orangtuaku seperti yang dikatakan media, orangtua modern yang memaksaakan keinginannya pada anak dan tidak memberikan hak untuk anak memilih. Sejak itu ku memilih untuk bungkam, menyendiri di kamar dan jarang makan di rumah.
Berangkat sekolah aku yang biasanya tak pernah melangkahkan kaki keluar pintu rumah tanpa menjabat tangan kedua orangtua dengan harapan jika ku mendapat restunya maka aku juga mendapat restu Allah. Seketika pergi tanpa sepatah kata pun. Sejak SMP kami dibiasakan dengan jatah uang saku seminggu, dengan tujuan agar kami dapat merencanakan uang tersebut bisa cukup dari hari senin sampai sabtu. Sehingga hari jum’at ketika ku meninggalkan rumah tanpa berpamitan dengan orangtuaku aku masih memiliki uang saku yang telah diberikan pada hari senin.
Kekecewaanku begitu merasuk, akal sehatku mungkin butuh obat agar benar benar sehat, perasaanku begitu beku. Yang ada dibenakku hanya kemarahan kepada kalian. Sepulang sekolah ku kembali menyendiri di kamarku yang memang jauh dari jangkauan orang. Di lantai dua hanya ada kamarku dan kamar saudara laki lakiku, ibu dan bapak jarang ke lantai dua karna itu begitu menguras tenaga, hanya saja kita yang harus turun untuk sekedar kumpul dan bercanda, membicara hal yang terbilang penting namun tak sepenting kebersamaan.
2 hari berlalu dengan kebisuanku, kebekuan suasana rumah, kesendirianku di dalam kamar kecilku. Aku sebenarnya tak tega lakukan ini semua namun hatiku memberontak hingga ibu angkat bicara.
Awalnya ada sms yang masuk, sambil kubayangkan wajah ibuku kubaca pesan singkat itu
“din, kamu kenapa? Makan yuk, nanti sakit. Kamu marah sama ibu?”
Tak tertahankan lagi, air mata sudah membahasahi pipi, HP lepas dari genggaman dan tergeletak di atas kasur, ku menangis tersedu sedu tanpa sanggup membalas pesan singkat itu. Namun ku tak peduli bagaimana perasaan seorang ibu yang di diamkan oelh anaknya beberapa hari. Berkata “ah” saja dilarang oleh Allah, apalagi hingga membuatnya merasa sskit hati karna kebisuanku. Dosa itu sudah tak terpikir karna pikiran kotorku, karna kebingungan yang begitu menusuk otakku.
Pesan singkat tak mampu memecah kebisuanku, ibu pun terus berusaha dengan cara lain agar tembok kekecewaanku yang tak dia mengerti bisa hancur. Terdengar suara ibu memanggilku dari bawah tangga,
“andini, kamu kenapa nduk?”
“gak papa” dengan nada begitu datar, 2 kata singkat yang menyimpan ribuan keluh kesah
Suara langkah kaki mendekati pintu kamarku, suara ketukan yang berasal dari pintu kamarku memaksaku untuk membuka pintu, namun tangan ini tak mampu, masih tetap berpangku.
“din, kamu kenapa? Kok diemin ibu gini? Ibu salah apa?”
Sepatah kata pun tak keluar dari bibirku, hanya air mata yang menetes begitu deras
“buka pintunya din, kamu ini kenapa? Ibu ini ndak tau apa apa kok kamu diem gini?”
Aku sudah tak mampu tetap bertahan berpangku tangan, ku buka pintu kamarku dengan air mata yang membasahi pipiku
Tanpa diisyaratkan kami pun berdua duduk berdekatan dipinggir tempat tidur
“kamu kenapa?” Ibuku menatapku tepat di bola mataku yang kebanjiran air mata
Dengan sangat kaku ku gelangkan kepalaku, dengan tetesan air mata yang semakin deras, “ibu hentikan tatapan yang penuh harapan itu, aku tak sanggup menahan air mata ini jika ka uterus menatapku seperti itu” dalam hatiku bergejolak ribuan kata yang tak bisa terungkap oleh bibir
Seketika menetes pula air dari mata yang teduh dan penuh harapan itu.
“Ibu ini gak tau apa apa tapi kamu diemin gini ya ibu juga bingung. Kalau kamu ndak mau kuliah kebidanan ya bilang, jangan diemin ibu kayak gini. Ibu dan bapak cuma mengarahkan yang terbaik untuk anaknya. Kalau anaknya ndak mau ya sudah”
Tatapan matanya beralih ke arah lantai, ibuku menunduk dan meneteskan air mata
“bukan gitu, aku kasihan lihat ibu capek banget harus bangun tengah malam, mbak mbak sering cerita jadi  bidan itu susah cari kerjanya. Kemarin aku cerita sama bapak, bapak ndak terlalu nanggepin”
Kembali menatapku dan berdiri dihadapanku
“ din ibu itu ngelakuin itu semua ikhlas, kalau ikhlas itu ndak akan terasa capek. Rezeki itu sudah ada yang ngatur jangan khawatir. Ibu sudah susah payah buka praktek, kalau kamu ndak mau jadi bidan terus ibu sudah pension, yang nerusin ibu siapa?” dengan nada lirik dan tetesan air mata yang membasahi pipinya
Air mata semakin tak bisa dibendung, ku peluk erat tubuh ibuku “ya bu aku mau jadi bidan, aku saying sama ibu”
Hampir 17 tahun sudah aku hidup bersama ibuku tapi baru kali ini aku katakana aku saying padanya. Kata itu selalu terkunci dengan gembok yang diberi nama gengsi.
Rasanya aku seperti orang bodoh, bisa bisanya ku marah kepada kedua orangtuaku, mendiamkannya tanpa mereka tau alasannya ku diam. Ini bukan kali pertamanya bebrapa kali ku lakukan ini, dan ku selalu menyesal setelahnya. Aku hanya anak kecil dimata meraka, ku tak pernah bisa dewasa dihadapan mereka, orang yang paling ku sayangi.
Aku harusnya bersyukur, mereka mendukungku untuk kuliah, mungkin jika ku lahir bukan dari rahim ibuku dimasa islam sudah diakui sebagai agama yang benar mungkin aku sudah dikubur hidup hidup
Sesuai dengan yang diriwayatkan dulu pada zaman jahiliyah memiliki anak laki laki adalah suatu kemuliaan dan memiliki anak perempuan sebaliknya, itu aib keluarga. Sehingga pada kaum….. banyak terjadi bayi perempuan baru lahir langsung di kubur.
Sedang aku saat ini, walaupun aku terlahir dengan jenis kelamin perempuan, ibu dan bapak memperlakukanku sama spesialnya seperti kedua saudara laki lakiku, meski mungkin aku tak terlahir secerdas mereka. Mereka yang sejak SD sering mendapatkan peringkat pertama, sedangkan aku tak pernah masuk ranking 3 besar. Tapi orangtua mengizinkanku dan memberikan segala fasilitas yang mendukung sekolahku. Doa yang sering ku ucap saat kekhuyukanku mulai terbentuk “Ya Allah, izinkanku membuat orangtuaku bangga memiliki anak sepertiku, meski ku tak sepandai kedua saudaraku” do’a ini yang membuat pipiku basah karna air mata. Orangtua ku akan lebih bahagia dibanding diriku ketika aku mendapat kesuksesan. Sukses di sini bukan berarti memiliki penghasilan bermiliran, menjadi mahasiswa lulusan terbaik, cukup menjadi orang sesuai harapan. Aku pun pernah membuat status pada media sosial “aku ingin membuat ibu dan bapak bangga”, kementar dari bapakku cukup membuatku meneteskan air mata kebagiaan “menjadi anak yang sholeh dan berbakti kepada orangtua saja sudah cukup membanggakan bapak sama ibu”
Suasana rumah kembali netral, semua kegiatan berjalan seperti biasa, namun dengan harapan dan keyakinan yang berbeda.
Ku temui guru BP penuh dengan kemantapan, ku yakin kali ini aku tak akan memikirkan pendapatnya.
Aku ingin lulus kuliah langsung kerja jadi ndak merepotkan orangtua, aku tanyalah ke mbah google, katanya ada jurusan yang hampir setiap tahun dibutuhkan Negara yaitu tehnik eletromedik dan itu hanya ada di poltekkes Jakarta, mungkin karna aku sedikit tomboy aku ingin sekali masuk di jurusan itu. Tapi tanpa kata orangtua menanggapiku, ini mungkin hanya miss komunikasi. Beberapa hari egoku memuncak, ku kecewa marah kepada orangtuaku yang menurutku sekarang mereka tak salah. Setelah tiga hari ku marah kepada mereka, ibuku mengetuk pintu kamarku, namun aku tetap bersih kukuh tak ingin membukakan pintu, aku merasa orangtuaku terlalu memdbatasiku, suara keras ibuku menjadi lirih, aku tak sanggup mendengarnya. Ku buka pintu kamarku dengan wajah penuh dengan air mata, pembicaraan dimulai, dengan intonasi yang lembut beliau menasehatiku, kenapa engkau anakku marah kepada kami? Apakah engkau tau Ibu khawatir? Ibu dan bapak tak memaksamu untuk jadi bidan tapi jika ibu tua nanti dan pensiun apakah tempat praktek ini akan tutup begitu saja, Allah telah mengatur rezeki kita” Suara lembutnya berbaur dengan tetesan air mata, membuatku langsung menangis di atas pangkuannya, ku peluk dia yang duduk di kasurku. “ibu, maafkan aku, aku hanya kasihan melihat ibu sering bangun malam, ya aku mau jadi bidan, aku sayang ibu”.
“jika andini ikhlas maka semuanya kan terasa ringan” Suara lembut itu yang jarang terdengar kembali menenangkanku, menahan segala amarahku sebelumnya, menyatukan reruntuhan harapan yang telah hancur berkeping keping. Dalam hatiku ku mulai susun tekat terkuat “aku akan jadi bidan lebih dari ibu, minimal seperti ibu. Aku akan mengeringkan air mata ibu dan mengubahnya dengan senyum bangga melihatku berjuang membantu melahirkan bayi ke dunia dengan ikhlas seperti yang ibu lakukan sampai saat ini”
Suasana kembali seperti biasanya, canda gurau mulai ramai menghiasi setiap sudut ruang rumah kita. Rasanya tak pernah terjadi perangdingin, badai berlalu begitu saja, air mata kesedihan telah kering berganti senyum dan tawa yang terlukis pada bibir setiap anggota keluarga kami. Sudah tak ada kebimbangan yang bersarang pada diri ini.

Minggu, 19 Februari 2017

FILOSOFI MAWAR

Jika hampir seluruh orang suka mawar tidak denganku dahulu, aku sangat tidak menyukainya karena baunya. Aku pernah mabuk kendaaran di waktu aku masih kecil karena membawa mawar ke dalam mobil dan baunya membuatku pusing hingga ku harus mengeluarkan seisi perut. Selain mawar aku tidak suka segala hal yang berbau wangi yang menyengat.

Kini semua berbalik 180 derajat, aku begitu mengagumi bunga yang banyak memiliki duri ini. Ternyata tak semua bunga mawar wangi, tak semua sama, banyak jenisnya yang jelas semua mawar berduri. Ingin ku berikan sajak sederhana untukmu mawar


Mawar
Ku pandangi rupamu
Mahkotamu yang bertumpuk
Sungguh menawan
Seakan menunjukan
Sesuatu yang bersatu
Akan menhasilkan kedamaian

Durimu yang tajam sebagai pelindung diri
Menghadap ke arah bumi
Seakan mengajarkan pada diri ini
Tak boleh sombong di dunia fana ini
Meski kaya, kuat dan pandai
Tetaplah kita ini hanya hamba

Tak hanya duri, daunmu juga melindungi
Dengan sisi yang bergerigi
Membuat orang enggan memiliki
Hanya dia yang bersungguh sungguh berhasil memiliki
Seperti seorang muslimah
Pakaian yang sesuai syarih
Tidak telihat menarik
Tapi bisa melindungi dari orang jahat
Dan hanya lelaki sholeh yang bisa mendapatkannya

Tanpa duri mungkin kau tak akan dikagumi
Layaknya bunga dipinggir jalan
Jangankan dikagumi, yang ada justru dibasmi
Durilah yang membuatmu tetap indah

Harummu semerbak
Membuat orang ingin mendekat
Layaknya wanita sholehah
Tanpa kata, kebaikannya sudah tercium

Sajakku memang tak indah tapi setidaknya sajakku tak merusak keindahanmu. Tak ada yang tak sempurna dari ciptaan Nya. Ku harap ku dapat jadi mawar ditepi jurang yang gelap. Tak terlihat indah dimata manusia karena gelap namun sesungguhnya tetap indah disisi Allah. Tak sembarangan orang yang bisa mendekati dan memiliki karena rintangannya jurang yang memiliki resiko tinggi.

Sabtu, 18 Februari 2017

INDAHNYA MUSIBAH

Tak ada manusia yang hidup tanpa masalah karena selama jantung yang berdetak, dia akan memompa ujian sehingga mengalir dalam darah. Tanpa adanya masalah otak kita akan lemah layaknya pisau yang tak pernah diasah, syukuri masalah yang ada maka Allah akan berikan solusinya.

"Orang-orang yang hidup senang (didunia, jarang terkena musibah), kelak pada hari kiamat menginginkan kulitnya dipotong potong ketika di dunia, karena mereka melihat betapa besarnya pahala orang-orang yang tertimpa cobaan di dunia" (HR. Baihaqi: 6791, dinyatakan Shahih oleh Albani, lihat ash-Shahohah: 2206)

Allah menggantikan segala deritamu dengan nikmat
Segala lukamu dengan kesembuhan
Segala kesulitanmu dengan kemudahan
Segala rintihmu dengan kebahagiaan
Segala tangismu dengan tawa
Segala dukamu dengan suka
Dan kelak semua kenikmatan itu akan ditambah dengan memandang wajah Allah jalla jalauhu
(Ustadz Syafiq Basalamah)

Dari 25 nabi dan rasul yang wajib kita ketahui hampir seluruhnya menderita kemiskinan, hidup penuh cobaan di dunia demi untuk mendapatkan kebaikan di akhirat. Ujian nabi dan rasul lebih dari kisah protagonis yang selalu dijahati oleh antagonis dalam sinetron atau film buatan indonesia, bayangkan saja nabi ayyub yang sakit kehilangan harta dan keluarga bertahun tahun, nabi ibrahim tak kunjung dikaruniai keturunan, dimusuhi hingga dibakar, nabi muhammad selama 40 tahun mendapat kepercayaan namun ketika diberi wahyu sebagai rasul, Rasulullah dibenci dan berusaha dihabisi. Namun dalam setiap musibah itu ada pertolongan Allah selain itu musibah disertai taqwa membawa kemulian di sisi Allah. Maka berbahagialah bagi orang orang yang mendapat musibah yang bisa mendekatkan diri kepada Allah.

Namun jika musibah menjauhkan kepada Allah maka itu namanya azab. Ini bukan tentang musibah atau nikmat tetapi apakah keduanya bisa mendekatkan kepada Allah atau tidak.

Jumat, 17 Februari 2017

JALAN DAKWAH

"Jon, di desa kita ada warung jual miras. Ayo kita tindak!"
"Nggak usah. Yang penting jadi orang baik."

Sebulan kemudian.

"Jon, para pemuda mulai suka mabuk-mabukan di warung itu. Ayo kita tindak sebelum terlambat!"
"Buat apa? Lha wong mereka juga nggak ganggu kita, kok."

Sebulan lagi berlalu.

"Jon, sekarang warung itu dibangun tambah megah. Nggak cuma jual miras, sudah ada pelacurnya juga. Setengah penduduk desa sudah jadi pelanggan. Kalau kita tidak menindak sekarang, besok-besok kita nggak akan punya kekuatan lagi."
"Urus diri sendiri dulu, nggak usah ngurusin orang lain."

Setahun kemudian.

"Jon, desa kita sudah jadi pusat maksiat. Masjid mau dirobohkan. Kamu, sebagai ta'mirnya, juga akan diusir."
"Lho, lho. Kok gitu? Ya jangan gitu, dong. Ayo kita lawan mereka!"

"Sudah terlambat, Jon. Kita sudah jadi minoritas. Dulu saat mereka dengan getol menanamkan ideologi dan memperluas kekuasaan, kita cuma sekedar jadi orang baik. Ternyata itu tidak cukup."

Di dunia ini setidaknya terdapat empat golongan orang dalam berislam :

Golongan pertama : "orang Islam yang berilmu Islam, menjalankan Islam, berakhlaq Islam dan sangat perduli dengan urusan umat Islam."

Golongan kedua : "orang Islam yang sedikit berilmu Islam, menjalankan Islam, tapi tidak perduli dengan nasib umat Islam."

Golongan ketiga : "orang Islam yang tidak mempunyai ilmu Islam, tidak menjalankan syariat Islam dan tidak perduli terhadap urusan Islam."

Golongan keempat : "orang Islam yang belajar Islam, menjalankan sebagian syariat Islam, suka mengkritik dan terkadang benci terhadap Islam dan umat Islam, dan tidak perduli terhadap urusan umat Islam."

Sayangnya, golongan pertama adalah minoritas, sedangkan golongan kedua dan ketiga mayoritas, dan golongan keempat sedikit jumlahnya tapi besar bahayanya.

Itu adalah penjelasan dari DR. Hamid Fahmy Zarkasyi (Wakil Rektor Universitas Darussalam Gontor Ponorogo) yang aku dapatkan dari group WA. Aku tak tau harus tabayun kemana, jadi mohon maaf dan dingatkan jika ada kesalahan.

Sekarang kita ambil sisi positif dari broadcast tersebut, ini waktunya kita jadi golongan yang pertama, di lingkunganku mungkin bisa jadi lingkungan kalian juga hamil di luar nikah sudah biasa, minuman keras mudah didapat, dan sekitarnya narkoba meraja lela. Dan aku gak tau apalagi kemaksiatan yg ada.

Manusia yang bangun di pagi hari tidak memikirkan masalah umat islam maka bukan termasuk golongan umat islam. Apakah kita termasuk manusia yang bangun hanyaemikirkan dunia tapi sudah merasa cukup dengan keislaman kita, tak peduli masalah umat, hanya fokus dengan urusan dunia.

Lalu bagaimana caranya? Minimal tholabul ilmi n dakwah, amal ma'ruf nahi mungkar. Dari hal sepele, ajak keluarga, sahabat, temen dalam kebaikan. Ingatkan jika ada keluarga, sahabat, temen yg berbuat salah. Kaitkan segala hal dgn agama sesuai ilmu yang telah diterima. Jangan cuek sama masalah oranglain, jika tak bisa menolak sesuatu yang tidak baik dengan perilaku ataupun lisan, minimal dengan hati. Contoh yang sederhana, kita biasa saja lihat wanita" tak menutup aurat padahal itu adalah sesuatu yg wajib, jika kita kenal mungkin kita bisa ingatkan, untuk sesama wanita bisa saling menghadiahkan jilbab, jika tidak kenal minimal dido'akan

Inilah indahnya islam, kita dengan yang lain adalah saudara yang wajib mengingatkan. Tapi peran media sangat berpengaruh, selalu di kisahkan seseorang yg ikut campur urusan oranglain itu celaka. Ikut campur itu memang ada batasnya, jika masalahny tentang aturan Allah yang dilanggar kita wajib menolaknya baik lewat tindakan, lisan atau hanya perasaan.

Tapi ingat saat menegur atau menasehati harus dengan cara yang baik, tegur jangan didepan umum, dekati dan sampaikan secara halus. Selian itu media dan fasilitas yg semakin mudah biada digunakan untuk berdakwah. Ingat saudaraku semua nikmat diminta pertanggungjawabannya. Tubuh sehat, pikiran yang jernih, HP, internet, laptop yg telah Allah berikan kelak akan ditanya digunakan untuk apa? Harus kita gunakan semua itu selain untuk menunjang kehidupan dunia karena Allah tapi juga untuk membela agama Allah

Kamis, 16 Februari 2017

SYUKUR YANG SULIT TERUCAP

Kenapa syukur hanya diucap saat penderitaan menerpa telah hilang, saat sehat telah didapat setelah sakit, saat punya waktu luang setelah banyak kesibukan? Bukankan sebelum sakit Allah memberi kesehatan namun kita menghargainya setelah nikmat sehat telah diambil kembali oleh pemiliknya. Ini lah penyakit manusia selalu amnesia dengan nikmat yang ada tapi selalu ingat sedikit penderitaan yang diterima.

Aku jadi teringat tausiyah, ustadz Kholid Basalamah tentang kisah urwah, seorang ulama terkemuka. Saat beliau diundang oleh khalifah beliau membawa putranya yang hafal al-qur'an dan banyak hadist. Putranya ingin melihat kuda kuda yang ada dikerajaan, namun ketika urwah dan khalifah sedang berbicang ada pelayan kerajaaan yang mengabarkan bahwa putra urwah menginggal karena tertendang kuda. Urwah hanya mengucapkan "innalillahi wa innailahi rajiun" lalu segera mengurusi jenazahnya, memandikan hingga proses penguburan urwah lakukan dengan tenang.

Andai ini terjadi padaku mungkin tangis selalu mengiringi prosesi, aku mungkin akan menyalahkan takdir dan selalu bertanya kenapa yang meninggal harus anakku yang sudah hafal al-qur'an dan banyak. Namun urwah adalah orang alim, beliau tahu bahwa semua akan kembali kepada pemiliknya yaitu Allah. Kita tidak berhak mengatur dan menyalahkan takdir yang Allah berikan karena Allah yang Mahamengetahui apa yang terbaik.

Saat proses penguburan kaki Urwah terkena penyakit bernama gorgorina, kakinya harus diamputasi segera. Tabib terbaik didatangkan oleh khalifah, Urwah diminta meminum khamar (ini sebagai obat bius zaman dahulu), namun Urwah menolak dengan alasan saat beliau sehat beliau tidak pernah minum sesuatu yang haram begitu juga saat sakit. Tabib sempat bingung dan didatangkan beberapa algojo untuk memegangi Urwah, beliau tetap menolak. Tabib semakin bingung, Urwah pun memerintahkan tabib memotong kakinya saat urwah berdzikir dan wajahnya memerah. Ketika dilakukan pemotongan sesuai perintah urwah, nada suara dzikir dan mimik wajah urwah tak berubah padahal hingga tulangnya lun telah terpotong. Pemotongan pun berjalan lancar, tabib menepuk urwah untuk memberi tau bahwa kakinya sudah dipotong. Masalah baru muncul darah tak berhenti mengucur, zaman dahulu jalan satu satunya hanya mencelupkan di minyak mendidih. Urwah pun mulai berdzikir, saat wajahnya memerah, kaki urwah dicelupkan dalam minyak, namanya juga manusia, urwah pun pingsan.

Urwah adalah orang yang sangat cinta pada Al-Qur'an, beliau tidak pernah melewatkan membaca 10 juz perhari kecuali hari ini. Urwah pun sadar dan meminta kakinya yang dipotong tadi, beliau menganggakat kakinya dan berkata "Alhamdulillah yang telah membuat kaki ini tidak pernah 1 kali pun saya langkahkan ke tempat maksiat, sekarang waktunya kamu kembali kepada-Nya"

Singkat cerita saat para teman dan tetangga sudah dirumah urwah untuk takziah, urwah berpesan, tidak perlu kalian sedih berlebihan, begitu banyaj nikmat yang Alllah berikan, saat Allah ambil satu kaki saya, Allah masih menyisakan 1 kaki dan 2 tangan untuk saya, saat Allah mengambil anak saya, Allah masih menyisakan 3 anak untuk saya, bukan kah lebih banyak yang Allah tinggalkan daripada yang Allah ambil. Dan ketika kalian bershodaqoh jangan menganggap itu sesuatu yang sepele dengan memberikan barang yang buruk pada oranglain, anggap saja kalian sedang memberikan hadiah kepada Allah. Berikan barang yang kalian malu ketika memberikannya kepada pemimpin suatu kaum.

Sebagai contoh, ketika kalian diundang dan diminta gubernur untuk membawa buah ke rumahnya kira kita kalian akan membeli buah dipinggir jalan dengan kantong plastik biasa atau lebih memilih membeli buah di supermarket lalu disusun dalam keranjang? Pasti memilih yang di keranjang untuk gubernur namun jika yang meminta adalah orangtua, kita akan membeli sembarangan padahal berbakti kepada orangtua itu wajib.

Kembali ke rasa syukur, sudahkah rasa sehat yang telah Allah berikan bertahun tahun telah kita syukuri? Masihkah keluh dan kesah selalu terucap? Jika nikmat masih sulit dirasa dan syukur sulit terucap, maka bergaullah, dan lihatlah saudara kita yang lebih menderita dibanding kehidupan kita. Jika kita tak bisa kuliah, masih banyak saudara kita yang makan belum tentu setiap hari. Jika kita makan dengan lauk seadanya, maka masih banyak saudara kita yang makan saja tak bisa karena sakit yang diderita. Janji Allah itu pasti, jika nikmat itu disyukuri maka Allah akan menambahnya tapi jika kita kufur maka azab Allah sangat pedih (bukan hanya tak ditambah nikmatnya tapi mendapat azab juga).

Rabu, 15 Februari 2017

AKU INGIN JADI IBU

Tak pernah ku temui seorang wanita yang ingin melewatkan kesempatan menjadi seorang ibu. Mungkin terlihat melelahkan saat memiliki berbagai keluhan selama 9 bulan 10 hari mulai dari mual, muntah, lemas, pusing, sesak, sering buang air kecil, pegal pegal karena itu memang perubahan yang normal terjadi pada wanita hamil, bukan suatu penyakit tapi tetap saja itu sangat membuat tidak nyaman dan hal tersebut akan hanya dirasakan oleh sang istri serta sulit dipahami oleh sang suami. Istri hanya butuh perhatian, kasih sayang dan dihargai, dengan ini mungkin segala rasa tidak nyamannya bisa berkurang dan kehamilan pun berjalan begitu menyenangkan.

Dengan berbagai keluhanselama  9 bulan 10 hari tak membuat wanita menyerah, dia tetap ingin dipanggil ibu oleh anak yang ada dalam kandungannya. Penjuangannya untuk melahirkan anaknya seperti berperang dijalan Allah yaitu berjihad yang ketika ajal menghampirinya surga menjadi ganjarannya. Jeritannya bukan menandakan dia tak ingin menjadi ibu tetapi sakitnya melahirkan melebihi sakit yang mampu dirasakan oleh manusia. Aku adalah seorang bidan yang telah hadir di tengah tengah proses puluhan persalinan. Saat pertama melihat proses persalinan, satu orang yang pertama ku ingat yaitu ibu, tak kuasa ku menahan tangis, mataku pun berkaca kaca, aku sering menyusahkannya semenjak dalam kehamilan tapi bukannya berterimakasih aku jutru sering marah dan ngambek saat keinginanku tak dituruti, aku ngeyel saat dinasehati. Kini mulai lebih ku jaga kata kata ku padanya terutama ketika dia semakin menua, perasaannya semakin sensitif.

Proses melahirkan tak akan pernah terlupakan, bahkan sebagian ibu akan ingat jam, hari, dan bagaimana proses yang dialaminya hingga akhir hayatnya. Namun tak sampai di situ sulitnya seorang ibu, dia harus menyusui anaknya, tidurnya tak tenang karena tangis bayi di setiap malamnya, biasanya pergi kemana saja bisa tapi kini ada anak yang harus dijaga. Meski lelah terus menerpa tak pernah ibu menyalahkan kehadiran anaknya. Ibu adalah guru pertama yang menajari kita berjalan dan berbicara.

Aku pernah menonton sebuah video yang aku tidak tau video itu dibuat dimana, yang jelas bukan di indonesia, video itu ku dapat dari group. Ada sebuah lowongan pekerjaan khusus, beberapa orang diwawancarai dengan pertanyaan yang sama dengan waktu dan jawaban yang berbeda, wawancara hanya dilakukan 4 mata. A, B, C dan D adalah pelamar pekerjaan yang di interview.

Penginterview : "profesi yang dibutuhkan adalah pengawas pertumbuhan. Tidak perlu banyak tugas hanya harus sabar dan bertanggungjawab. Pertama tama kamu harus banyak tenaga karena akan banyak berdiri dan membungkuk"

A : "membungkuk?"
B : "sepertinya ini pekerjaan berat"
C : "hari kerja berapa hari?"

Penginterview : "seminggu lebih dari 135 jam. Seminggu 7 hari kerja, bisa dibilang 24 jam siaga kerja"

A : "jadi 1 tahun 345 hari?"
B : "tidak ada libur?"

Penginterview : "tidak ada libur, hari buruh, imlek, dan libur nasional semua tidak libur"

A : "orang bukan mesin, perlu istirahat"
B : "kalau begitu melanggar peraturan perundang undangan"

Peinterview : "pasti sesuai aturan"

A : "kalau begitu harus ada waktu makan dan tidur"

Penginterview : "kamu boleh makan setelah klien sudah makan, profesi ini memang permintaan yang berat. Negosiasi dengan klien perlu teknik komunikasi yang baik. Kamu juga harus mampu mengelola keuangan, konsumsi, pengobatan dan kemampuan kesenian"

A : "harus bisa masak?"
B : "pengobatan, terlalu berat"

Penginterview : "kalau klien lapar kamu harus segera kasih makan. Jaga nutrisinya, kalau dia sakit, kamu harus segera ketahui masalahnya"

A : "ini agak terlalu melantur"

Penginterview : " ini benar benar, tidak main main. Harus serba bisa, kamu akan bekerja di situasi yang tidak menentu. Kamu harus merubah pola hidupmu yang lama"

A : "keterlaluan permintaan ini"
B : "ini terlalu kejam"
C : "orang biasa tidak akan bisa melakukannya"
D : "saya rasa tidak ada orang yang sanggup melakukannya. Pekerjaan seperti itu gajinya berapa?"

Penginterview : "menurut kamu pantasnya berapa?"

A : "paling gak 250 juta / tahun"
B : "tidak bisa kurang dari 1,25 miliyar / tahun"
C : "dikasih berapapun, saya tidak mau"

Penginterview : "taukah kamu siapa yang bisa melakukan profesi ini?"

A, B, C, D : "tidak tau, siapa?"

Penginterview : "ibu"

A : "ya, ibu" (mata berkaca kaca)
B : "Ibu, saya akan berterimaksih padanya"

Begitu berat tugas seorang ibu rumah tangga namun kurang dihargai. Andai ada sebuah pekerjaan yang dibayar untuk menjadi ibu mungkin tak ada yang sanggup membayarnya. Jika anak ingin membalas budi ibunya, hingga akhir hayat mungkin dia tak akan bisa karena tak ada hal yang sebanding dengan segala pengorbanan dan perjuangannya. Pantas jika Allah sangat memuliakan seorang wanita terutama ibu hingga Allah menurunkan surat dalam al-Qur'an khusus untuk wanita (muslimah) yaitu surat an nisa.

Meski aku belum menjadi ibu namun aku sedikit paham alasan pengorbanan seorang ibu yaitu atas dasar kasih sayang. Cinta yang membuatnya rela melakukan apa saja demi anak. Mendapat pelukan dari seorang anak itu rasanya luar biasanya, aku pernah menggendong anak oranglain umurnya sekitar 2 tahun, saat ditakut atau ada orang yang ingin mengendongnya tapi dia tak mau, dia langsung mendekapku, aku bisa merasakan jantungnya berdetak di dekat jantungky, entah getaran apa yang ku rasakan namun aku sangat merasa tenang dan sangat bahagia, aku seperti telah menjadi super hero yang melindunginya dalam dekapku. Mungkin ini yang dirasakan para ibu, saat anaknya merasa terancam selain Allah, orang yang pertama dia sebut adalah ibu.

Ya Allah izinkan seluruh muslimah di dunia ini menjadi ibu terbaik yang melahirkan dan mendidik generasi terbaik untuk memperjuangkan agamamu. Aku ingin menjadi seorang ibu meski pekerjaan itu berat dan melelahkan.



Senin, 13 Februari 2017

JODOH VS KEMATIAN

Teruntuk para jomblo khususnya

Jika kau sedang menunggu seseorang yang akan menggenapkan sebagaian agamamu, berarti kita senasib. Aku dan teman temanku memilih untuk jomblo sampai halal bukan karena kami tidak laku atau tidak mau usaha mencari jodoh tapi kami tak ingin berusaha dengan cara yang tak diajarkan Rasulullah. Islam telah mengatur segala aspek kebidupan manusia, tak ada yang terlewat dan terlupakan apa yang di sampaikan Rasulullah, semua sudah sempurna.

Bicara tentang menikah, ada yang pacaran lama tapi nggak nikah nikah, ada yang coba ta'aruf tapi gagal terus, ada yang menunggu dan berdo'a nama seseorang tapi ternyata jodoh oranglain. Ya begitulah prosesnya, berbeda beda setiap individu meski tujuannya sama, namun jika kita mau ada pahala disetiap prosesnya maka ikuti aturan Sang Pencipta. Gak pacaran cuma teman tapi mesra, ya sama saja, Allah tidak melarang pacaran tapi melarang mendekati zina, jadi apapun istilahnya kalau itu mendekati zina dosa (ingat mendekati belum sampai zina sudah dosa)

Sedangkan untuk saudaraku yang sudah mengikuti aturan Allah, aku tau engkau penuh dengan rasa khawatir, engkau ingin segera menikah karena takut mendekati zina tapi banyak halangan yang menghadang, mulai dari belum ada jodohnya, masih kuliah hingga belum dapat restu orangtua. Tenanglah wahai saudaraku, niatmu memang baik tapi Allah lebih tau yang terbaik. Lebih baik menikah sedikit lambat dengan orang yang tepat daripada menikah cepat cepat dengan orang yang tidak tepat.

Mohonlah pada pemilik Alam semesta, bukan dengan menyebut namanya agar menjadikannya jodohmu, itu hanya membatasimu untuk mendapatkan yang lebih baik darinya dan do'a itu tidak diajarkan oleh Rasulullah. Namun harus engkau sebut namanya dalam istikharahmu.

"Ya Allah, aku memohon pilihan kepadaMu dengan ilmu-Mu, aku memohon kemampuan kepada-Mu dengan kekuasaan-Mu, dan aku memohon kepada-Mu keutamaanMu yang agung. Sesungguhnya Engkau Maha kuasa, sementara aku tidaklah kuasa. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui sementara aku tidak mengetahui. Dan engkau adalah Dzat yang Maha Mengetahui hal hal yang ghaib. Ya Allah, bila Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebutkan apa yang menjadi persoalannya) lebih baik dalam agamaku, hidupku dan akhir urusanku kelak (dalam jangka pendek ataupun panjang), maka takdirkanlah hal itu bagiku kemudian berkatilah aku dalam hal tersebut. Dan apabila Engkau mengetahui bahwa perkara ini tidak baik dalam agamaku, hidupku atau akhir urusanku kelak, (dalam jangka pendek atau panjang), maka jauhkanlah perkara tersebut dariku dan hindarkanlah duriku darinya, lalu takdirkanlah yang baik buat diriku bagaimanapun adanya, kemudian buatlah aku ridha dengannya" (HR. Al-Bukhari, (VII/162)

Mungkin dimatamu seseorang yang kau yakini jodohmu terlihat baik tapi bisa saja dia hanya menampakan kebaikannya saja di depanmu padahal banyak perangai buruk yang dia sembunyikan. Yang tahu isi hati dan masa depan seseorang hanya Allah makanya diperlukan istikharah dalam menentukan pilihan tak hanya jodoh, bahkan semua pilihan harus meminta petunjuk Allah yang Maha Mengetahui.

"Ya Allah semoga si A jadi jodohku jika bukan mohon di cek lagi mungkin ada yang salah" ini do'a yang sangat salah dan dapat merusak aqidah, Allah itu Maha Mengetahui, jangan meminta sesuatu yang tidak baik karena diri kita sendiri belum tau apa yang baik untuk kita.

Setelah hari demi hari dilewati oleh para jomblo dengan kegiatan menunggu jodoh, apa pernah terbesit di dalam pikiran kita bahwa kematian datang setelah menikah, karena jomblo bukan alasan ajal untuk menunda kedatangnya. Calon pengantin itu belum pasti, calon istri sholehah itu juga belum pasti, yang pasti kita semua ini calon mati. Sering kali ku baca qoutes "biarlah do'a yang mempersatukan kita", kita di sini adalah jodoh, padahal layaknya kematian yang sudah ditentukan waktunya begitu pula pertemukan kita, tak perlu minta dipercepat atau diperlambat semua sudah Allah tentukan.

Sudah banyak kajian tentang nikah kita ikuti sehingga kajian lain jadi terlupakan. Rasanya kita lebih sibuk mempersiapkan pernikahan dan lupa mempersiapkan kematian. Bukan berarti ilmu tentang pernikahan tak penting tapi jangan lupankan ilmu lainnya.

Kita sering kecewa jika sang idaman tak menjadi pasangan hidup kita tapi kita tak pernah kecewa ataupun sedih saat al-qur'an jangan kita baca. Kita sering cemburu jika ada teman menikah tapi kita biasa biasa saja saat teman menambah hafalan al-qur'annya.

Sebenarnya untuk siapa kita menikah? Ikuti sunnah Rasulullahkan? Untuk taat kepada Allah? Banyak orang meminta dipercepat pertemuan dengan jodohnya seperti anak kecil yang meminta mainan, setelah diberikan mainan tak lama rasa bosan datang atau mungkin justru mainan telah rusak dan hancur tak karuan. Setelah mendapatkan jodoh, lupa kalau tugasnya merawat pernikahan itu untuk tetap berjuang dalam agama Allah.

Orang yang belum pernah menikah akan bilang menikah itu enak, menikah itu bukan soal kebahagian saja tapi ada perjuangan di dalamnya. Daripada habiskan waktu untuk menunggu dan memikirkan jodoh yang belum kunjung datang lebih baik kita sibukan diri ini untik mengingat kematian dan perbanyak amal kebaikan.