Kamis, 23 Februari 2017

MENGEJAR YANG TAK PASTI

Pernahkah kalian menargetkan sesuatu dalam hidup ini? pasti pernah. Setiap manusia pasti memiliki keinginan, tujuan ataupun impian begitupun aku. Ketika masih SD orangtuaku memberikan reward bagi anaknya yang bisa mendapatkan ranking 1 atau 2 atau 3 di kelas. Setiap anak memiliki keinginan yang berbeda, jika kedua saudara laki lakiku lebih suka meminta Playtasion atau semacam mobil mobilan Tamia yang sedang buming saat itu, berbeda denganku yang meminta hadiah benang atau penik pernik membuat kerajinan tangan. Yang kami capaipun berbeda, meski aku terlihat rain namun Allah memberikan kelebihan kepada kedua saudara laki lakiku, mereka hampir selalu mendapat peringkat 1 di kelas ketika SD, sedang aku mentok di peringkat 3 itupun seingatku hanya 1 kali. Orangtuaku sadar setiap anak diberikan kemampuan yang berbeda, sehingga mereka tidak mendiskrimiasikan aku. Mereka selalu berusaha memberikan sesuat dengan adil.

Kini aku bukan anak kecil yang bisa ditawari mainan untuk sebuah tujuan, reward bukan lagi orangtua yang berikan karena itu mungkin sudah tak mempan (berpengaruh). Aku melakukan sesuatu karena kesadaran diriku sendiri, aku ingin sesuatu karena aku tau itu terbaik untukku. Apakah yang aku ingin saat ini? Jika harta, bisa habis kapan saja dengan mudahnya.  Jika kedudukan, rasanya hidup tak tenang karena bawahan selalu ingin menjatuhkan. Jika popularitas, tak nyaman karena apapun yang dilakukan selalu diberitakan. Lalu apa yang harus aku inginkan? Jika aku tidak tau apa yang aku inginkan bagaimana aku bisa melakukan seuatu untuk sebuah tujuan.

Ketika SD aku ingin SMP, ketika SMP aku ingin SMA, ketika SMA aku ingin kuliah tapi setelah aku kuliah aku ingin SD lagi, rasanya enak hidup isinya hanya bermain tanpa punya masalah darimana uang didapat, makan pakai apa, belum masalah yang lain. Tapi itu tidak mungkin, waktu terus bergulir dan tak mungkin kembali, kalau begitu jika sedang kuliah aku ingin nikah saja (lho becanda tapi serius). Terus saja detik demi detik ku lalui, aku hidup layaknya oranglain pada umunya hidup. Bangun pagi dengan semangat, siang beraktivitas melakukan sesuatu yang menurutku baik, malam hari tinggallah lelah yang tersisa, terus seperti itu hari hariku selama ini. Bukan aku tak memiliki impian,aku ingin menjadi orang yang bermanfaat, aku ingin membuat orangtua bangga memiliki anak sepertiku, aku ingin masuk surga. Namun aku selalu merasa cukup dengan kehidupan ini, terlebih masalah akhirat, setan atau diriku sendiri yang membisikan dalam pikiran bahwa aku sudah lebih baik yang lain namun tidak pernah merasa cukup dengan dunia.

Ketika ada yang beribadah lebih giat, hati ini sulit diatur untuk tidak berpikiran mungkin dia riya, ini tabiat manusia selalu berprasangka buruk, perbanyak istigfar dan mengingat Allah ketika ini terjadi, amalan hati memang lebih sulit daripada amalan yang lain. Selain itu jarang sekali orang yang ingin meningkatkan ibadah ketika oranglain beribadah lebih darinya, kita pikir ibadah kan sesuai kemampuan, yang penting wajib sudah dikerjakan. Namun ketika melihat oranglain lebih sukses dalam hal dunia, rasa iri dengki mulai muncul, banting tulang demi mencapai kesuksesan melebihi orang tersebut minimal samalah dengannya. Kita mulai dibutakan dunia yang telah dilaknat Allah ini.

Sebagian manusia berusaha mengenyam pendidikan setinggi tingginya hingga harus keluar negeri, menghabiskan banyak uang hingga meninggalkan tanggungjawab keluarga, tapi tak bisa membaca al-qur'an yang menjadi pedoman seumur hidup. Sebagiannya lagi sibuk dengan perusahaannya, 24 jam lebih dalam satu dari dia habiskan untuk berpikir bagaimana mendapatkan keuntungan yang melimpah hingga lupa kapan waktu shalat wajib yang merupakan tiang agama. Sebagiannya sibuk mengatur urusan negara dan masyarakat banyak hingga lupa dengan urusan diri sendiri kepada Allah. Kita akan mati tidak akan membawa gelar S3, jabatan, dan harta, hanya kain kafan yang membalut tubuh ini, hanya amal yang menyelamatkan diri ini. Keluarga yang selalu ada saat di dunia pun telah pergi meninggalkan kita di alam kubur sendiri. Di ruangan sempit ini, malaikat mulai bertanya tentang kehidupan di duniamu, ini bukan tentang seberapa banyak harta dalam buku tabunganmu tapi seberapa banyak harta yang kau infaqkan, bukan juga tentang gelar apa yang kau dapat di dunia tapi ilmu apa yang sudah berguna bagi agama, bukan juga tentang jabatan setinggi apa yang telah kau duduki tapi seberapa bermanfaat jabatan yang Allah berikan bagi kemaslahatan umat.

Bukan berarti Allah melarang kita mencari kehidupan dunia, Allah memerintahkan kita melakukan segala hal yang baik dengan profesional termasuk urusan dunia, namun itu semua harus diniatkan untuk Allah semata. Jadilah seperti TKI yang bekerja di malasyia. TKI akan sibuk mencari uang di malasyia untuk membangun rumah di indonesia karena dia tau di malasyia hanya sementara, dia gunakan uangnya untuk hal hal yang penting saja, begitupun kita, hidup di dunia hanya sementara, kumpulkan amal untuk dapatkan tempat terbaik di akhirat yang kita akan kekal di sana. Kehidupan dunia ini juga bisa dianalogikan seperti tukang parkir yang tidak pernah marah jika ada mobil yang keluar dari tempat parkirnya karena dia tau semua kendaraan di parkirannya adalah titipan yang harus dijaga dengan baik, begitupun  harta, tahta dan keluarga merupakan titipan yang harus dijaga dengan baik, namun jika pemiliknya, Allah mengambilnya maka jangan pernah sedih atau marah. Kejarlah segala impianmu tapi jangan pernah lupa ajal datang tiba tiba dan tak menunggu kita siap atau tidak, jadi lakukan semua karena Allah semata maka insyaAllah kita akan selamat di akhirat maupun di dunia.

Rabu, 22 Februari 2017

PERJALANAN YANG DIRINDUKAN

Sudah beberapa kali aku seberangi selat sunda, bukan sekedar untuk liburan ke pulau jawa namun tuntutan pendidikan yang membawaku untuk sering melakukan perjalanan ini. Aku yang terlahir dan hidup di lampung hingga SMA, lalu setelah lulus SMA harus merantau ke pulau jawa, meninggalkan provinsi lampung yang terkenal dengan keripik pisangnya. Awalnya rindu memacu untuk selalu ingin pulang namun karena terbiasa rindu tak begitu terasa, aku mulai menemukan keluarga baru yang tak kalah seru di pulau jawa ini. Aku tak ingin bercerita tentang adaptasiku tapi lebih tentang perjalanan 24 jamku, lampung ke jogja.

Tanggal 21 februari 2017 dapat menjadi catatan pendekku, mungkin sudah berkali kali aku pulang pergi lampung-jawa tapi kali ini perjalanku cukup menarik. Aku disandingkan duduk dengan seorang ibu yang mengispirasi, mungkin lebih pantas dipanggil nenek karena umurnya sudah lebih dari 60 tahun, namanya nenek Haryani. Beliau memang bukan seorang pejabat ataupun orang hebat dimata manusia namun beliau begitu menjadi inspirasiku dengan segala kisah hidupnya.

Orangtua memang suka bercerita dan didengar, ini pelajaran pertamaku darinya. Dengan senyum yang begitu ikhlas beliau bercertia tentang tujuannya ke jawa hingga merembet ke cerita anak cucunya, aku tak bosan mendengarkan kata-katanya, hanya saja terselip bayangan kedua orangtuaku yang kelak akan sepertinya, butuh tempat cerita dan perhatian tanpa meminta harta benda dari anak anaknya.

Pelajaran yang kedua tentang kegigihan, beliau bukan orang yang beruntung menurut manusia, lahir dan besar di daerah prambanan dalam keadaan keluarga yang tak utuh, perceraian jadi pilihan kedua orangtuanya, bapaknya tak mau menyekolahnya, sehingga membuat beliau harus bekerja keras. Lulus SD beliau belajar bertani dengan diberi upah seadanya oleh tetangganya, lalu meningkat belajar berdagang, dengan uang yang sudah didapat beliau dan temannya membeli barang dari petani lalu beliau tawarkan barang tersebut di pasar. Sedikit demi sedikit uang terkumpul dan ditabung untuk membeli emas sebagai invetarisnya.

Masalah pun muncul ketika kakaknya ingin sekolah di jogja. Tekadnya begitu kuat sampai sampai saat malam jum'at kakaknya membawanya ke sebuah kuburan dan berkata "lek aku ora sekolah ngekos neng jogja gonku neng kene" (kalau aku tidak sekolah dan ngekos di jogja tempatku di sibi) sambil menunjuk kuburan. Aku masih tak mengerti dengan kata kata ini namun aku tak banyak tanya karena tak ada waktu jeda, nenek Haryani melanjutkan ceritanya. Beliau tau bahwa bapaknya sudah tak mau menyekolahkan anak anaknya sehingga beliau harus meminta tolong anggota keluarga yang lain untuk membantu kakaknya sekolah di jogja, kakaknya pun kini sukses dan tinggal bersama istrinya di kalimantan. Sayangnya nenek Haryani tak dapatkan kesempatan sekolah seperti kakaknya.

Setelah menikah, nenek Haryani dengan suaminya pindah ke lampung. Dengan semangat dan kerja kerasnya beliau berhasil menyekolahkan ke 4 anaknya sampai lulus SMK hanya dengan bercocok tanam di tanah orang ataupun berdagang di pasar, dan yang lebih hebat meski harus membantu orangtua seperti mencari makan ternak, ke ladang, namun anak-anak nenek Haryani masih tetap bisa mendapatkan beasiswa. Sedangkan aku ataupun mungkin kita sering beralasan tidak membantu orangtua karena belajar, padahal sebenarnya waktu 24 jam dalam sehari cukup untuk melakukan keduanya. Aku tak sanggup menahan kantuk, mataku pun terpejam setelah beliau berhenti bercerita.

Cerita beliau dilanjutkan saat kita di kapal, beliau bercerita bahwa beliau ketika kecil beragama khatolik karena lingkungannya banyak yang khatolik dan sering diberikan hadiah berupa baju, diajak naik mobil ke kalasan jika mengikuti kegiatan gereja hingga beliau khatam al-kitab dan pastur ke rumahnya untuk meminta izin ke nenek beliau agar beliau di babtis, tapi neneknya tidak mengizinkan. Beliau pun menikah dengan cara islam, namun agama islam yang dijalaninya masih islam KTP katanya, beliau giat bekerja hingga lupa mengaji, namun kini ketika sudah mulai menua beliau sadar kehidupan yang sesungguhnya adalah di akhirat. Saat sedang di ladang tiba waktunya mengaji atau shalat, pekerjaan beliau tinggalkan. Beliau medapatkan ketenangan yang lebih besar saat sudah memeluk agama islam dan mulai mempelajari islam dengan sungguh sungguh. Memang mengaji tak merubah si miskin menjadi si kaya tapi kekayaan itu akan dipetik di akhirat kelak itu katanya. beliau yang sudah tua saja bersemangat, apalagi kita yang muda dan memiliki pikiran dan energi lebih dari pada nenek Haryani. Ajal datang tak kenal tua atau muda, sakit atau sehat, ajal datang dengan tiba-tiba.

Aku berharap bisa bertemu beliau lagi dan aku pun tertarik menulis kisah tentangnya, mengabadikan ceritanya dalam blogku ini. semoga menginspirasi. Oh ya satu kalimat yang sering beliau ulangi dalam ceritanya "Kulo boten ngarep dadi sugeh, seng penting cukup" translite "saya tidak berharap jadi kaya yang terpenting cukup". Inilah kesederhanaan yang menjadi solusi agar syukur terasa mudah tapi ikhtiar tetap berjalan.

TENTANG WAKTU



Rasanya tak bersyukur dengan hari ini. Ku merindu hari kemarin, hari dimana dulu ku tak bersyukur seperti hari ini. Hari kemarin ingin ku ulangi, bagaikan ujian sekolah, aku ingin melakukan remedial untuk hari kemarin. Ku ingin hapus hal-hal yang harusnya tak ku perbuat dan ku perbanyak amal yang bermanfaat, tapi itu mustahil karna hari kemarin tak mungkin kembali.
Rasanya tak bersyukur dengan hari ini. Ku ingin segera esok hari, karna esok aku akan melakukan ini, itu, dan lain lain, lalu esok pun menghampiriku, namun tetap saja ku mengatakan esok esok dan esok aku akan melakukan hal tersebut. Lalu kapan? Karna aku  yang sekarang belum tentu bertemu dengan hari esok.
Rasanya tak bersyukur dengan hari ini. Apa yang telah ku lakukan hari ini? Apakah hari ini ibadahku sempurna? Apakah hari ini aku sudah bermanfaat bagi orang lain? Apakah aku hari ini sudah lebih baik dari hari kemarin? Apakah aku hari ini akan lebih buruk dari hari esok? Tak ada yang tau, tapi bukan berarti tak ada yang usaha
Rasanya tak bersyukur dengan hari ini. Ketika ada sedikit waktu, ku mengeluh dan mengatakan “andai waktuku lebih banyak pasti ku bisa berbuat banyak”. Namun ketika Allah karuniakan aku waktu luang yang tak terhitung nilainya, semuanya terbuang sia-sia dengan ku menunda-nunda pekerjaanku, ibadahku, dan amalku. Ku lebih memilih bermalas-malasan karna ku menganggap waktuku masih banyak
Rasanya tak bersyukur dengan hari ini. Sekarang adalah waktu dimana aku hidup, waktu yang menentukan hari esokku, waktu yang menjadi akibat dari sebabku di hari kemarin. Sekarang adalah waktuku untuk bersyukur, karna ku tak tau satu detik lagi masih dapat ku menikmati waktu yang sekarang.

DIBALIK SEBUAH PILIHAN



Ujian Nasional belum juga dimulai, namun para murid sudah harus menentukan pilihan universitas dan jurusan yang ingin dituju setelah lulus SMA. Menurut mitos yang beredar memilih pekerjaan dan jodoh adalah pilihan yang tersulit dalam hidup ini, karna kedua hal ini akan dijalani sepanjang sisa hidup kita, jika salah dalam memilih maka sisa hidupmu tak akan bahagia bahkan jiwa akan memberontak untuk bisa keluar dari pilihan itu lalu move on kepilihan baru hingga didapat arti sebuah kenyamanan. Buah yang saat ini kita petik merupakan hasil dari benih yang kita pilih sebelum menanamnya, karna hasil tak akan pernah mengkhiyanati sebuah pilihan. Pilihan untuk diam saja, berjalan ke kanan atau ke kiri, atau berlari lalu berhenti, semua itu akan berakhir pada sebuah tujuan sesuai keinginan ataupun tidak.
Terdengar suara sepatu pantofel mendekati ruang kelas kami yang saat itu sedang ramai atau mungkin memang selalu tak pernah sepi dengan semua gumaman 20 anak manusia yang terlahir terisolir dari dunia luar. Ya karena letak kelas kami yang diapit oleh lobi dan ruang TU serta jauh dari jangkauan kelas lain membuat kita terisolir dan memilih makan, shalat, tidur nonton TV, main PS, mengerjakan PR (ups ini PR yang baru saja di kasih ya) di ruangan kelas ini saat istirahat.
Seorang ibu cantik nan berwibawa, Bu Aisyah namanya, salah satu guru bimbingan konseling di sekolah kami, menebarkan senyum menawan sebelum masuk kelas, lalu duduk tepat di kursi guru.
“Assalamua”alaikum, selamat pagi”
“Walaikumsalam warohmatulallhi wabarokatu”
“ini ada pengumuman tentang SNMPTN undangan, setelah dilihat dari nilai rapot alhamdulillah kelas ini, semua medapatkan kesempatan untuk mendaftar SNMPTN undangan kecuali Rizal, Deni, dan Gusta. Maaf ya nak, jangan berkecil hati, kalian bertiga bisa daftar diploma yang tanpa test. Silahkan dipikirkan mau daftar mana”
Satu diantara 20 murid di kelas, yaitu aku menganggat tangan dengan wajah penuh tanya
“Kalau daftar kebidanan bisa tidak bu?”
“Kalau bisa jangan bidan atau guru ya, itu sudah sendayak koplak (terlalu banyak), sekarang itu cari jurusan yang langka agar peluang kerjanya lebih besar. Soalnya banyak sarjana yang sekarang bergelar pengangguran. Nanti coba dipikirkan lagi ya nak, kalau bisa jangan bidan ya”
Ku hanya bisa membisu, mengangguk tanda ku tak mengerti namun agar telihat menghormati. Keyakinan dan impianku tiba tiba runtuh. Harapan orangtuaku terkikis. Butir butir angan menjadi seorang bidan rasanya sudah terbawa angin kebimbangan, perkataan Bu Aisyah tak bisa dipungkiri kebenarannya. Bidan di Indonesia sudah menjamur kecuali di wilayah pelosok yang masih kental dengan budaya, mitos dan bau bau mistis.
Sebelum ini, memang ku pernah diterpa kebimbangan yang sama seoerti ini. Ibuku adalah seorang bidan, ku sangat mengaguminya meski ku tak pernah tau apa saja yang dia lakukan sebagai seorang bidan, namun hampir semua orang di dusunku Way Kekah dan dusun sekitarnya begitu menghormatinya. Dia adalah tenaga kesehatan yang pertama kali membuka praktek dan meningkatkan derajat kesehatan di dusun way kekah ini. Ku tau tentang sulitnnya perjuangannya dulu hanya lewat cerita orang orang yang ikut menyaksikan ibuku disepelekan dan tak dipercaya sebagai seorang tenaga kesehatan karna postur tubuhnya dan wajah yang masih terlihat belia, dimarahi orang pribumi asli lampung yang berwatak keras karna anaknya demam setelah diimuniasi, dan cerita pilu lainnya. Namun ibu membisu tentang itu semua, di depanku tak pernah sepatah keluhan keluar dari bibir manisnya. Oleh sebab itu ku cita-citaku dari kecil ingin menjadi seperti ibuku yaitu menjadi seorang bidan. Meski sedari kecil aku begitu takut dengan hal-hal yang berbau rumah sakit. Ketika umurku masih 2 tahun, umur dimana aku tak bisa mengingat kejadian apapun yang ku alami saat itu, tapi aku hanya mendengar cerita dari orang lain tentang aku dan keluargaku yang liburan bersama staf-staf puskesmas ke suatu danau yang tampak begitu indah (di album kenangan bapakku), danau ranau namanya. Di sana kita bermalam di sebuah penginapan yang memiliki kamar bersih dengan kasur serta nuansa kamar berwarna putih, menurut cerita ibuku di sana aku menangis dan tak mau tidur di kamar dengan berdalih bahwa kamarnya seperti kamar rawat inap di rumah sakit. Akhirnya ibuku rela menemaniku dan mendekapku saatku terlelap tidur di luar kamar dengan beralaskan tikar dan ditemani puluhan nyamuk yang haus akan darah.
Belum lagi aku dari kecil begitu takut dengan luka yang berdarah meski luka tak terasa bergitu sakit jika ku melihat ada darah, ku akan menangis histeris saat kecil seperti seorang anak yang hilang ditengah taman hiburan yang begitu ramai orang berdesak desakan layaknya antri sembako. Hingga ku dewasa seperti saat ini aku cukup sedikit pusing jika melihat darah dari lukaku ataupun luka oranglain.
Semua itu lantas tak menyurutkanku untuk menjadi seorang bidan seperti ibuku. Hingga aku pun duduk dibangku SMA, aku bisa melihat dan merasakan sebagian keletihannya saat ibuku harus bangun malam untuk berjuang bersama seseorang ibu yang rela menolak tawaran masuk surga jika dia meninggal dalam kondisi berjihad (melahirkan), demi sebuah hidup yang merepotkan untuk mendidik dan merawat anaknya. Pekerjaan ibuku tak kenal waktu, karna bayi lahir pun tak mengenal waktu lelah atau tidak, waktu malam ataupun siang. Saat kita sekeluarga pergi bersama, handphone ibuku sering bergetar yang terkadang memaksa kami untuk pulang meski itu tanggal merah maupun hari raya. Badai kembimbangan semakin kencang ketika bidan bidan yang sislih berganti ikut membantu ibuku mengeluh sulitnya mencari pekerjaan, lelahnya menjadi bidan, bahkan tak sedikit dari mereka menyesal menjadi bidan. Kini harapan itu semakin runtuh diterpa argument dari bu Aisyah, perkataannya sangat mempengaruhi pola pikirku sebagai seorang murid yang selalu setuju hampir seluruh pendapat gurunya. Telingaku serasa tertutup oleh kebimbangan, aku tak bisa mendengar dan menyimak pertanyaan yang di ajukan teman lainnya serta jawaban dari guru Bimbingan konseling itu.
“Sudah tak ada pertanyaan lagi, ibu tutup. Wasssalamua”alaikum”
“wa’alaikumsalam warohmatullahi wabarokatu, terimaksih bu guru”
Kalimat terimasih selalu kami diucapkan secara kompak setelah seseorang atau sekelompok orang berdiri didepan kelas kami untuk mengajar atau hanya sekedar memberikan informasi. Ini sudah menjadi tradisi di kelas akselerasi, konon ini inisiatif dari kakak kelas yang sampai sekarang aku tidak tau angkatan berapa yang memiliki inisiatif itu.
Sepatu pantofel itu mulai melangkah keluar ruangan bersamaan dengan itu bibir 19 murid kelasku membuka dan mulai berbincang, entah apa yang mereka bicarakan, sedang aku tetap membisu, wajahku seperti berpikir tetang suatu hal sedang pikiranku kosong. Ingin cepat menginjakan kaki di rumah untuk mendapatkan pendapat ibu dan bapak. Tanpa ridhonya aku tak akan mendapat ridho Allah, dengan murkanya aku juga mendapat murka Allah. Coba ku hapus kebimbanganku dan mulai bercengkrama dengan teman lain yang sudah terlihat mantap dengan pilihannya masing masing.
Jam dinding yang menempel di dinding kelas bagian belakang menunjukan waktu pukul 16.45 WIB, itu berarti waktu dimana para siswa diminta untuk belajar di rumah. Seperti biasa aku dengan beberapa teman yang rumahnya berjarak lumayan jauh harus melaksanakan shalat azhar dulu sebelum berniat untuk pulang karna terkadang ketika adzan magrib dikumandangkan kita masih diperjalanan atau bahkan kita masih setia berdiri di perempatan jalan menunggu angkutan sesuai tujuan kita masing masing. Seselesainya shalat semua mengambil posisi masing masing sesuai tujuannya, seorang pulang dengan tujuan wates, dua orang pulang dengan tujuan unit 2, dan aku dengan tujuan yang tak sejauh mereka, menempuh perjalnan hingga 1 jam bahkan lebih, sedang aku cukup butuh waktu 15 menit jika lanacar untuk sampai kerumah namun mobil atau angkutan dengan tujuan itu begitu jarang lewat, atau mungkin diterlintas di depan mataku namun tak mau berhenti dengan alasan tak mau menaikan penumpang anak sekolah yang ongkosnya tak seberapa. Hingga adzan magrib berkumandang, ku tetap setia berdiri di pinggir jalan dengan wajah kusam penuh kebimbangan yang mengalahkan rasa lelah karna seharian di sekolah.
“Pak, ini aku belum dapat mobil, minta tolong di jemput” sebuah pesan singkat telah ku kirim ke bapak, meski beliau sibuk bekerja namun beliau lah yang selalu menjemputku ketika ku tak mendapatkan tumpangan untuk pulang sekolah dan mengantarku ke sekolah jika ku hampir telat datang ke sekolah.
“Ya, tunggu” jawaban yang begitu singkat ini menemaniku, langit bisu dan mulai terlihat gelap menghiasi hati yang sedang dilanda kebimbangan hingga seorang laki laki datang dengan pandangan yang begitu teduh saat kaca mobil sebelah kiri mulai diturunkan, tatapan itu yang tak pernah terlewatkan dalam setiap hariku, tatapan kesabaran namun penuh ketegasan dan harapan agar aku menjadi anak yang bermanfaat bagi agama, keluarga dan Negara. Laki laki itu adalah Ummar, beliau bapak terbaik di alam semesta ini dalam versiku. Aku tak tau berapa tahun sudah laki laki itu menghabiskan waktu bersama mobil biru ini, namun yang aku tau sampai sekarang mobil ini sering membuatku mual, pusing dan muntah, ya aku masih saja mabuk perjalanan jika menaiki mobil pribadi.
Di mobil itu bibirku mulai kaku, rasanya ini bukan saatnya untuk berdiskusi, tapi jika tak sekarang pasti sesampainya di rumah ku langsung mandi shalat makan sedikit belajar dan tidur, tak ada waktu untuk berbincang. Aku yang biasa mengajukan pertanyaan tak penting hanya untuk membuat suasana tak sepi kini diam tanpa kata, dan kau yang biasanya bertanya tentang kegiatanku di sekolah hanya untuk memberikan perhatian atau memastikan tidak ada masalah, kini hanya focus memandangi jalan dengan tangan tenang mengontrol setir, hingga mataku mulai bosan dan terpejam.
Mata mulai membuka setelah mobil berhenti tepat di depan garasi, dengan kesadaran yang belum kembali penuh ku turun dari mobil dan ku masuki pintu rumah yang selalu membuatku selalu rindu memasukinya.
“assalamu’alaikum” suara yang begitu lemas membuat orang tak ingin mendengarnya, selulurh tubuhku seperti berbicara bahwa aku lelah dan butuh istrirahat
“wa’alaikumsalam, mandi dulu nduk” ibuku menyambutku dengan senyum walau sebenarnya ku tau dia lebih lelah daripadaku, tapi tanggung jawab atas perannya sebagai ibu secara harfiah membuatnya untuk selalu kuat, semangat dan sabar di depan anak anaknya. Meski kesadaranku belum penuh dan padanganku samar samar namun aku melihat tampak jelas kasihsayangnya yang tak pernah dia katakan, tanpa namun semua perilakunya membuktikan, amarahnya, perhatiannya secara tidak langsung sudah menjelaskan bahwa dia sangat menyayangi anak anaknya.
“aku shalat dulu ja bu”
Saat makan malam adalah saat yang paling tepat untuk bercerita tentang keluh kesahku di sekolah, jika yang ku ceritakan suatu kebaikanku mereka hanya diam, bukan berarti mereka acuh tapi mereka mengajarkanku agar aku tak menyombongkan diri atas apa yang ku lakukan. Ketika ku bercerita tentang hal buruk yang terjadi padaku mereka justru menyalahkanku, bukan mereka tak mendukung apa yang ku lakukan tapi mereka mengajarkanku bahwa aku tak boleh menyalahkan orang lain atas hal buruk yang menimpaku. Ketika aku bercerita tentang keluh kesahku mereka justru memarahiku dengan nasihat yang terdengar begitu bijak. Bukan mereka tak peduli padaku tapi mereka tak ingin ku menjadi orang yang tak bersyukur. Terkadang tanpa mendekteku, mereka banyak mengajarkan banyak hal padaku.
“bu, kata guruku bidan dan guru itu sudah banyak, mending cari jurusan lain yang masih langka”
“sudah banyak tapi kan memang yang diperlukan banyak”
“kelasku semuanya dapat undangan  kecuali 3 orang, aku bingung mau daftar jurusan apa habis dibilangin guruku gitu tadi”
“kalau ada ya kebidanan aja, kan kamu tinggal nerusin ibu”
Aku diam sejenak membayangkan aku menjadi bidan seperti ibuku di tempat ini, ya di desaku tercinta, “ya sudah, insyaAllah besok aku tanya guru BK ada info pendaftaran kebidanan ndak”
Kini ku semakin yakin n mantap ingin mendaftarkan diri ke jurusan kebidanan, namun keesokakan harinya
Ku temu guru BK langsung keruangannya, bersama sahabat karibku yang ingin menanyakan info tentang kedokteran hewan
“assalamu’alaikum bu”
“Wa’alaikumsalam, ada apa ini?”
Tatapanku tertuju pada sahabatku, mengharusnya untuk mulai pembicaraan terlebih dahulu
“gini, bu aku mau daftar kedokteran hewan kira kira adanya dimana saja ya?”
“wah bagus itu masih jarang yang mau jadi dokter hewan, coba ja di IPB nak”
Temanku mengangguk angguk, tampak jelas dia begitu mantap dengan pilihannya
“terus pilihan keduanya aku mau agrotecnologi UNILA saja bu”
“Ya sudah ndak apa apa” pandangan guru itu pindah kepadaku, dia menatapku dengan penuh tanya, dan aku belum berani membalas tatapannya untuk beberapa detik. Ku memaksakan bibirku untuk berucap
“bu kalau jurursan kebidanan adanya dimana?”
“ndin ndin, bidan kan sudah sedayak koplak, menjamur dimana mana, coba cari yang lain dulu”
“tapi orangtuaku mengarahkan untuk jadi bidan, aku juga pengen pekerjaan yang bisa menolong oranglain jadi sekalian ibadah bu”
“orantuamu kerjanya apa? Semua pekerjaan jika dilakukan dengan ikhlas semuanya bernilai ibadah, bukan berarti yang dikesehatan dan yang dipendidikan saja yang mendapat pahala”
“bapak kesehatan masyarakat, ibu bidan” jawabanku agak sedikit gagu
“ehmmm pantesan, gini lho din berobat itu pakai sugesti, belum tentu pasien yang sembuh dengan ibumu juga bisa sembuh denganmu. Jadi meneruskan ibumu itu tidak semudah yang dibayangkan. Kalau bisa cari jurusan yang setelah lulus itu bisa langsung kerja, kan memang tujuan utamanya kan segera dapat kerja dan tak merepokan orangtua. Bidang kesehatan itu banyak gak hanya bidan lho, kamu bis jadi analis, apoteker, fisioterapi dan lain lain, kalau memang orangtua pengennya dibidang kesehatan. Coba dipikirkan lagi, tapi semuanya terserah kamu, kamu yang mau menjalani”
“ya bu, nanti saya bicarakan sama orangtua lagi, terimaksih bu” aku dengan temanku saling berpandangan yang mengisyaratkan “ sudah? Ayo balik kekelas” lalu terucap kata “ya sudah ya bu, terimasih, assalamu’alaikum”
“walaikumsalam”
Jika kata katanya tadi membuat temanku tampak yakin, tapi sekarang kata katanya meruntuhkan kemantapanku semalam, aku mulai teobang ambing. Aku pun meninggalkan ruangan itu dengan kebimbangan, kebimbangan yang kembali hadir setelah semalam sempat pergi. Kebimbangan yang selalu datang ketika mendengar argument dari ibu guru BK, bukan berarti beliau salah dan orangtuaku benar. Argument keduany begitu benar, hanya hatiku saja yang pantas dipersalahkan karna dia telah lupa bahwa keputusan terbaik adalah dari Allah dan aku sebagai hambaNya hanya bisa memohon petunjuknya.
Di rumah yang ku lakukan bukan membicarakan apa yang guruku katakana tadi ke orangtuaku, karna ku yakin pasti orangtua punya argument untuk kontra dengan argument guruku, dan aku hanya akan terombang ambing ketika di sekolah ingin cari jurusan lain dan ketika di rumah ingin tetap menggapai citacita sebagi bidan. Waktuku hanya habis menjadi burung merpati yang mengirimkan argument antar orangtua dan guruku. Rasanya ini mempertemukan mereka dalah satu ruangan agar merka langsung berbincang tanpa harus aku jadi pernataranya.
Aku cukup membuka laptop menghubungkan dengan koneksi internet, lalu mulai bertanya pada mbah google “jurusan kesehatan yang langka”. Puluhan pilihan muncul, dan mataku tertuju pada sebuah website intitusi pendidikan kesehatan negri di Jakarta. Dalam profilnya institusi tersebut mamiliki salah satu juran yang sangat begitu asing untuk dibaca, aku tak pernah dengar tentang pekerjaan atau jurusan ini. Setelah itu ku lihat profil jurusannya, lulus pendidikan kemungkinan bisa langsung jadi PNS karna tahun sebelumnya dibutuhkan 10 orang lulusan ini namun hanya 2 orang yang mendaftar otomatis keterima jadi PNS. Jurusan eletromedik ini bekerjanya jadi kayak montir tapi yang disevice bukan mobil melainkan alat alat kesehatan. Hati mulai tertarik karna jelas jurusan kesehatan ini tak berhubungan dengan cairan merah dalam tubuh manusia yaitu darah yang begitu ku takuti.
Ku tutup laptopku dengan semangat ku keluar kamar, ku mulai melihat kekiri kekanan, mecari sesosok wanita yang ku panggil ibu, ternyata beliau masih sibuk dengan pekerjaannya. Hanya kudapati bapakku yang duduk sedang bersantai didepan televise dengan pandangan mata tertuju pada Koran ang ada ditangannya. Ku mencoba mendekat dengan wajah yang berpura pura ingin menonton TV, 5 menit sudah ku berpura pura menonton TV, dank u muali perbincangan
“Pak, aku pengen daftar jurusan eletro medic ya, habis lulus bisa langsung jadi PNS lho pak, soalnya lebih banyak yang dibutuhkan pemerintah daripada jumlah lulusannya”
“itu kerjanya ngapain?” dengan wajah tetap focus pada Koran yang begitu terbuka lebar ditangannya
“kayak benerin alat alat kesehatan di rumah sakit gitu”
“itu kan pekerjaan laki laki” Koran ditangannya diletakan diatas meja, tatapan matanya mulai terfokus padaku “bapak dan ibu kan sudah mengarakan, bapak dan ibu Cuma mau yang terbaik untuk anak anaknya, tapi semua kembali lagi ke kamu”
Tanpa sepatah katapun ku ucap, ku menunduk untuk 30 detik saja setelah bapak selesai mengatakan itu, lalu aku langsung pergi dihadapannya. Bapak pun kembali mengambil korannya
Aku tak mengerti saat itu aku begitu kecewa, apakah orangtuaku seperti yang dikatakan media, orangtua modern yang memaksaakan keinginannya pada anak dan tidak memberikan hak untuk anak memilih. Sejak itu ku memilih untuk bungkam, menyendiri di kamar dan jarang makan di rumah.
Berangkat sekolah aku yang biasanya tak pernah melangkahkan kaki keluar pintu rumah tanpa menjabat tangan kedua orangtua dengan harapan jika ku mendapat restunya maka aku juga mendapat restu Allah. Seketika pergi tanpa sepatah kata pun. Sejak SMP kami dibiasakan dengan jatah uang saku seminggu, dengan tujuan agar kami dapat merencanakan uang tersebut bisa cukup dari hari senin sampai sabtu. Sehingga hari jum’at ketika ku meninggalkan rumah tanpa berpamitan dengan orangtuaku aku masih memiliki uang saku yang telah diberikan pada hari senin.
Kekecewaanku begitu merasuk, akal sehatku mungkin butuh obat agar benar benar sehat, perasaanku begitu beku. Yang ada dibenakku hanya kemarahan kepada kalian. Sepulang sekolah ku kembali menyendiri di kamarku yang memang jauh dari jangkauan orang. Di lantai dua hanya ada kamarku dan kamar saudara laki lakiku, ibu dan bapak jarang ke lantai dua karna itu begitu menguras tenaga, hanya saja kita yang harus turun untuk sekedar kumpul dan bercanda, membicara hal yang terbilang penting namun tak sepenting kebersamaan.
2 hari berlalu dengan kebisuanku, kebekuan suasana rumah, kesendirianku di dalam kamar kecilku. Aku sebenarnya tak tega lakukan ini semua namun hatiku memberontak hingga ibu angkat bicara.
Awalnya ada sms yang masuk, sambil kubayangkan wajah ibuku kubaca pesan singkat itu
“din, kamu kenapa? Makan yuk, nanti sakit. Kamu marah sama ibu?”
Tak tertahankan lagi, air mata sudah membahasahi pipi, HP lepas dari genggaman dan tergeletak di atas kasur, ku menangis tersedu sedu tanpa sanggup membalas pesan singkat itu. Namun ku tak peduli bagaimana perasaan seorang ibu yang di diamkan oelh anaknya beberapa hari. Berkata “ah” saja dilarang oleh Allah, apalagi hingga membuatnya merasa sskit hati karna kebisuanku. Dosa itu sudah tak terpikir karna pikiran kotorku, karna kebingungan yang begitu menusuk otakku.
Pesan singkat tak mampu memecah kebisuanku, ibu pun terus berusaha dengan cara lain agar tembok kekecewaanku yang tak dia mengerti bisa hancur. Terdengar suara ibu memanggilku dari bawah tangga,
“andini, kamu kenapa nduk?”
“gak papa” dengan nada begitu datar, 2 kata singkat yang menyimpan ribuan keluh kesah
Suara langkah kaki mendekati pintu kamarku, suara ketukan yang berasal dari pintu kamarku memaksaku untuk membuka pintu, namun tangan ini tak mampu, masih tetap berpangku.
“din, kamu kenapa? Kok diemin ibu gini? Ibu salah apa?”
Sepatah kata pun tak keluar dari bibirku, hanya air mata yang menetes begitu deras
“buka pintunya din, kamu ini kenapa? Ibu ini ndak tau apa apa kok kamu diem gini?”
Aku sudah tak mampu tetap bertahan berpangku tangan, ku buka pintu kamarku dengan air mata yang membasahi pipiku
Tanpa diisyaratkan kami pun berdua duduk berdekatan dipinggir tempat tidur
“kamu kenapa?” Ibuku menatapku tepat di bola mataku yang kebanjiran air mata
Dengan sangat kaku ku gelangkan kepalaku, dengan tetesan air mata yang semakin deras, “ibu hentikan tatapan yang penuh harapan itu, aku tak sanggup menahan air mata ini jika ka uterus menatapku seperti itu” dalam hatiku bergejolak ribuan kata yang tak bisa terungkap oleh bibir
Seketika menetes pula air dari mata yang teduh dan penuh harapan itu.
“Ibu ini gak tau apa apa tapi kamu diemin gini ya ibu juga bingung. Kalau kamu ndak mau kuliah kebidanan ya bilang, jangan diemin ibu kayak gini. Ibu dan bapak cuma mengarahkan yang terbaik untuk anaknya. Kalau anaknya ndak mau ya sudah”
Tatapan matanya beralih ke arah lantai, ibuku menunduk dan meneteskan air mata
“bukan gitu, aku kasihan lihat ibu capek banget harus bangun tengah malam, mbak mbak sering cerita jadi  bidan itu susah cari kerjanya. Kemarin aku cerita sama bapak, bapak ndak terlalu nanggepin”
Kembali menatapku dan berdiri dihadapanku
“ din ibu itu ngelakuin itu semua ikhlas, kalau ikhlas itu ndak akan terasa capek. Rezeki itu sudah ada yang ngatur jangan khawatir. Ibu sudah susah payah buka praktek, kalau kamu ndak mau jadi bidan terus ibu sudah pension, yang nerusin ibu siapa?” dengan nada lirik dan tetesan air mata yang membasahi pipinya
Air mata semakin tak bisa dibendung, ku peluk erat tubuh ibuku “ya bu aku mau jadi bidan, aku saying sama ibu”
Hampir 17 tahun sudah aku hidup bersama ibuku tapi baru kali ini aku katakana aku saying padanya. Kata itu selalu terkunci dengan gembok yang diberi nama gengsi.
Rasanya aku seperti orang bodoh, bisa bisanya ku marah kepada kedua orangtuaku, mendiamkannya tanpa mereka tau alasannya ku diam. Ini bukan kali pertamanya bebrapa kali ku lakukan ini, dan ku selalu menyesal setelahnya. Aku hanya anak kecil dimata meraka, ku tak pernah bisa dewasa dihadapan mereka, orang yang paling ku sayangi.
Aku harusnya bersyukur, mereka mendukungku untuk kuliah, mungkin jika ku lahir bukan dari rahim ibuku dimasa islam sudah diakui sebagai agama yang benar mungkin aku sudah dikubur hidup hidup
Sesuai dengan yang diriwayatkan dulu pada zaman jahiliyah memiliki anak laki laki adalah suatu kemuliaan dan memiliki anak perempuan sebaliknya, itu aib keluarga. Sehingga pada kaum….. banyak terjadi bayi perempuan baru lahir langsung di kubur.
Sedang aku saat ini, walaupun aku terlahir dengan jenis kelamin perempuan, ibu dan bapak memperlakukanku sama spesialnya seperti kedua saudara laki lakiku, meski mungkin aku tak terlahir secerdas mereka. Mereka yang sejak SD sering mendapatkan peringkat pertama, sedangkan aku tak pernah masuk ranking 3 besar. Tapi orangtua mengizinkanku dan memberikan segala fasilitas yang mendukung sekolahku. Doa yang sering ku ucap saat kekhuyukanku mulai terbentuk “Ya Allah, izinkanku membuat orangtuaku bangga memiliki anak sepertiku, meski ku tak sepandai kedua saudaraku” do’a ini yang membuat pipiku basah karna air mata. Orangtua ku akan lebih bahagia dibanding diriku ketika aku mendapat kesuksesan. Sukses di sini bukan berarti memiliki penghasilan bermiliran, menjadi mahasiswa lulusan terbaik, cukup menjadi orang sesuai harapan. Aku pun pernah membuat status pada media sosial “aku ingin membuat ibu dan bapak bangga”, kementar dari bapakku cukup membuatku meneteskan air mata kebagiaan “menjadi anak yang sholeh dan berbakti kepada orangtua saja sudah cukup membanggakan bapak sama ibu”
Suasana rumah kembali netral, semua kegiatan berjalan seperti biasa, namun dengan harapan dan keyakinan yang berbeda.
Ku temui guru BP penuh dengan kemantapan, ku yakin kali ini aku tak akan memikirkan pendapatnya.
Aku ingin lulus kuliah langsung kerja jadi ndak merepotkan orangtua, aku tanyalah ke mbah google, katanya ada jurusan yang hampir setiap tahun dibutuhkan Negara yaitu tehnik eletromedik dan itu hanya ada di poltekkes Jakarta, mungkin karna aku sedikit tomboy aku ingin sekali masuk di jurusan itu. Tapi tanpa kata orangtua menanggapiku, ini mungkin hanya miss komunikasi. Beberapa hari egoku memuncak, ku kecewa marah kepada orangtuaku yang menurutku sekarang mereka tak salah. Setelah tiga hari ku marah kepada mereka, ibuku mengetuk pintu kamarku, namun aku tetap bersih kukuh tak ingin membukakan pintu, aku merasa orangtuaku terlalu memdbatasiku, suara keras ibuku menjadi lirih, aku tak sanggup mendengarnya. Ku buka pintu kamarku dengan wajah penuh dengan air mata, pembicaraan dimulai, dengan intonasi yang lembut beliau menasehatiku, kenapa engkau anakku marah kepada kami? Apakah engkau tau Ibu khawatir? Ibu dan bapak tak memaksamu untuk jadi bidan tapi jika ibu tua nanti dan pensiun apakah tempat praktek ini akan tutup begitu saja, Allah telah mengatur rezeki kita” Suara lembutnya berbaur dengan tetesan air mata, membuatku langsung menangis di atas pangkuannya, ku peluk dia yang duduk di kasurku. “ibu, maafkan aku, aku hanya kasihan melihat ibu sering bangun malam, ya aku mau jadi bidan, aku sayang ibu”.
“jika andini ikhlas maka semuanya kan terasa ringan” Suara lembut itu yang jarang terdengar kembali menenangkanku, menahan segala amarahku sebelumnya, menyatukan reruntuhan harapan yang telah hancur berkeping keping. Dalam hatiku ku mulai susun tekat terkuat “aku akan jadi bidan lebih dari ibu, minimal seperti ibu. Aku akan mengeringkan air mata ibu dan mengubahnya dengan senyum bangga melihatku berjuang membantu melahirkan bayi ke dunia dengan ikhlas seperti yang ibu lakukan sampai saat ini”
Suasana kembali seperti biasanya, canda gurau mulai ramai menghiasi setiap sudut ruang rumah kita. Rasanya tak pernah terjadi perangdingin, badai berlalu begitu saja, air mata kesedihan telah kering berganti senyum dan tawa yang terlukis pada bibir setiap anggota keluarga kami. Sudah tak ada kebimbangan yang bersarang pada diri ini.

Minggu, 19 Februari 2017

FILOSOFI MAWAR

Jika hampir seluruh orang suka mawar tidak denganku dahulu, aku sangat tidak menyukainya karena baunya. Aku pernah mabuk kendaaran di waktu aku masih kecil karena membawa mawar ke dalam mobil dan baunya membuatku pusing hingga ku harus mengeluarkan seisi perut. Selain mawar aku tidak suka segala hal yang berbau wangi yang menyengat.

Kini semua berbalik 180 derajat, aku begitu mengagumi bunga yang banyak memiliki duri ini. Ternyata tak semua bunga mawar wangi, tak semua sama, banyak jenisnya yang jelas semua mawar berduri. Ingin ku berikan sajak sederhana untukmu mawar


Mawar
Ku pandangi rupamu
Mahkotamu yang bertumpuk
Sungguh menawan
Seakan menunjukan
Sesuatu yang bersatu
Akan menhasilkan kedamaian

Durimu yang tajam sebagai pelindung diri
Menghadap ke arah bumi
Seakan mengajarkan pada diri ini
Tak boleh sombong di dunia fana ini
Meski kaya, kuat dan pandai
Tetaplah kita ini hanya hamba

Tak hanya duri, daunmu juga melindungi
Dengan sisi yang bergerigi
Membuat orang enggan memiliki
Hanya dia yang bersungguh sungguh berhasil memiliki
Seperti seorang muslimah
Pakaian yang sesuai syarih
Tidak telihat menarik
Tapi bisa melindungi dari orang jahat
Dan hanya lelaki sholeh yang bisa mendapatkannya

Tanpa duri mungkin kau tak akan dikagumi
Layaknya bunga dipinggir jalan
Jangankan dikagumi, yang ada justru dibasmi
Durilah yang membuatmu tetap indah

Harummu semerbak
Membuat orang ingin mendekat
Layaknya wanita sholehah
Tanpa kata, kebaikannya sudah tercium

Sajakku memang tak indah tapi setidaknya sajakku tak merusak keindahanmu. Tak ada yang tak sempurna dari ciptaan Nya. Ku harap ku dapat jadi mawar ditepi jurang yang gelap. Tak terlihat indah dimata manusia karena gelap namun sesungguhnya tetap indah disisi Allah. Tak sembarangan orang yang bisa mendekati dan memiliki karena rintangannya jurang yang memiliki resiko tinggi.

Sabtu, 18 Februari 2017

INDAHNYA MUSIBAH

Tak ada manusia yang hidup tanpa masalah karena selama jantung yang berdetak, dia akan memompa ujian sehingga mengalir dalam darah. Tanpa adanya masalah otak kita akan lemah layaknya pisau yang tak pernah diasah, syukuri masalah yang ada maka Allah akan berikan solusinya.

"Orang-orang yang hidup senang (didunia, jarang terkena musibah), kelak pada hari kiamat menginginkan kulitnya dipotong potong ketika di dunia, karena mereka melihat betapa besarnya pahala orang-orang yang tertimpa cobaan di dunia" (HR. Baihaqi: 6791, dinyatakan Shahih oleh Albani, lihat ash-Shahohah: 2206)

Allah menggantikan segala deritamu dengan nikmat
Segala lukamu dengan kesembuhan
Segala kesulitanmu dengan kemudahan
Segala rintihmu dengan kebahagiaan
Segala tangismu dengan tawa
Segala dukamu dengan suka
Dan kelak semua kenikmatan itu akan ditambah dengan memandang wajah Allah jalla jalauhu
(Ustadz Syafiq Basalamah)

Dari 25 nabi dan rasul yang wajib kita ketahui hampir seluruhnya menderita kemiskinan, hidup penuh cobaan di dunia demi untuk mendapatkan kebaikan di akhirat. Ujian nabi dan rasul lebih dari kisah protagonis yang selalu dijahati oleh antagonis dalam sinetron atau film buatan indonesia, bayangkan saja nabi ayyub yang sakit kehilangan harta dan keluarga bertahun tahun, nabi ibrahim tak kunjung dikaruniai keturunan, dimusuhi hingga dibakar, nabi muhammad selama 40 tahun mendapat kepercayaan namun ketika diberi wahyu sebagai rasul, Rasulullah dibenci dan berusaha dihabisi. Namun dalam setiap musibah itu ada pertolongan Allah selain itu musibah disertai taqwa membawa kemulian di sisi Allah. Maka berbahagialah bagi orang orang yang mendapat musibah yang bisa mendekatkan diri kepada Allah.

Namun jika musibah menjauhkan kepada Allah maka itu namanya azab. Ini bukan tentang musibah atau nikmat tetapi apakah keduanya bisa mendekatkan kepada Allah atau tidak.